Instagram Uji Coba Video Panjang hingga 90 Menit, Siap Tantang YouTube

Wait 5 sec.

Instagram IGTV kini bisa tayangkan video landscape. Foto: InstagramInstagram sedang menguji format video baru bernama Features. Format ini memungkinkan kreator membagikan video dengan durasi hingga 90 menit.Langkah tersebut menandai perubahan strategi Instagram setelah bertahun-tahun platform media sosial berlomba mengembangkan video berdurasi pendek. Bahkan, LinkedIn pun sempat bereksperimen dengan fitur video menyerupai TikTok.Konten video vertikal berdurasi pendek memang mendominasi internet sepanjang dekade 2020-an. Namun, kreator yang membuat konten tersebut belum tentu memperoleh penghasilan langsung dari platform seperti Instagram.Platform milik Meta itu memiliki sejumlah fitur monetisasi, seperti langganan. Meski begitu, Instagram umumnya tidak membayar kreator berdasarkan jumlah penayangan video.Head of Instagram, Adam Mosseri, menjelaskan kreator bisa memperoleh penghasilan melalui tiga sumber, yakni platform, penggemar, dan merek. Ia mengatakan sebagian besar penghasilan kreator di Instagram saat ini masih berasal dari kerja sama dengan brand.“Platform bisa membayar Anda secara langsung, penggemar bisa membayar Anda, dan merek juga bisa membayar Anda,” kata Mosseri dalam wawancara di The Colin and Samir Show, program yang membahas ekonomi kreator.“Untuk saat ini, di Instagram, sebagian besar penghasilan kreator terutama berasal dari merek. Ada juga yang mendapat penghasilan dari penggemar. Kami masih memiliki program berbasis performa dalam skala kecil, tetapi pengeluaran kami jauh lebih besar daripada pendapatan yang kembali kami peroleh. Karena itu, memperluas program tersebut belum masuk akal karena kami hanya menghabiskan modal.”Model pembayaran YouTube lebih sederhana. Platform tersebut menayangkan iklan di video, sementara kreator YouTube Partner Program memperoleh 55% dari pendapatan iklan yang dihasilkan video mereka.Skema ini menghasilkan pendapatan dalam jumlah besar. Tahun lalu, YouTube menyatakan telah membayarkan lebih dari 100 miliar dolar AS kepada kreator, artis, dan perusahaan media selama empat tahun sebelumnya.Instagram dan TikTok belum berhasil meniru model bisnis YouTube melalui konten video pendek. Format tersebut lebih sulit dimonetisasi dibandingkan video berdurasi panjang karena menyediakan lebih sedikit ruang untuk menempatkan iklan. Akibatnya, banyak kreator memandang akun Instagram dan TikTok sebagai sarana promosi untuk kanal YouTube mereka, bukan sebagai sumber pendapatan yang signifikan.Instagram Kembali Dorong Video Berdurasi PanjangDorongan Instagram terhadap video berdurasi panjang bukan hal baru. Delapan tahun lalu, platform tersebut pernah menghadirkan IGTV, layanan video panjang yang kini sudah dihentikan.Kali ini, Instagram kembali membuka peluang bagi kreator untuk mengunggah video berdurasi lebih panjang. Perusahaan induknya, Meta, yang memperoleh sebagian besar pendapatannya dari iklan, berpotensi menayangkan iklan di dalam video-video tersebut.Jika Meta benar-benar menerapkan iklan pada video panjang Instagram, apakah platform itu akhirnya bisa bersaing secara langsung dengan YouTube Partner Program dalam memberikan penghasilan kepada kreator?Dilansir TechCrunch, juru bicara Meta mengatakan bahwa perusahaan belum bisa mengungkap model monetisasi jangka panjang untuk fitur tersebut.“Masih terlalu dini untuk membagikan model monetisasi jangka panjang, tetapi kami sedang menjajaki berbagai cara agar kreator dapat memperoleh penghasilan dari merek, penggemar, dan Instagram, termasuk melalui insentif berbasis performa,” kata juru bicara Meta.Seiring waktu, kami meyakini akan ada manfaat yang terus bertambah bagi kreator untuk menceritakan kisah baru, menjangkau audiens baru, dan menemukan mitra baru. Hal ini seharusnya membuka banyak peluang monetisasi.”- Juru Bicara Meta -Ilsutrasi melihat instagram. Foto: ShutterstockPernyataan tersebut belum memberikan gambaran pasti mengenai skema pembayaran yang akan diterapkan Instagram. Namun, Meta juga tidak menutup kemungkinan untuk mengembangkan sistem monetisasi baru. Dalam video pengumumannya, Mosseri menjelaskan alasan Instagram kembali mengadopsi video berdurasi panjang setelah menghentikan IGTV.“Untuk waktu yang lama, saya menentang kehadiran video berdurasi panjang di Instagram,” kata Mosseri.Ia menjelaskan bahwa konten berdurasi pendek, seperti Reels, lebih banyak mendorong pengguna untuk membagikan konten dan mengirim pesan langsung atau DM. Namun, Wakil Presiden Produk Instagram, Tessa Lyons, yang sejak awal mendorong perubahan ini, akhirnya berhasil meyakinkan Mosseri untuk kembali mencoba format video panjang.“Reels akan tetap menjadi bagian inti dari Instagram. Namun, ketika Anda ingin mengenal lebih jauh kreator yang Anda sukai dan konten yang mereka buat, Anda seharusnya bisa melakukannya di Instagram,” kata Lyons.Dengan kata lain, Instagram ingin mempertahankan penggemar di platformnya sendiri agar mereka bisa menikmati konten pendek maupun panjang dari kreator yang sama, alih-alih berpindah ke YouTube.Instagram Uji Fitur Baru di Brasil dan ASUntuk mendukung strategi tersebut, Instagram juga menguji fitur bernama Clips as Reels. Fitur ini memungkinkan kreator membuat Reels dari video panjang yang mereka unggah. Reels tersebut kemudian mengarahkan penonton ke video berdurasi panjang yang menjadi sumbernya.Penonton juga dapat menyimpan video panjang tersebut untuk dikirim dan ditonton melalui aplikasi Instagram di televisi. Instagram saat ini menguji fitur Features dan Clips as Reels di Brasil. Perusahaan akan memperluas pengujian ke Amerika Serikat dalam skala terbatas.Selain itu, Instagram juga sedang mengembangkan fitur search konten yang lebih baik untuk video Live. Platform tersebut menyiapkan bagian khusus di profil kreator untuk menampilkan Reels episodik, yakni rangkaian Reels yang saling terhubung, serupa dengan fitur daftar putar di TikTok.Mosseri mengatakan Instagram ingin mengembangkan hubungan yang saling mendukung antara video pendek dan video panjang.“Hal yang sedang dikerjakan tim dan ingin kami bagikan kepada Anda adalah upaya untuk membuat video berdurasi pendek dan panjang bisa saling melengkapi,” kata Mosseri.“Kami akan mencoba mendukung berbagai format ini, baik di aplikasi seluler maupun aplikasi TV. Saya rasa perlu waktu untuk menyempurnakannya, tetapi saya sangat antusias dengan hal ini dan kami berkomitmen untuk mengembangkannya dalam jangka panjang,” tuturnya.