(Kementerian PU)• Tanggul laut Jakarta justru mempersempit ruang gerak orang muda pesisir.• Orang muda melawan masalah dengan bergembira dan saling berbagi.• Melibatkan orang muda perlu diawali dengan membuat ruang nyaman mereka bercerita.“Tiap sore kami mengangkat solar untuk melaut pada malam harinya,” keluh Azmi (bukan nama sebenarnya), anak seorang nelayan di Kamal Muara, Penjaringan, Jakarta Utara. Keluhannya merujuk ke kolam retensi—yang seharusnya berguna untuk meredam banjir rob—malah menjauhkan akses mereka ke laut.Kisah Azmi merupakan salah satu temuan pengamatan kami terkait orang muda di Muara Angke dan Kamal Muara, Jakarta Utara. Kami ingin memahami bagaimana mereka melihat infrastruktur adaptasi iklim (seperti kolam retensi), serta bagaimana menghadapi dampak perubahan iklim di lingkungan mereka.Makna infrastruktur bagi mereka bukan hanya soal seberapa baik bangunan tersebut berfungsi, tetapi juga dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari masyarakat pesisir.Infrastruktur memang dapat membantu mengurangi kerusakan akibat perubahan iklim. Namun, kita juga perlu mempertimbangkan dampak pembangunan tanggul laut terhadap masyarakat, terutama generasi muda.Kerentanan orang muda dalam infrastuktur iklimDi Muara Angke, Jakarta Utara, orang muda menghadapi banjir rob akibat penurunan muka tanah dan kenaikan muka air laut. Kondisi ini mengganggu aktivitas sehari-hari mereka.Sayangnya, mereka belum mendapat informasi yang cukup tentang penyebab banjir rob. Padahal, masalah ini dapat memperburuk lingkungan tempat tinggal dan akses air bersih warga pesisir. Rumah mereka juga semakin tidak layak karena sering terendam air. Baca juga: Perubahan iklim sebabkan banyak ‘bedol desa’ di Pantura, tapi kebijakan perlindungan warga belum tersedia Idealnya, pembangunan tanggul dan kolam retensi di Kamal Muara dapat mengurangi risiko banjir rob menggenangi rumah dan lingkungan mereka. Kenyataannya, kami justru menemukan keduanya justru menjadi sumber kekerasan baru—salah satunya karena suara mereka tidak didengarkan. Tanggul dan kolam retensi menghilangkan tempat berkumpul orang muda. Infrastruktur yang dibangun sejak 2024 itu juga membuat akses warga ke laut semakin sulit, sehingga orang tua mereka kesulitan mencari nafkah.Akibatnya, nelayan semakin terbebani di tengah cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi.Sayangnya, orang muda masih terpinggirkanPembangunan yang tidak adil berakar pada kebiasaan kita mengabaikan pendapat orang muda, padahal mereka juga memiliki pandangan dan harapan tentang lingkungan tempat tinggalnya.Kita mungkin menganggap orang muda penting, tetapi masih sering kesulitan memahami cara melibatkan mereka secara bermakna dalam kebijakan dan program adaptasi perubahan iklim. Baca juga: Riset: standar pemerintah untuk “anak muda yang ideal” buta kesenjangan dan minim dukungan negara Salah satu cara yang kerap digunakan adalah mengundang mereka ke forum diskusi. Namun, mereka justru cenderung irit bicara karena belum merasa nyaman menyampaikan pendapat.Melibatkan orang muda dalam perencanaan pembangunan mungkin masih menjadi hal baru. Karena itu, kita perlu mencari cara agar diskusi dengan mereka lebih bermakna.Berdasarkan pengalaman kami, orang muda dapat lebih terlibat jika diajak berkegiatan sesuai minat mereka.Dalam kegiatan photovoice kami di Jakarta Utara pada 2024–2025, misalnya. Mereka terlihat antusias saat mengambil foto dan membicarakan hasilnya. Kegiatan ini membantu mereka merasa nyaman untuk bercerita tentang lingkungan sekitar.Melihat dari kacamata orang mudaOrang muda pesisir yang kami amati juga menunjukkan kepedulian terhadap keluarga, teman, dan tetangga.Sebagai contoh, mereka merasa prihatin melihat dampak tanggul laut terhadap kelompok rentan, seperti lansia dan janda, yang banyak bekerja mengupas kerang hijau. Karena posisi tanggul cukup tinggi, tempat pengupasan kerang juga harus dibuat lebih tinggi.“Kasihan mereka (para pengupas kerang), tempat pengupasannya terlalu tinggi, bahaya buat mereka,” ujar salah seorang pemuda.Orang muda juga membutuhkan ruang bermain dan berkumpul. Di Kamal Muara, mereka menjadikan pos ronda sebagai tempat untuk bermain, mengobrol, dan berkegiatan bersama.Karena itu, infrastruktur adaptasi iklim tidak cukup hanya dirancang untuk menghadapi banjir dan kenaikan muka laut. Pembangunan juga perlu mempertimbangkan ruang yang penting bagi kehidupan warga, termasuk untuk bekerja, beribadah, berkumpul, bermain, dan menjalin hubungan sosial.Tak semua tentang kehilanganPengamatan kami juga menemukan sisi lain: orang muda berusaha menemukan kegembiraan di tengah kesulitan akibat banjir rob.Saat diminta memotret tempat yang menyenangkan di kampung mereka, sejumlah orang muda memilih sebuah jalan bernama “Gang Eceng”.Dalam sesi diskusi foto, mereka menceritakan bahwa Gang Eceng berubah menjadi arena waterboom saat rob datang. Orang muda memanfaatkan aliran air yang muncul akibat rob dengan bermain menggunakan papan busa.“Daripada kita bengong mau ngapain, yaudah kita main aja,” demikian penjelasan salah seorang pemuda di Muara Angke ketika situasi banjir.Kami melihat kegembiraan ini sebagai bentuk perlawanan yang muncul dalam kehidupan sehari-hari.Bermain air saat rob datang menjadi cara mereka menghadapi gangguan yang ditimbulkan banjir. Sepatu sekolah yang basah, aktivitas yang terhambat, dan kekhawatiran akan datangnya rob merupakan bagian dari pengalaman mereka.Namun, mereka tidak ingin hanya dipandang sebagai korban yang menunggu bantuan. Mereka berusaha merebut kembali ruang dan kegembiraan, meski hidup di lingkungan yang berisiko.Mengevaluasi peran orang mudaIndonesia berencana membangun tanggul laut sepanjang 500 km di pantai utara Jawa untuk mengurangi dampak perubahan iklim.Namun, apakah orang muda benar-benar dilibatkan dalam rencana tersebut? Pertanyaan ini perlu menjadi bahan evaluasi pemerintah sebelum tanggul dibangun lebih massal.Mendengarkan suara orang muda penting untuk memahami harapan dan cara mereka menghadapi ketidakpastian, sekaligus mengetahui hal-hal yang mereka khawatirkan. Baca juga: Jakarta akan tenggelam pada 2050: mengapa Kota Laut bisa menjadi solusi Arif Budi Darmawan terafiliasi dengan Resilience Development Initiative. Ia berkolaborasi dengan King's College London dalam hibah kolaborasi dari British Academy dalam "The Sinking City Project".Muhammad Asa terafiliasi dengan Resilience Development Initiative. Ia berkolaborasi dengan King's College London dalam hibah kolaborasi dari British Academy dalam "The Sinking CIty Project".