Volvo 265 GLE. Foto: Alvian Yoga Yulianto/kumparanMasyarakat mungkin sudah tidak asing lagi dengan mobil Volvo yang dijuluki sebagai 'Tank Swedia'. Istilah itu sering terbukti pada durabilitas dan fitur keselamatan yang dimiliki Volvo dalam video demonstrasi atau insiden kecelakaan di jalan raya.Oddo, pemilik bengkel spesialis Volvo Vota Motor, mengaku sepakat dengan rumor tersebut. Menurutnya, julukan itu bermula dari perhatian mobil Volvo pada sistem keselamatan, seperti sabuk pengaman tiga titik dan rangka konstruksi monokok pada era 1970-an, pionir pada zamannya.“Monokok itu bukan sasis yang terpisah dari bodi. Kalau truk, sasis dan roda dibuat dulu, lalu bodi dipasang belakangan. Di Volvo lawas, bodi ini sekaligus sasis, jadi satu kesatuan mobil adalah sasis dan itu yang bikin kuat,” ujar Oddo saat ditemui kumparan di kawasan Antasari, Jakarta Selatan, belum lama ini.Volvo S90 Executive. Foto: Alvian Yoga Yulianto/kumparanOddo menjelaskan, konstruksi monokok sejatinya punya konsekuensi pada perawatan. Bila bagian vital seperti dek bawah keropos, struktur bodi ikut berubah, pintu bisa susah ditutup karena bodi mulai miring.Pada Volvo tua di bawah tahun 2000-an, bagian ruang mesin dirancang menekuk saat tabrakan agar benturan teredam. Ia mengungkapkan, bumper Volvo lawas umumnya juga berbahan aluminium tebal serta disematkan shock breaker sejak sekitar 56 tahun lalu.“Pintu Volvo sudah memakai palang besi untuk menahan tabrakan dari samping. Mobil lain di eranya kebanyakan hanya punya bagian dalam pintu yang kosong dengan engkol kaca. Pilar A, B, dan C juga dibuat jauh lebih kuat supaya kalau mobil terbalik, tiangnya tetap utuh dan penumpang tidak terjepit,” terangnya.Saat membongkar Volvo yang sudah tidak terpakai, Oddo kerap menemukan fitur yang baru terlihat setelah bodi terbuka. Selain shock breaker, ternyata ada styrofoam yang turut dipasang di balik bumper.Volvo S80 dan 240 GLE. Foto: Alvian Yoga Yulianto/kumparan“Zaman dulu Volvo disebut tank karena bodinya berat. Sekarang keselamatan lebih mengandalkan teknologi karena sudah banyak riset, jadi tidak perlu lagi memakai besi tebal. Itu sebabnya orang bilang kalau Volvo menabrak mobil lain, mobil lain yang hancur,” lanjut dia.Cerita yang paling melekat bagi Oddo datang dari seorang konsumen di bengkelnya. Pelanggan itu mengalami kecelakaan di kawasan Brawijaya, Jakarta Selatan, setelah mengantuk hingga tertidur dan menabrak separator jalan.Ia bercerita, kaki-kaki mobil tersebut patah dan bodi depan melengkung hingga tidak bisa diperbaiki sama sekali. Pengemudi itu selamat dan berjalan kaki dari lokasi kejadian ke bengkel Oddo dalam jarak sekitar 1,6 kilometer.“Dia datang masih segar. Dia bilang mobilnya kecelakaan dan setelah ini mau beli Volvo lagi. Saya tanya kenapa, jawabannya dia masih hidup karena pakai Volvo. Waktu kejadian dia tidak luka sama sekali, sedangkan kondisi mobilnya sudah parah. Itu ekstrem, Volvo kaki-kakinya kuat, tapi itu bisa patah,” tutup Oddo.