Dampak karhutla berantai dan meluas: Mencemari sungai hingga isi piring kita

Wait 5 sec.

• Hujan pascakarhutla membawa sisa pembakaran dan polutan berbahaya ke sungai hingga laut.• Tumpukan abu bisa menyebabkan kematian massal ikan ataupun meracuninya dan terbawa ke manusia.• Pemantauan dampak karhutla perlu mencakup kualitas air dan kesehatan rantai makanan.Ungkapan ‘hujan membawa berkah’ mungkin sering kita dengar ketika akhirnya hujan mengguyur tanah gambut, membersihkan langit dari asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).Sepanjang Januari - September 2026, karhutla diperkirakan telah menghanguskan area seluas 1,91 juta hektare (setara 29 kali lipat luas Jakarta).Apakah petaka kebakaran ini benar-benar selesai saat api padam dan asap menghilang? Ke mana perginya abu dari sisa pembakaran itu? Apakah abu ini menjadi berkah atau malah memicu pencemaran lanjutan? Jawabannya mungkin ada pada aliran abu di sungai yang mengalir ke laut. Aliran abu inilah yang menjadikan hujan belum tentu membawa berkah di tempat-tempat tertentu.Mengetahui jawaban ini amat krusial bagi kita, terutama yang menggantungkan hidup di perairan.Bagaimana karhutla mencemari perairan?Kita kerap menghubungkan karhutla dengan polusi udara yang datang dari kepulan asap hasil terbakarnya pohon maupun gambut. Padahal, partikel asap juga dapat turun ke daratan ataupun perairan.Asap membawa partikel halus yang disebut dengan particulate matter 2,5 (PM 2,5). PM 2,5 berukuran 30 kali lebih kecil dibandingkan diameter rambut kita. Lebih dari 70% penyusun PM 2,5 adalah bahan organik berupa karbon, sementara sisanya adalah senyawa anorganik seperti nitrat, amonium dan beberapa jenis logam.Hujan kemudian menurunkan kembali partikel-partikel ini ke daratan dan dapat terbawa masuk ke perairan. Proses ini bernama atmospheric deposition. Baca juga: Bahaya hujan mikroplastik: Apa yang perlu masyarakat waspadai? Selain itu, aliran air hujan juga dapat membawa material hasil pembakaran di tanah yang sudah berubah manjadi senyawa beracun, seperti polycyclic aromatic hydrocarbon (PAHs) dan sejumlah logam yang dapat menyebabkan peradangan hingga kanker.Tanah gambut yang terbakar hingga 300°C juga lebih mudah melepaskan karbon dan unsur hara saat tersapu air hujan karena karakternya sudah menolak air (hidrofobik). Air yang tidak terserap lebih cepat mengalir kembali ke danau dan sungai hingga laut. Ini bukanlah teori belaka. Setelah karhutla besar 2015, riset mendapati penurunan kadar pH sungai Sebangau di Kalimantan Tengah—dari 3,88 sebelum kebakaran menjadi 3,20 setelah kebakaran. Ini membuktikan karhutla berhubungan dengan peningkatan keasaman air hingga lima kali lipat.Selain itu, penelitian di Singapura menunjukan bahwa selama karhutla di Sumatra dan Kalimantan tahun 2006, konsentrasi nitrogen dan fosfor dalam partikel udara dan air hujan meningkat sekitar 3–8 kali lipat dibandingkan kondisi tanpa kabut asap. Baca juga: Kredibilitas Indonesia diuji saat bencana dan asap karhutla melintasi batas negara Dampak yang lebih ekstrem juga pernah terjadi di Sungai Klamath, California, Amerika Serikat (AS). Pada Agustus 2022, ketika api berkobar di Taman Nasional Klamath, hujan deras mengguyur kawasan terbakar lalu mengalirkan lumpur, sedimen, serta sisa pembakaran ke sungai. Peristiwa tersebut menyebabkan air keruh luar biasa, disertai penurunan oksigen terlarut hingga mencapai 0 mg/L selama total 5,25 jam.Kematian dan keracunan ikan akibat karhutlaUnsur hara dalam jumlah besar yang masuk ke badan air menyebabkan eutrofikasi (pencemaran air akibat nutrisi berlebih dalam air) dan ledakan fitoplankton (algal-bloom).Ledakan fitoplankton dapat menyedot oksigen yang terjadi akibat proses penguraian dari mikroorganisme pemakan bangkai alga ini. Oksigen minim berefek mematikan bagi ikan-ikan dan ekosistem laut.Fenomena ini pernah terjadi pada 1997, ketika kebakaran hutan besar di Sumatra diduga turut memicu ledakan fitoplankton di perairan Kepulauan Mentawai. Penelitian Abram dan rekan-rekannya (2003) menunjukkan bahwa deposisi zat besi dari asap kebakaran, bersamaan dengan naiknya air laut kaya nutrient ke permukaan (upwelling), diduga memicu ledakan fitoplankton yang menyebabkan penurunan oksigen terlarut hingga berujung pada kematian massal terumbu karang dan ikan.Dampaknya bahkan berpotensi meluas hingga ribuan kilometer. Penelitian Li dan rekan-rekannya (2020) menemukan jejak geokimia yang konsisten dengan material kebakaran 1997 pada kerangka terumbu karang di Laut Cina Selatan, menunjukkan bahwa pengaruh kebakaran terhadap lingkungan laut dapat berlangsung hingga sekitar satu tahun.Kematian massal ikan juga dapat terjadi akibat larutnya material sisa karhutla di sungai yang menurunkan kadar oksigen dalam air. Di sungai Klamath, kejadian ini menyebabkan 10 ribuan ikan mengambang.Ada pula penelitian di kawasan gambut Sebangau yang menunjukan penurunan hingga 78% hasil tangkapan ikan setelah karhutla besar 2015. Temuan ini menunjukkan karhutla berefek luar biasa pada penghidupan dan sumber pangan masyarakat, khususnya bagi 66 ribu penduduk yang bergantung pada sungai Sebangau.Selain itu, penelitian di Kanada menemukan bahwa setelah kebakaran hutan, akumulasi merkuri dalam tubuh ikan di Danau Moab meningkat hingga lima kali lipat. Merkuri merupakan logam berat yang dalam kadar tertentu bisa merusak ginjal dan paru-paru.Sementara itu, riset pascakebakaran di Colorado, AS, pada 2018 menemukan akumulasi logam seperti aluminium, nikel, besi, dan timbal pada invertebrata air. Hal ini menunjukkan bahwa dampak kebakaran berpotensi merambat hingga ke rantai makanan perairan, sehingga menimbulkan risiko terhadap keamanan ikan yang akhirnya tersaji di meja makan kita. Baca juga: Kasus ISPA meroket: Asap karhutla jadi ancaman senyap di daerah yang jauh dari pusat kebakaran Penanganan karhutla dibarengi pemantauan lengkapKarhutla merupakan petaka berulang yang terjadi terutama saat musim kemarau. Luasnya area terbakar semestinya menjadi alarm kuat untuk memperketat upaya pemantauan lingkungan. Sebab, dengan jumlah area terbakar seluas itu, dampak yang ditimbulkan pun akan sangat besar dan multidimensi.Pemantauan sebaiknya diperluas tidak hanya meliputi jumlah titik panas, luas lahan terbakar, konsentrasi polutan udara, dan dampaknya terhadap kesehatan manusia. Kita juga perlu memperhatikan kondisi sungai dan ekosistem perairan yang terhubung dengan kawasan terbakar. Ada tiga langkah penting dalam pemantauan kualitas perairan pascakarhutla.Pertama, memperluas pemantauan kualitas air di kawasan rawan karhutla. Pengukuran tidak hanya mencakup parameter dasar seperti pH, suhu, oksigen terlarut, dan kekeruhan, tetapi juga kandungan nutrien serta kontaminan tertentu sesuai karakteristik daerah yang terbakar.Kedua, memperhatikan waktu pemantauan. Pengambilan sampel air sebelum dan setelah hujan dapat membantu mengidentifikasi perubahan kualitas air yang mungkin tidak terdeteksi melalui pemantauan rutin. Perbandingan dengan lokasi yang tidak terdampak kebakaran juga diperlukan sebagai pembanding.Ketiga, menghubungkan pemantauan kualitas air dengan kondisi perikanan dan masyarakat. Informasi mengenai perubahan hasil tangkapan, kondisi ikan, serta pengamatan masyarakat setempat dapat melengkapi data ilmiah untuk mengidentifikasi gangguan ekosistem.Pada akhirnya, hujan tetap menjadi berkah yang sangat dinantikan ketika karhutla melanda. Namun, kita juga perlu memahami bahwa sebagian dampak kebakaran dapat berpindah dari daratan menuju perairan bersama aliran air hujan. Rega Permana tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas.