Tuduhan musik ‘satanik’: Pergeseran makna atas simbol artistik

Wait 5 sec.

Pernahkah kamu mengunggah rekaman lagu yang diputar secara terbalik? Atau menampilkan pose menutup satu mata dalam video klip? Atau coba pasang logo pentagram di atas panggung festival. Niscaya kolom komentar akan dipenuhi dengan tuduhan konspirasi satanis.Mengapa imajinasi kolektif kita begitu cepat mengaitkan estetika gelap dan simbol artistik dengan konspirasi pemujaan iblis?Dalam episode podcast SuarAkademia kali ini, kami mengajak peneliti musik sekaligus kandidat doktor dari University of Melbourne, Rayhan SUdrajat, untuk membedah fenomena ini dari kacamata etnomusikologi, sosiologi, dan juga dinamika industri kreatif.Tuduhan satanisme dalam musik sejatinya bukanlah hal baru, tapi polanya mengalami pergeseran. Jika dulu stigma tersebut melekat erat pada band metal ekstrem seperti Behemoth atau Mayhem, kini sorotan serupa malah kerap menyasar bintang pop seperti Lady Gaga, Jennie, hingga musisi lokal seperti Hindia dan Isyana Sarasvati.Kehadiran video musik dan platform visual membuat karya tidak lagi dinikmati secara audio saja, melainkan hadir bersama simbol-simbol visual yang membuka pintu tafsir bagi audiens.Menggunakan sudut pandang semiotika, Rayhan percaya bahwa sebuah simbol tidak pernah lahir di ruang hampa. Lambang tengkorak, misalnya, dapat dimaknai sebagai estetika horor dan pemberontakan dalam panggung metal, tapi bisa juga berarti penghormatan terhadap leluhur atau pengingat kefanaan manusia dalam tradisi budaya tertentu.Rayhan menambahkan, arti dari sebuah simbol tidak berdiri sendiri secara mutlak, melainkan dibentuk oleh kerangka budaya dan latar pengetahuan yang dimiliki oleh individu yang melihatnya. Baca juga: Musik tidak lahir ‘satanik’: Kita yang memaknainya sebagai kejahatan Bagi musisi sendiri, simbolisme kerap menjadi bagian yang tak terpisahkan dari strategi branding maupun gimik panggung. Dunia hiburan menuntut pembeda visual yang kuat—mulai dari tata rias mencolok, busana tematik, hingga aksi panggung teatrikal—agar sebuah karya beresonansi dan diperbincangkan di tengah banjir informasi.Namun, begitu karya dilempar ke ruang publik musisi kehilangan kendali penuh atas tafsir tersebut. Karya seni sepenuhnya menjadi milik publik, dan dari celah itulah diskursus liar kerap muncul.Rayhan menyampaikan, kecenderungan masyarakat merangkai narasi konspirasi ini berakar pada psikologi manusia yang gemar mencari pola, bahkan pada hal yang sebenarnya acak.Dalam kajian sosiologi, reaksi berlebihan terhadap hal yang asing ini sering berujung pada moral panic—fenomena seni dianggap mengancam tatanan nilai masyarakat tanpa dasar bukti yang memadai. Ramainya potongan video tanpa konteks di media sosial dan algoritma pencarian mempercepat lompatan dari sekedar tebakan atau cocokologi menjadi sebuah kebenaran semu yang diamini secara luas.Perdebatan mengenai batas kepantasan karya seni sesungguhnya memiliki jejak sejarah panjang di Indonesia. Rayhan menjelaskan bahwa jauh sebelum diskursus black metal ataupun video musik kontemporer merebak, seni pertunjukan tradisional maupun panggung rock era 1970-an dan 1980-an di tanah air sudah kerap memicu perdebatan terkait moralitas dan agama ketika para penampil membawa aksi teatrikal ekstrem ke hadapan publik.Fenomena histeria massal sebelumnya juga pernah terjadi pada era 2000-an saat lagu pop milik Las Ketchup berjudul Asereje mendadak dituduh sebagai mantra pemujaan kegelapan.Simak episode lengkapnya hanya di SuarAkademia—ngobrol seru isu terkini, bareng akademisi.