Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin saat ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (30/10/2026). Foto: Nauval Pratama/kumparanMenteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menargetkan 50 persen penduduk Indonesia sudah menjalani skrining melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) sebelum dirinya pensiun atau berpindah jabatan.Pemeriksaan tersebut diharapkan dapat mendeteksi penyakit sejak dini sehingga masyarakat bisa segera mendapat penanganan sebelum kondisinya semakin parah.Budi mengatakan, data hasil pemeriksaan seperti tekanan darah, gula darah, kolesterol, hingga indeks massa tubuh (BMI) dapat dimanfaatkan untuk memetakan risiko kesehatan masyarakat. Pemerintah juga akan menggunakan data tersebut sebagai dasar pemberian intervensi kesehatan.“Saya kan ingin targetnya kalau bisa sebelum saya pensiun atau pindah, 50% dari populasi sudah di-screening,” kata Budi saat menghadiri Kongres Nasional XVI Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (30/10).Skrining-Pengobatan Dini untuk Tekan Beban BPJSBudi menjelaskan, pemerintah tidak cukup hanya melakukan pemeriksaan kesehatan. Masyarakat yang terdeteksi memiliki tekanan darah, gula darah, atau kolesterol tinggi juga harus mendapatkan penanganan sejak dini agar kondisinya dapat dikendalikan.Ia mencontohkan, masyarakat dengan tekanan darah tinggi dapat diberikan obat seperti amlodipin, sementara mereka yang memiliki kadar gula darah tinggi dapat diberikan metformin. Adapun pasien dengan kolesterol tinggi dapat memperoleh obat statin sesuai kebutuhan medis.“Orang yang darah tinggi sekarang mulai kita kasih amlodipin setiap hari. Orang yang gula dikasih metformin setiap hari, yang kolesterol tinggi dikasih statin, kita ukur lagi,” ujarnya.Menurut Budi, pengendalian faktor risiko tersebut dapat menekan angka penyakit yang membutuhkan pembiayaan besar melalui BPJS Kesehatan. Ia menyoroti penyakit jantung, ginjal, dan stroke yang risikonya dapat ditekan melalui pengendalian tekanan darah, gula darah, serta kolesterol.“Kalau tekanan darah, gula darah, kolesterol darah, BMI-nya terkendali, angka BPJS enggak seseram tadi,” kata Budi.Ia berharap penanganan sejak dini dapat menurunkan angka penyakit kardiovaskular, stroke, dan gangguan ginjal secara signifikan. Dengan begitu, masyarakat tidak harus menunggu sakit parah untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.“Penelitian di banyak negara di dunia, kalau kita bisa triple 80 ya, 80% screening, 80% yang kemudian kondisinya tidak baik diobati, 80% diobati terkendali, itu bisa menurunkan 80% kematian dari cardiovascular diseases, stroke sama jantung sama ginjal,” tuturnya.Anggaran Kesehatan Bisa Membengkak Jika Hanya Fokus MengobatiBudi menilai, strategi kesehatan yang terlalu berorientasi pada pengobatan akan membuat negara kesulitan membiayai kebutuhan layanan kesehatan. Sebab, pembiayaan rumah sakit, alat kesehatan, obat-obatan, dan layanan dokter spesialis membutuhkan anggaran yang besar.Ia membandingkan belanja kesehatan sejumlah negara. Jepang, misalnya, memiliki rata-rata usia harapan hidup 84 tahun dengan belanja kesehatan sekitar USD 5.500 per orang per tahun. Sementara Amerika Serikat memiliki rata-rata usia hidup 79 tahun dengan belanja kesehatan USD 11.900 per orang per tahun.“Kenapa Jepang lebih hemat daripada Amerika, usia lebih panjang? Karena strateginya di Jepang adalah menjaga masyarakatnya sehat, bukan mengobati saat sakit, Bapak, Ibu. Singapura menjaga masyarakatnya sehat, bukan hanya mengobati saat sakit,” ujarnya.Budi juga memaparkan, belanja kesehatan Indonesia saat ini sekitar USD 130 per orang per tahun. Jika Indonesia ingin mencapai tingkat belanja kesehatan seperti Malaysia, yang rata-rata usia harapan hidupnya 76 tahun, kebutuhan anggaran kesehatan nasional diperkirakan bisa meningkat hingga sekitar Rp 1.800 triliun.“Kalau kita sebagus Malaysia, Indonesia kita belum sebagus dia lah, kan dapat 300 Dolar. Kali 280 juta, itu dapat 84 miliar Dolar, kalau dikali Rp17.000 sekitar 1.800 triliun. Kita sekarang belanja kesehatannya 640 triliun, naik 3 kali lipat,” kata Budi.Karena itu, ia menekankan pentingnya memperkuat upaya promotif dan preventif melalui skrining serta pengendalian penyakit sejak dini. Menurutnya, menjaga masyarakat tetap sehat akan lebih berkelanjutan dibandingkan hanya mengandalkan pengobatan ketika penyakit sudah muncul.“Kalau pendekatannya program kesehatan Kemenkes seperti yang lalu, enggak akan kuat kita membiayai layanan kesehatan Indonesia,” ujarnya.CKG Sudah Jangkau 130 Juta OrangBudi menyebut program CKG yang diluncurkan Presiden Prabowo Subianto menjadi salah satu instrumen pemerintah untuk memperkuat pencegahan penyakit. Ia mengatakan jumlah masyarakat yang telah mengikuti pemeriksaan terus meningkat.“Tahun lalu 70 juta, bulan lalu (Agustus) 111 juta, bulan ini (Oktober) 130 juta,” kata Budi.Melalui pemeriksaan tersebut, pemerintah dapat mengumpulkan data kesehatan masyarakat secara lebih luas. Data itu nantinya dapat dimanfaatkan untuk memantau kondisi warga secara berkala dan mengevaluasi efektivitas intervensi yang diberikan.“Kita akan dapat tuh darah tekanan darahnya berapa, gula darahnya berapa, kolesterolnya berapa, BMI-nya berapa, semuanya datanya ada,” ujarnya.Budi berharap program skrining, pengobatan dini, dan pengendalian faktor risiko dapat berjalan beriringan.Dengan strategi tersebut, pemerintah, kata Budi, tidak hanya menekan beban pembiayaan kesehatan, tetapi juga meningkatkan kualitas dan harapan hidup masyarakat Indonesia.