Kamus tidak pernah netral: Bagaimana KBBI daring menyimpan relasi kuasa dan bias gender

Wait 5 sec.

● Telaah peneliti temukan KBBI menormalisasi bias dan nilai sosial masyarakat.● Contoh kalimat dalam KBBI mencerminkan relasi kuasa dan melanggengkan stereotip negatif terhadap perempuan.● Penyusun kamus perlu merevisi contoh kalimat agar netral, dan publik perlu membacanya secara kritis.Kita biasa membuka kamus untuk mencari arti kata, lalu menganggap jawabannya netral. Namun, apakah kamus benar-benar hanya mencatat bahasa, atau ia juga ikut membentuk cara kita memandang dunia?Pertanyaan itu mendorong saya menelaah KBBI Daring, khususnya kelas kata adjektiva (kata sifat). Dari 8.127 lema (kata) adjektiva yang saya identifikasi, saya memeriksa lema yang disertai contoh kalimat. Contoh kalimat mungkin tampak sepele, tapi di situlah penyusun kamus memilih siapa yang digambarkan, dalam situasi apa, dan dengan sifat apa. Hasilnya menunjukkan dua pola yang layak kita cermati: relasi kuasa yang semakin mengemuka dan kecenderungan untuk memosisikan perempuan sebagai subyek negatif.Sekilas, kedua hal ini tampak tidak berbahaya. Namun, karena sekolah dan lembaga negara memosisikan KBBI sebagai rujukan netral, maka bila contoh kalimat terus mengulang asosiasi tertentu, bias tersebut lambat laun akan ternormalisasi. Bias semacam ini juga bisa semakin beredar bersama media dan percakapan sehari-hari, melanggengkan stereotip yang sudah ada. Baca juga: Kata “anjay” tidak perlu masuk ranah hukum: pentingnya memahami konteks bahasa Kamus bukan sekadar daftar kataDalam kajian antropologi linguistik, kamus tidak dipandang sebagai cermin bahasa yang netral, melainkan teks yang ikut mengatur makna dan pemakaian, sekaligus menyimpan nilai-nilai sosial penyusunnya. Pandangan inilah yang saya pakai untuk membaca contoh-contoh kalimat KBBI.KBBI sendiri telah berkembang pesat. Edisi pertama (1988) memuat sekitar 62 ribu lema. Sementara edisi daring terbaru (2026) memuat sekitar 210 ribu lema.Dengan kedudukannya sebagai acuan nasional, KBBI memiliki kuasa untuk menentukan makna yang ‘sah’ dan pemakaian yang ‘benar’.1. Pola pertama: Relasi kuasa yang makin spesifikContoh kalimat dalam KBBI berubah dari edisi ke edisi. Dari perubahan tersebut, kita bisa melihat pergeseran cara kita melihat relasi kuasa.Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia karya W.J.S. Poerwadarminta (1954)—kamus acuan sebelum ada KBBI—misalnya, memuat dua makna kata adil yaitu “benar” dan “tidak berat sebelah”, dengan contoh dari ranah hukum. Sementara pertimbangan dan makna “sepatutnya; tidak sewenang-wenang”, baru muncul pada KBBI edisi kedua. Di edisi itu, subjek contohnya adalah “masyarakat”.Sementara itu di KBBI Daring, subyeknya menjadi “para buruh”: para buruh mengemukakan tuntutan yang adil. Konsep keadilan yang semula umum kini dikontekskan dalam hubungan perburuhan.Pola serupa tampak pada kata lain:• Angker: KBBI Daring memakai contoh “direktur” (direktur yang angker itu ternyata berhati baik), sementara edisi kedua memakai “pemimpin”. Ada perubahan contoh dari hal yang umum ke figur atasan di tempat kerja.• Alpa: contohnya “anak bermasalah ini sering alpa di kelas”, yang menempatkan kita dalam hubungan guru dan murid. Padahal dalam Kamus Umum, alpa berarti lalai atau tidak mengindahkan, tanpa konteks sekolah.• Judes: contohnya “seorang sekretaris harus ramah dan tidak boleh judes”. Penyusun kamus mengaitkan sifat buruk dengan jabatan yang berada di bawah atasan.Pilihan subyek tersebut memperlihatkan relasi sosial mana yang dianggap wajar untuk dijadikan contoh. Kecenderungan semacam ini membuat contoh kalimat tidak hanya berfungsi sebagai alat peraga penggunaan kata, tetapi juga mengajarkan situasi mana yang dianggap lazim. Alhasil, makna kata seakan menjadi semakin sempit dari yang seharusnya.2. Pola kedua: Sifat negatif identik dengan subjek perempuanKBBI juga mengilustrasikan adjektiva yang berkonotasi negatif atau mengevaluasi tubuh dengan subjek berempuan. Berikut beberapa contoh dari KBBI Daring:• Cerewet: “pembantu rumah tangga biasanya tidak suka bekerja pada nyonya rumah yang cerewet”.• Ceriwis: “sudah umum setiap gadis itu ceriwis”.• Cengeng: “gadis remaja biasanya lebih cengeng daripada pria dalam menghadapi suatu kejadian”.• Nyinyir: “nenekku kadang-kadang nyinyir, bosan aku mendengarkannya”.• Genit: “siapa gadis yang genit itu?”• Intuitif: “benarkah wanita lebih intuitif daripada pria?”Berbicara banyak, mudah menangis, mengomel, dan genit adalah sifat yang bisa ada pada siapa saja. Sayangnya, contoh-contoh di atas justru memasangkannya pada nyonya, gadis, wanita, atau nenek. Akibatnya, pembaca, terutama pelajar yang menganggap KBBI sebagai sumber yang benar, bisa menyimpulkan bahwa sifat-sifat itu memang “khas perempuan”.Di sisi lain, kata bernuansa positif seperti tampan dijelaskan lebih netral, tanpa pembatasan jenis kelamin yang tegas. Ketimpangan ini bukan hanya soal siapa yang diacu, melainkan juga soal siapa yang lebih sering dinilai.Tubuh perempuan pun kerap menjadi bahan contoh. Lema bahenol diilustrasikan dengan “perempuan bertubuh bahenol itu berjalan melenggak-lenggok”, bangir dengan “putri itu cantik sekali, kulitnya halus, dan hidungnya bangir”, dan sintal dengan “ia menyenangi gadis yang bertubuh sintal”.Untuk ceking, contohnya membandingkan suami dan istri: “abang saya tubuhnya ceking, sedangkan istrinya gendut”. Melalui contoh-contoh ini, KBBI tak memperlakukan tubuh laki-laki dan perempuan dengan setara.Pergeseran juga terjadi pada entri anggun. Kamus Umum Bahasa Indonesia (1954) mengaitkannya dengan bangunan, perilaku, dan pakaian tanpa menyebut gender. Sementara dalam KBBI justru mencontohkan: apabila berpakaian daerah, wanita itu tampak sangat anggun, sehingga kata ini terasa lebih lekat dengan perempuan. Baca juga: Kata tidak netral, teori-teori linguistik terkini membuktikannya Kamus bukan sumber kebenaran tunggalUntuk menghindari normalisasi penggunaan kata yang bias, penyusun KBBI dapat meninjau contoh kalimat dengan kacamata gender, misalnya dengan menyeimbangkan subyek laki-laki dan perempuan atau memakai subyek netral yang jamak diketahui publik, seperti “ia” atau “anak itu” untuk sifat yang tidak terkait jenis kelamin.Kemudian, guru dan dosen dapat mengajarkan kamus sebagai teks yang bisa dipertanyakan dan dikritik, bukan kebenaran mutlak. Pembaca juga dapat membiasakan bertanya: mengapa contoh ini dipilih, dan siapa yang diwakilinya?Kamus akan terus menjadi acuan penting. Karena itulah kita perlu membacanya dengan kritis. Bahasa tidak pernah berdiri sendiri, dan kamus pun ikut hidup di tengah masyarakat dengan segala nilai yang dibawanya. Baca juga: Ada seksisme dalam bahasa Indonesia, bagaimana kita harus menanganinya? Fariz Alnizar menerima dana dari Universitas Gadjah Mada melalui skema program Post-Doctoral Fellow 2024 dengan nomor pendanaan: 1688/UN1/DITLIT/PT.01.00/2024.