Hartik, ibu kandung Dini Hardiyanti (30) saat menyaksikan langsung prarekonstruksi di Madiun, Selasa (27/10/2026). Foto: Dok. kumparanHartik, ibu kandung Dini Hardiyanti (30), tak kuasa menahan kesedihan saat menyaksikan prarekonstruksi kasus dugaan pembunuhan terhadap anak dan cucunya di Kota Madiun, Selasa (27/10/2026) malam.Ia harus menyaksikan rangkaian adegan yang diperagakan tersangka Dwi Bagus Martono (40), mulai dari sejumlah lokasi kejadian hingga tempat jasad kedua korban diduga dibakar dan dicacah untuk menghilangkan jejak.Warga Desa Sukakarya, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, itu mengikuti prarekonstruksi di sejumlah tempat kejadian perkara (TKP), termasuk Hotel Mataram, rumah di Jalan Doho, serta rumah pribadi tersangka yang diduga menjadi lokasi pembakaran dan pencacahan jasad korban.Di lokasi terakhir, tepatnya di pekarangan belakang rumah, penyidik mendalami dugaan upaya tersangka menghilangkan jejak kejahatan. Dalam rangkaian adegan yang diperagakan, jasad korban diduga dibakar dan dicacah. Sisa-sisanya kemudian dimasukkan ke dalam kantong.Bagi Hartik, menyaksikan langsung proses tersebut menjadi pengalaman yang menyakitkan. Ia mengaku tak pernah membayangkan anak dan cucunya mengalami nasib tragis seperti itu.Dwi Bagus Martono, tersangka kasus pembunuhan istri siri Dini Hardiyanti dan anaknya, AGEF, saat melaksanakan ibadah di Tanah Suci. Foto: Dok. Istimewa“Hati saya hancur, sehancur-hancurnya. Terpukul juga,” ujar Hartik saat ditemui di sela-sela prarekonstruksi.Di tengah duka mendalam, Hartik meminta penyidik mengusut kasus tersebut hingga tuntas. Ia juga berharap tersangka dijatuhi hukuman seberat-beratnya atas kematian dua anggota keluarganya.“Ibu minta dihukum seberat-beratnya. Ibu mah hukuman mati,” katanya.“Ibu minta diusut sampai tuntas,” ucapnya.Awal KecurigaaanHartik mengaku mulai menaruh kecurigaan sejak 20 Oktober 2026. Saat itu, ia berusaha menghubungi Dini melalui sambungan telepon dan panggilan video. Namun, komunikasi dengan anaknya tidak lagi berjalan seperti biasanya.Sejak kehilangan kabar tersebut, Hartik terus diliputi kecemasan. Kini, setelah mengetahui anak dan cucunya menjadi korban dugaan pembunuhan, ia mengaku kesulitan tidur dan kehilangan selera makan.“Ibu sampai sekarang enggak bisa tidur, enggak bisa makan,” tuturnya.Hartik mengatakan telah mengenal Dwi Bagus Martono sejak laki-laki itu menjalin hubungan dengan Dini. Ia menyebut Dini dan tersangka menikah secara siri sekitar tiga tahun lalu, meski hubungan tersebut tidak mendapat persetujuan keluarga.Menurut Hartik, hubungan Dini dan tersangka juga kerap diwarnai pertengkaran. Meski mengetahui adanya persoalan tersebut, ia mengaku tak pernah menyangka konflik itu akan berujung pada tragedi yang merenggut nyawa anak dan cucunya.“Iya, sering cekcok, tapi enggak seperti ini,” katanya.Kematian Dini dan anaknya menjadi pukulan berat bagi Hartik. Kehilangan cucunya terasa semakin menyakitkan karena ia mengaku ikut merawat anak tersebut sejak masih bayi.Di tengah proses hukum yang berjalan, Hartik berharap seluruh fakta di balik kematian anak dan cucunya dapat terungkap. Ia meminta penyidik menuntaskan penyidikan dan menelusuri kemungkinan keterlibatan pihak lain jika ditemukan bukti yang mendukung.Kini, Hartik hanya berharap keadilan ditegakkan dan pihak yang terbukti bertanggung jawab mendapat hukuman sesuai ketentuan hukum yang berlaku.