Razif, anak didiagnosis bell's palsy. Foto: Instagram/@lhabibie29Mendapati si kecil mengalami gangguan kesehatan tentu bisa membuat orang tua khawatir. Apalagi jika kondisi tersebut tergolong jarang terjadi pada anak, seperti Bell’s palsy.Hal ini dialami Razif, anak yang didiagnosis Bell’s palsy pada 26 Mei 2026, ketika usianya baru 8 bulan 21 hari.Ibunya, Laila, bercerita bahwa gejala awal yang dialami Razif adalah demam tinggi hingga mencapai 40,1 derajat Celsius. Setelah mendapatkan diagnosis Bell’s palsy, Razif kini menjalani terapi rutin di rumah sakit sebanyak dua kali seminggu.Meski begitu, demam tinggi yang dialami Razif tidak serta-merta bisa disimpulkan sebagai penyebab Bell’s palsy. Sebab, kondisi tersebut perlu diperiksa lebih lanjut untuk mengetahui penyebabnya.Dokter Spesialis Anak, dr. Aisya Fikritama, Sp.A, menjelaskan bahwa sebagian besar anak dengan Bell’s palsy memiliki peluang pemulihan yang baik."Kabar baiknya, sebagian besar anak dengan Bell’s palsy bisa sembuh dengan baik," jelas dr. Aisya saat dihubungi kumparanmOM, Sabtu (31/10).Meski demikian, orang tua tetap perlu memahami risiko komplikasi dan penanganan yang mungkin dibutuhkan anak.Risiko Komplikasi Bell’s Palsy pada AnakIlustrasi bell's palsy. Foto: evan_huang/ShutterstockMeski sebagian besar anak bisa pulih dengan baik, Bell’s palsy tetap dapat menimbulkan komplikasi tertentu.Salah satu yang perlu diperhatikan adalah gangguan pada mata. Hal ini terjadi ketika kelopak mata tidak bisa menutup dengan sempurna sehingga permukaan mata berisiko mengalami kekeringan hingga luka pada kornea.Selain itu, kelemahan otot wajah yang berlangsung cukup lama juga bisa memengaruhi kemampuan anak untuk makan dan minum, termasuk ekspresi wajahnya.Namun, dr. Aisya menegaskan bahwa Bell’s palsy sendiri tidak otomatis menyebabkan kerusakan otak maupun kelumpuhan pada seluruh tubuh. Hal yang lebih penting adalah memastikan tidak ada penyakit lain yang mendasari kelumpuhan wajah tersebut.Berapa Lama Bell’s Palsy pada Anak Bisa Sembuh?Kabar baiknya, sebagian besar anak dengan Bell’s palsy dapat pulih secara bertahap dalam beberapa minggu hingga bulan. Lama pemulihan bisa berbeda pada setiap anak, tergantung kondisi dan tingkat keparahannya.Oleh karena itu, pemeriksaan dokter tetap diperlukan untuk memastikan penyebab kelumpuhan wajah sekaligus menentukan penanganan yang tepat. Orang tua juga perlu mengikuti jadwal kontrol agar dokter dapat memantau perkembangan kondisi anak selama masa pemulihan.Bagaimana Pengobatan Bell’s Palsy pada Anak?Penanganan Bell’s palsy pada anak disesuaikan dengan kondisi dan tingkat keparahan gejalanya. Tidak semua anak membutuhkan jenis pengobatan yang sama.Menurut dr. Aisya, jika anak mengalami kesulitan menutup mata, dokter biasanya akan memberikan obat tetes atau salep pelumas mata untuk melindungi kornea dari kekeringan dan luka.Pada kondisi tertentu, dokter juga dapat mempertimbangkan pemberian obat kortikosteroid. Namun, manfaat obat steroid untuk Bell’s palsy pada anak belum terbukti secara meyakinkan seperti pada orang dewasa. Sementara itu, obat antivirus tidak diberikan secara rutin, kecuali terdapat indikasi infeksi tertentu.Terapi atau latihan otot wajah juga bisa dipertimbangkan pada kasus tertentu, terutama jika kelemahan otot wajah cukup berat atau berlangsung menetap. Namun, tidak semua anak memerlukannya.Moms, jika anak mengalami Bell’s palsy, orang tua tidak perlu langsung panik. Sebab, sebagian besar anak dengan kondisi ini memiliki peluang pemulihan yang baik.Namun, pemeriksaan dan penanganan sesuai anjuran dokter tetap penting. Terlebih jika anak mengalami kesulitan menutup mata, karena kondisi tersebut membutuhkan perlindungan agar tidak menimbulkan gangguan pada kornea.Dengan pemeriksaan, pengobatan, dan kontrol yang sesuai, perkembangan kondisi anak selama masa pemulihan dapat dipantau dengan lebih optimal.