Populer: OJK Waspadai Penipuan Online; Proyek Hunian Stasiun Mangkrak

Wait 5 sec.

Ilustrasi OJK. Foto: ShutterstockImbauan OJK terkait maraknya modus penipuan online hingga love scam menjadi salah satu berita populer kumparanBISNIS sepanjang Selasa (27/10). Selain itu, terdapat keluhan konsumen terkait proyek hunian dekat stasiun kereta yang terhambat. Untuk lebih jelasnya, berikut rangkuman berita populer tersebut:Modus Penipuan Makin Beragam, dari Kerja Online hingga Love ScamOtoritas Jasa Keuangan (OJK) mengimbau masyarakat untuk mewaspadai berbagai modus penipuan digital yang kian beragam, mulai dari penawaran kerja online paruh waktu hingga penipuan berkedok hubungan asmara (love scam). Dalam ranah kerja online, pelaku umumnya memancing korban dengan imbalan kecil setelah menyelesaikan tugas sederhana seperti menyukai unggahan media sosial, sebelum akhirnya meminta transfer dana dalam jumlah besar untuk tingkat keanggotaan lebih tinggi.Ilustrasi love scamming. Foto: Tero Vesalainen/ShutterstockUntuk menekan laju kejahatan keuangan ini, Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) telah memblokir 702.833 rekening terindikasi penipuan dengan total nilai dana terblokir mencapai Rp 825,2 miliar hingga 30 September 2026. Dari jumlah tersebut, dana yang berhasil dikembalikan kepada korban tercatat sebesar Rp 207,16 miliar.Secara kumulatif sepanjang periode 1 Januari hingga 30 September 2026, Satuan Tugas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal (Satgas PASTI) telah menindak dan menghentikan 1.199 entitas pinjaman online ilegal, 250 entitas investasi ilegal, serta 38 entitas pergadaian ilegal. Khusus pada periode Agustus hingga September 2026, Satgas PASTI juga menangani 330 entitas dan aktivitas keuangan ilegal guna melindungi masyarakat dari potensi kerugian finansial yang lebih besar.Problema Hunian Dekat Stasiun KeretaProyek hunian berkonsep Transit-Oriented Development (TOD) di sekitar stasiun kereta api tengah menghadapi kendala penyelesaian, sehingga memicu keluhan dari ratusan konsumen yang telah membayar cicilan Kredit Pemilikan Apartemen (KPA). PT Adhi Commuter Properti Tbk (ADCP) mencatat dari total 5.400 unit LRT City yang terjual, baru 3.000 unit yang berhasil diserahterimakan, sedangkan 2.400 unit lainnya mengalami kemandekan pembangunan akibat tekanan likuiditas dan penurunan pasar sejak krisis 2018 serta pandemi COVID-19.Suasana pembangunan rumah susun terintegrasi dengan sarana transportasi atau Transit Oriented Development (TOD) di samping Stasiun Kereta Api (KA) Tanjung Barat, Jakarta Selatan. Foto: Aditya Pradana Putra/ANTARA FOTOGuna menyelesaikan persoalan pembangunan dan memenuhi hak konsumen, Badan Pengelola BUMN melalui Danantara mengucurkan dana suntikan sebesar Rp 456 miliar. Langkah intervensi ini dilakukan untuk merestrukturisasi proyek, memperbarui desain kawasan komersial, serta melanjutkan pengerjaan fisik unit apartemen yang tersendat sejak awal Oktober.Meski pihak pengembang mengimbau agar konsumen tidak membatalkan pembelian, sekitar 93 persen dari 150 hingga 200 konsumen yang tergabung dalam paguyuban LRT City tetap menuntut pengembalian dana secara penuh (refund). Para pembeli menilai penundaan serah terima yang berlangsung hingga bertahun-tahun telah menimbulkan beban finansial akibat cicilan bunga bank dan mengganggu kepastian rencana hidup mereka.