Pemkab Bandung Rehab Rumah Keluarga Viral di Pacet, 2 Anak Diusulkan Masuk Sekolah Rakyat

Wait 5 sec.

Pemkab Bandung beri bantuan satu keluarga di Kampung Sukanagara, Desa Mekarsari, Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung, yang viral karena hidup dalam kondisi memprihatinkan. Foto: Dok. Humas Desa MekarsariSatu keluarga di Kampung Sukanagara, Desa Mekarsari, Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung, yang viral karena hidup dalam kondisi memprihatinkan akhirnya mendapat bantuan dari Pemkab Bandung. Keluarga itu hidup dalam kondisi rumah tidak layak berukuran 4x5 meter dihuni 5 dewasa dan 3 anak. Mereka adalah Cucu Jubadah (56) dan 3 anaknya Ogi Umaedi (37), Erna Maryana (36), dan Melinda Ulhusna (33). Ketiga anak Jubadah mengalami gangguan mental ringan hingga berat.Ogi menikah dengan Indah Triyanti (32) dan memiliki 3 anak, Akbar Rizky (10), Fahri Syahreza (5), dan bayi perempuan yang baru lahir pada Selasa (27/10/2026).Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bandung dan Provinsi Jawa Barat telah membawa tiga anggota keluarga yang mengalami gangguan mental ringan hingga depresi berat ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Cisarua milik Pemprov Jabar untuk menjalani rehabilitasi medis dan psikologis.Sekretaris Desa (Sekdes) Mekarsari, Yasa, mengapresiasi respons cepat dari Pemerintah Kabupaten Bandung dan instansi terkait."Alhamdulillah gerak cepat, Jabar cepat, juara, mantap, istimewa. Tindakan tanpa ditunda-tunda. Langsung gerak cepat, langsung menghubungi saya dan keluarga yang mentalnya kurang sehat itu langsung dibawa ke RSJ untuk direhabilitasi mental," ujar Yasa, Jumat (30/10).Yasa menegaskan, kondisi mental ketiganya masih bisa dipulihkan karena dipicu oleh beban psikologis berat, bukan faktor medis bawaan."Secara fisik itu bukan gila turunan, tapi itu dalam keadaan stres dan depresi. Dan bisa direhab dan bisa diperbaikilah mentalnya," tegasnya.Selain penanganan kesehatan, Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Pertanahan (Disperkimtan) Kabupaten Bandung juga turun tangan untuk memperbaiki hunian keluarga tersebut yang sebelumnya tak layak huni."Lalu ada dari Disperkimtan Kabupaten Bandung. Alhamdulillah, terima kasih Bapak Bupati. Ini untuk rumahnya itu bakal direhab supaya layak huni," kata Yasa.Selama proses perbaikan rumah, sang ibu, Cucu Jubadah, akan menunggu di hunian tersebut. Sementara itu, Indah bersama bayinya yang baru lahir dan anak balitanya, Fahri, mendapatkan penanganan khusus.Pemerintah desa juga berupaya menjamin pendidikan anak tertua dari pasangan Ogi dan Indah, yakni Akbar."Nanti ada Akbar sama Fahri. Itu Akbar nanti kita usulkan ke Sekolah Rakyat, ya. Nanti ke depannya supaya jadi jenderal juga nanti, mengikuti Bapak Prabowo nanti," ujarnya.Pemkab Bandung beri bantuan satu keluarga di Kampung Sukanagara, Desa Mekarsari, Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung, yang viral karena hidup dalam kondisi memprihatinkan. Foto: Dok. Humas Desa MekarsariAdapun bayi perempuan Indah yang baru lahir pada Selasa (27/10) di RS Welas Asih diusulkan oleh Yasa untuk diberi nama Hyang Sukma Ayu."Lalu anak satunya itu nama anaknya belum dinamain, katanya teh. Tapi saya usulkan namanya Hyang Sukma Ayu. Itu anak yang baru lahir di Welas Asih kemarin," ungkapnya.Awalnya Kaya lalu BangkrutSebelumnya, kisah keluarga ini menjadi sorotan publik dan viral di media sosial setelah beredar rekaman video yang memperlihatkan kondisi rumah berukuran 4x5 meter yang sangat kotor, penuh tumpukan barang, dan tidak terawat.Kondisi tersebut bermula dari kehancuran ekonomi keluarga. Cucu Jubadah dan almarhum suaminya dulunya merupakan pengusaha gorden yang sukses, tetapi kemudian gulung tikar."Latar belakangnya dulunya itu Ibu Ucu sama suaminya pengusaha gorden yang sukses. Tapi karena bangkrut, sehingga mengalami depresi dan stres," tutur Yasa.Satu keluarga di Pacet, Bandung Barat, hidup dalam kondisi memprihatinkan dengan tiga orang dewasa yang mengalami gangguan jiwa dan tiga anak kecil. Foto: Dok. IstimewaTekanan ekonomi yang mendadak serta perceraian orang tua berdampak besar pada psikologis anak-anak mereka. Ketiganya tumbuh dengan menarik diri dari lingkungan sosial dan tidak pernah berinteraksi dengan tetangga sekitar."Anak-anaknya itu dimanja waktu itu. Karena bawaannya dimanja, makan tidak beli dari luar, makan makanan mewah. Ini membuat mereka tidak berinteraksi dengan orang, tetangga, tidak pernah jajan ke luar. Padahal itu normal awalnya, sekolah semuanya," jelas Yasa.