Melawan Kesepian, Merangkul Anak-anak Down Syndrome

Wait 5 sec.

Suasana kegiatan Car Free Day (CFD) di Rasuna Said, Jakarta Pusat, Minggu (1/11/2026). Foto: Pradya Tirta/kumparanPagi itu, langkah-langkah kecil menyusuri kawasan Car Free Day (CFD) Rasuna Said, Jakarta Selatan, Minggu (1/11). Di antara keramaian warga yang berolahraga, anak-anak dengan down syndrome berjalan berdampingan dengan orang tua mereka.Sesekali mereka berinteraksi, bercengkerama, dan menikmati kebersamaan. Pagi itu bukan sekadar menjadi kesempatan untuk berjalan bersama, melainkan juga ruang bagi mereka untuk merasa diterima, dilibatkan, dan menjadi bagian dari masyarakat.Kegiatan fun walk tersebut merupakan bagian dari puncak peringatan Down Syndrome Awareness Month 2026 yang diselenggarakan Persatuan Orang Tua Anak Down Syndrome (POTADS). Mengusung tema "Together Against Loneliness", acara ini ingin mengajak masyarakat untuk lebih mengenal anak-anak dengan down syndrome sekaligus melawan keterasingan yang masih mereka alami.Ketua pelaksana kegiatan Bulan Downsyndrome Awareness Ani Rachmawati dan Ketua Umum Potads Eliza Octaviani Rogi dalam kegiatan fun walk bersama anak anak down syndrome di CFD Rasuna Said, Minggu (1/11/2026). Foto: Pradya Tirta/kumparanKetua Pelaksana kegiatan, Ani Rachmawati, mengatakan acara tersebut diikuti sekitar 450 hingga 500 anak dengan down syndrome. Mereka datang bersama orang tua masing-masing. Dengan tambahan relawan dari berbagai kalangan, jumlah keseluruhan peserta diperkirakan mencapai hampir 1.000 orang."Ada 250 volunteer dari pekerja, dari mahasiswa, komunitas, dan juga dari pelajar. Jadi ya kita lebih kurang segitu deh jumlahnya," kata Ani saat ditemui seusai acara di Pusat Perfilman H. Usmar Ismail.Di antara ratusan keluarga yang hadir, ada Setyowati (46) yang datang bersama putrinya, Windi (25). Awalnya, ia tak mengetahui keberadaan POTADS sebagai wadah bagi orang tua yang memiliki anak dengan down syndrome. Setelah mengenalnya, ia senang karena dapat menemukan lingkungan tempat dirinya dan anaknya berkumpul bersama keluarga lain yang memiliki pengalaman serupa."Ya sebenarnya senang ya ada acara ini. Aku kan baru bergabung, baru bergabung 1 bulan, enggak tahu kalau awalnya itu emang ada ini POTADS. Baru tahu bulan ini gitu. Ini jadi aku pertama kali ngikut, gitu," kata Setyowati.Setyowati mengikuti kegiatan fun walk bersama anak anak down syndrome di CFD Rasuna Said, Minggu (1/11/2026). Foto: Pradya Tirta/kumparanSetyowati ingin anaknya, Windi, bisa lebih banyak berinteraksi dan mengikuti kegiatan bersama teman-teman seusianya. Terlebih, Windi sempat berhenti sekolah sehingga ia berharap putrinya tetap memiliki aktivitas yang dapat membantu mengembangkan kemampuannya."Ini saya sebenarnya mau ngikutin kegiatan angklung. Dulu kan sempat sekolah. Jadi ini pengin tak ikutin kegiatan lagi. Nah, cuma kalau kegiatan angklung ini kan harus di sini, di Pejaten. Jadi anak bisa ikut kumpul-kumpul begini," kata Setyowati.Ia merasa senang karena melalui komunitas tersebut, Windi memiliki kesempatan untuk bertemu dan berkumpul dengan anak-anak dengan down syndrome lainnya. Sementara itu, dirinya bisa mengenal orang tua lain yang sama-sama mendampingi tumbuh kembang anak."Ya jadi kayak bisa merangkul semua kalau acara gini gitu loh Mas. Jadi senang aja bisa kumpul bareng gitu," ujarnya.Kegiatan fun walk bersama anak anak down syndrome di CFD Rasuna Said, Minggu (1/11/2026). Foto: Pradya Tirta/kumparanLebih dari sekadar mengikuti kegiatan bersama, Setyowati berharap keberadaan komunitas seperti POTADS dapat membantu anak-anak dengan down syndrome tumbuh menjadi pribadi yang lebih mandiri. Ia ingin anaknya memiliki kesempatan untuk terus belajar, beraktivitas, dan mengenal lingkungan di sekitarnya."Sangat senang ya, maksudnya biar bisa anak-anak bisa lebih mandiri lagi, gitu. Jadi saya dengan adanya kegiatan ini senang gitu, jadi bisa berkumpul bersama anak-anak down syndrome," tuturnya.Suasana kegiatan Car Free Day (CFD) di Rasuna Said, Jakarta Pusat, Minggu (1/11/2026). Foto: Pradya Tirta/kumparanPengalaman Setyowati menjadi salah satu alasan pentingnya ruang kebersamaan bagi keluarga dengan anak down syndrome. Sebab, tidak semua anak mendapatkan kesempatan yang sama untuk terlibat dalam kehidupan sosial. Kondisi inilah yang ingin disoroti POTADS melalui tema "Together Against Loneliness".Ketua Umum POTADS, Eliza Octavianti Rogi, mengatakan tema tersebut berangkat dari kenyataan bahwa anak-anak dengan down syndrome masih kerap mengalami keterasingan. Mereka tidak jarang kurang dilibatkan dalam lingkungan masyarakat, bahkan keberadaannya tidak diterima oleh sebagian orang."Ini berangkat dari tema hari ini ya, Together Against Loneliness. Jadi bahwa bersama melawan kesepian. Bahwa kami melihat bahwa anak-anak kami ini masih dibayang-bayangi dengan keterasingan, kesendirian, karena mereka jarang dilibatkan. Bahkan mereka ditolak kehadirannya," ujar Eliza.Suasana kegiatan Car Free Day (CFD) di Rasuna Said, Jakarta Pusat, Minggu (1/11/2026). Foto: Pradya Tirta/kumparanMenurut Eliza, kesepian yang dimaksud bukan semata-mata karena anak-anak tersebut tidak memiliki teman. Lebih dari itu, ada kondisi ketika mereka sebenarnya berada di tengah masyarakat, tetapi tidak mendapatkan kesempatan untuk ikut berinteraksi, bermain, maupun berkarya.Karena itu, melalui kegiatan ini POTADS ingin mengajak masyarakat mengubah cara pandang terhadap anak-anak dengan down syndrome. Mereka bukan individu yang harus dijauhkan atau dianggap sebagai beban, melainkan pribadi yang memiliki perasaan, kemampuan, dan potensi untuk berkembang."Kami ingin membagikan rasa itu kepada semua orang gitu. Bahwa semua orang harus tahu anak-anak ini mereka sama hebatnya, mereka punya potensi, punya perasaan juga gitu. Itu yang mau kami sampaikan pesannya, gitu ya. Hargai mereka, terima mereka apa adanya, dan berikan penerimaan yang tulus," kata Eliza.Eliza mengatakan, sejak lahir anak-anak dengan down syndrome masih dihadapkan pada berbagai stigma. Mereka kerap dianggap sebagai aib, beban keluarga, atau dipandang tidak memiliki kemampuan. Padahal, menurutnya, setiap individu memiliki potensi yang dapat dikembangkan apabila memperoleh pendampingan dan kesempatan yang tepat."Kami berangkat dari bahwa anak-anak ini sejak lahir kan mendapatkan stigma ya. Mereka dianggap aib, dianggap beban, tidak punya kemampuan apa-apa. Di sini sebagai orang tua kami tidak mau berpangku kepada itu. Justru kami berposisi bahwa setiap individu siapa pun dia pasti punya potensi," tutur Eliza.Eliza mengakui, upaya mewujudkan lingkungan yang inklusif bagi anak-anak dengan down syndrome masih menghadapi berbagai tantangan. Menurut dia, fasilitas publik dan layanan yang tersedia saat ini belum sepenuhnya inklusif sehingga masih perlu terus didorong.“Meskipun memang terus-menerus kita dorong karena belum sepenuhnya inklusif gitu. Terus berproses, jalannya masih panjang juga gitu,” kata Eliza.Kegiatan fun walk bersama anak anak down syndrome di CFD Rasuna Said, Minggu (1/11/2026). Foto: Pradya Tirta/kumparanSalah satu tantangan itu terlihat dalam dunia pendidikan. Eliza menilai, sejumlah sekolah umum yang menerima anak-anak dengan down syndrome belum sepenuhnya menyiapkan fasilitas maupun tenaga pengajar yang memiliki keterampilan dan pengetahuan untuk mendampingi mereka.“Tapi secara fasilitas, keterampilan guru, pengetahuan guru, dan juga ekosistem sekolah tuh belum disiapkan gitu. Jadi kadang-kadang ada anak yang sudah mencoba, pada akhirnya enggak bertahan lama gitu,” ujarnya.Kondisi itu semakin terasa bagi keluarga yang harus membiayai terapi secara mandiri. Ketua Pelaksana Kegiatan, Ani Rachmawati, mengatakan tidak semua orang tua memiliki kemampuan finansial untuk terus memberikan layanan terapi bagi anak-anak mereka.“Mereka mencari terapi sendiri atau kadang-kadang mereka ya berhenti terapi gitu. Terus semua tuh serba membutuhkan biaya. Jadi kadang-kadang ya orang tua yang pas-pasan pada akhirnya harus memilih mana dulu gitu. Jadi akhirnya terapi menjadi sesuatu yang mungkin dinomor-duakan. Itu yang kami sayangkan," kata Ani.Kegiatan fun walk bersama anak anak down syndrome di CFD Rasuna Said, Minggu (1/11/2026). Foto: Pradya Tirta/kumparanDi tengah berbagai tantangan tersebut, Eliza berharap pemerintah dapat memberikan perlindungan yang lebih kuat bagi anak-anak dengan down syndrome. Ia juga mendorong edukasi mengenai penerimaan dan inklusi dilakukan secara lebih luas agar tidak berhenti sebagai slogan.“Kami berharap bahwa pemerintah itu bisa, negara bisa hadir lebih tegas. Memberikan perlindungan hukum, perlindungan sosial juga. Supaya anak-anak kami ini tidak diabaikan gitu ya. Negara hadir untuk memberikan perlindungan, plus memberikan edukasi yang lebih sering, lebih masif ya. Sehingga inklusi ini bukan cuma sekadar teori, tapi bisa dipraktikkan,” ujar Eliza.Menurutnya, anak-anak dengan down syndrome masih membutuhkan dukungan agar dapat memperoleh kesempatan yang sama dalam kehidupan sosial. Masyarakat diharapkan tidak hanya menerima keberadaan mereka, tetapi juga melibatkan mereka dalam berbagai aktivitas sehari-hari."Terus kepada masyarakat umum kami mengajak supaya, 'ayolah lihat anak kami dengan mata terbuka' gitu ya. Mereka tuh layak untuk diberikan penghormatan yang sama seperti kita menghargai individu yang lainnya. Beri mereka kesempatan buat berkarya, buat berdaya, buat bermain, buat belajar," kata Eliza.