Bahlil Tunda Ekspor Listrik ke Singapura, Sebut RI Masih Butuh Pasokan

Wait 5 sec.

Menteri Koordinator Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM Bahlil Lahadalia di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (29/10/1026). Foto: Zamachsyari/kumparanMenko Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia, menunda ekspor listrik ke Singapura, setidaknya dalam waktu dekat. Menurutnya, Indonesia masih membutuhkan pasokan listrik.Kesepakatan ekspor listrik hijau ke Singapura tercantum dalam salah satu dari 26 nota kesepahaman (MOU) yang diteken dalam Pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong di Jakarta, Senin (6/7)."Saya sudah mengumumkan untuk Indonesia belum, dalam waktu dekat belum bisa mengekspor listrik, ya. Kita masih butuh listrik ya. Enggak ada," tegasnya saat Minerba Convex 2026, Senin (2/11).Kerja sama ekspor listrik hijau meliputi Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara dengan Keppel Electric, Sembcorp Industries, dan Singapore Energy Interconnections.Bahlil mengaku sudah meminta Danantara Indonesia untuk menunda kesepakatan tersebut, bahwa seluruh izin terkait ekspor listrik berada di bawah kewenangan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM)."Saya sudah kasih tahu Danantara, jangan kamu mau dilobi-lobi. Enggak ada izin, itu ada di ESDM, bukan Danantara. Kedaulatan negara saya dahulukan, wibawa negara saya dahulukan, marwah negara adalah marwah 280 juta jiwa yang ada di bangsa ini," tegas Bahlil.Bahlil juga menegaskan, segala kebutuhan dan kepentingan masyarakat Indonesia tidak bisa ditawarkan kepada negara lain."Kedaulatan negara kita adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar, itu harga mati. Jangan mau senangnya saja negara-negara itu mau terima kita. Begitu kita ada sesuatu yang tidak pas, mulai buat gerakan tambahan," tandasnya.Sebelumnya, kerja sama ekspor listrik ke Singapura bertujuan untuk membuka jalan bagi pengembangan proyek interkoneksi listrik lintas batas (cross-border electricity project) antara Indonesia dan Singapura, sekaligus menjadi fondasi penting bagi pembangunan ASEAN Power Grid atau jaringan listrik kawasan ASEAN.“Ya, dengan Keppel, Sembcorp, MOU kita untuk membangun untuk ekspor listrik, ya, dengan Danantara dan ini adalah proyek jangka panjang dan akan dipastikan ini juga memberikan dampak yang win-win lah terhadap kedua negara,” ungkap CEO Dananantara, Rosan Roeslani kepada wartawan di kompleks Istana Kepresidenan.Rosan menjelaskan, ekspor listrik ke Singapura ini merupakan rencana lama, setidaknya 4 tahun lalu, yang baru ditindaklanjuti oleh Danantara berdasarkan arahan Presiden Prabowo Subianto. Nantinya, proyek pembangkit hijau akan dibangun Danantara bersama pihak swasta lain.Pembangkit tersebut akan dibangun bertahap di Batam, Bintan, dan Karimun dengan total kapasitas 3,4 gigawatt (GW). Rosan menyebut kapasitas pembangunan tahap awal yakni antara 600 MB sampai 1,2 GW.Produksi listrik tersebut akan dibeli oleh Keppel maupun Sembcorp. Untuk dapat menyalurkannya, Indonesia juga akan membangun jaringan transmisi listrik menuju Singapura.