Honda Minta Kepastian Insentif Mobil Hybrid, Penting untuk Investasi Jangka Panjang

Wait 5 sec.

Honda HR-V Hybrid mengunjungi Pantai Nglambor di Gunung Kidul. Foto: Aditya Pratama Niagara/kumparanPT Honda Prospect Motor (HPM) menyambut positif rencana pemerintah yang tengah mengkaji pemberian insentif untuk kendaraan elektrifikasi, mencakup mobil hybrid, Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV), dan Range Extended Electric Vehicle (REEV).Sales & Marketing and After Sales Director PT HPM, Yusak Billy, menilai pemberian insentif untuk kendaraan beremisi rendah dapat membuat harga lebih bersaing dan memberikan lebih banyak pilihan bagi konsumen."Yang diharapkan dari sini kan dengan industri otomotif tumbuh karena harga bersaing dan banyak pilihan bagi konsumen untuk bisa memilih kan industri otomotif akan naik," ujarnya saat ditemui di Alam Sutera, Tangerang, Kamis (29/10).Honda Step WGN e:HEV. Foto: Gesit Prayogi/kumparanBilly menjelaskan, penggunaan komponen mesin pembakaran internal (ICE) pada kendaraan hybrid, PHEV, dan REEV turut mendukung keberlangsungan industri komponen otomotif. Pemberian insentif diharapkan dapat mendorong pertumbuhan industri otomotif sekaligus perekonomian Indonesia.Soal bentuk insentif fiskal, Billy menyebut proses diskusi masih berlangsung dan belum bisa membukanya ke publik. Bila yang diberikan hanya dukungan nonfiskal, ia menilai hal itu tetap baik. "Fiskal kami masih diskusi dan belum bisa dibicarakan, tapi yang pasti perlu konsistensi kebijakan jangka panjang. Pengembangan model baru, investasi, itu perlu perencanaan jangka panjang yang berkesinambungan. Jadi kalau itu dijalankan, sebaiknya ada kepastian dan konsistensi dari kebijakan jangka panjang," tegasnya.Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji di Kantor Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Jakarta Pusat, Selasa (6/10/2026). Foto: Widya Islamiati/kumparanPemerintah lanjutkan insentif mobil hybridPemerintah melalui Kementerian Perindustrian (Kemenperin) tengah membahas usulan insentif untuk kendaraan hybrid, PHEV, dan REEV. Skema yang diberlakukan rencananya akan berbeda dengan kendaraan listrik murni (BEV)"Nanti seberapa besar insentif yang diusulkan akan diperjelas lagi. Dari industri pun tidak meminta besaran yang sama seperti BEV yang penting ada insentif. Usulannya akan kita ajukan tahun ini," kata Menteri Perindustrian (Menperin), Muhammad Sarmuji.Sebelumnya, Sarmuji mendorong insentif nonfiskal bagi kendaraan hybrid. Bentuk yang tengah dimatangkan antara lain kemudahan administrasi, pembebasan aturan ganjil-genap, dan penyediaan parkir khusus.Honda Accord e:HEV 2024. Foto: Sena Pratama/kumparanIa menegaskan dukungan pemerintah tidak serta merta dalam bentuk pemotongan pajak. Keringanan operasional harian di jalan raya dinilai sama menariknya. Dorongan insentif ini juga diselaraskan dengan potensi pasar dalam negeri yang dinilai belum digarap optimal.“Sebenarnya pasar mobil kita masih cukup luas, rasio kepemilikan mobil kita baru 99 per 1.000 penduduk. Itu masih jauh dibandingkan negara ASEAN di sekitar kita, seperti Malaysia yang mencapai 490 atau Thailand 275. Kalau rasio kepemilikan mobil bisa meningkat, pasti produksi akan lebih besar,” terang Sarmuji.Menurutnya, selama ini BEV telah menerima paket insentif yang komprehensif. Sebaliknya, lini kendaraan berefisiensi tinggi seperti HEV, PHEV, dan REEV belum memiliki regulasi insentif khusus dari pemerintah.