Tim BryotechAlpha dan tim I-SEUNG, juara pertama Samsung Solve for Tomorrow 2026. Foto: dok. SamsungImplementasi artificial intelligence (AI) semakin masif digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Entah untuk membantu menyelesaikan pekerjaan atau sekadar bertanya rekomendasi makan siang, AI seolah membawa peran penting di hidup kita.Namun, kemudahan ini memunculkan tantangan baru bagi generasi muda. Alih-alih membuat kita terlena karena kemudahannya, kehadiran AI harusnya dapat menciptakan inovasi yang memberikan dampak untuk masyarakat luas.Hal inilah yang menjadi latar belakang terselenggaranya Samsung Solve for Tomorrow 2026. Inisiatif Samsung ini mengajak generasi muda untuk mengembangkan ide dan menyusun solusi berbasis AI.Usai menjalankan workshop design thinking dan menyempurnakan concept paper, sebanyak 40 tim melaju ke babak semifinal untuk mengikuti pelatihan AI Amplification dan sesi mentoring bersama para ahli dari Samsung serta mitra program.Dari 40 tim itu, BryotechAlpha dari SMA Negeri 81 Jakarta menjadi juara pertama kategori SMA/SMK/MA, sedangkan tim I-SEUNG dari Universitas Komputer Indonesia meraih juara pertama kategori Perguruan Tinggi.Kembangkan AeroSpora, BryotechAlpha Hadirkan Dinding Lumut Pintar untuk Udara BersihTim BryotechAlpha dari SMA Negeri 81 Jakarta mengembangkan AeroSpora, dinding lumut pintar yang memurnikan udara secara alami dengan dukungan Internet of Things (IoT) dan AI.Berangkat dari masalah polusi udara di Jakarta, BryotechAlpha mencatat konsentrasi PM2.5 di Jakarta mencapai 41 µg/m³ pada Oktober 2026. Angka ini sekitar 2,5 kali lipat di atas batas aman harian WHO sebesar 15 µg/m³.AeroSpora memanfaatkan lumut sebagai penyaring udara alami. Sensor pada perangkat ini memantau suhu, kelembapan udara, kelembapan media tanam, dan kadar debu PM2.5 secara real-time.Tim BryotechAlpha dari SMA Negeri 81 Jakarta mengembangkan AeroSpora, inovasi dinding lumut pintar berbasis IoT dan AI untuk menyaring udara. Foto: dok. SamsungModel TinyML pada mikrokontroler ESP32-S3 memprediksi risiko kekeringan lumut, lalu sistem pengabutan otomatis menjaga kelembapannya. Sistem ini juga memanfaatkan air kondensasi AC sebagai sumber air pengabutan.Pengguna dapat memantau seluruh data melalui V.E.R.A (Visual Environment Real-time Analytics), stasiun pemantau dari tablet bekas yang juga menyediakan chatbot edukatif AeroSpora AI. Perangkat berukuran 120 x 50 cm ini membutuhkan daya 15–25 watt dan mampu menjangkau ruangan seluas 50–80 m².Azkeanu Rhesa Ramadhan sebagai perwakilan tim BryotechAlpha, mengungkapkan, AeroSpora diharapkan dapat menghadirkan udara yang lebih bersih bagi warga Jakarta melalui perpaduan alam dan teknologi."Samsung Solve for Tomorrow memberikan pengalaman berharga bagi kami untuk berani berpikir lebih jauh. Selama program, kami juga mendalami STEM, AI, dan kerja sama tim,” ujar Keanu.NovaSight, Aplikasi Matematika Inklusif untuk Siswa TunanetraDi sisi lain, tim I-SEUNG dari Universitas Komputer Indonesia mengembangkan NovaSight, aplikasi pembelajaran matematika inklusif berbasis AI untuk siswa tunanetra. Para anggota menemukan masalah ini melalui wawancara di SLB Negeri A Citeureup, Cimahi.Perwakilan tim I-SEUNG, Regia Qolbu Rivita Atmowidjaja mengatakan bahwa ide NovaSight berawal dari kepedulian anggota tim terhadap siswa tunanetra yang kesulitan memahami grafik dan diagram matematika.Menurut penelitian mereka, siswa tunanetra masih kesulitan memahami grafik dan diagram dalam materi matematika, sedangkan guru kesulitan menilai langkah pengerjaan soal mereka. Berdasarkan data Kemendikdasmen, sebanyak 4.229 siswa tunanetra bersekolah di SLB di seluruh Indonesia.Tim I-SEUNG dari Universitas Komputer Indonesia menghadirkan NovaSight, aplikasi pembelajaran matematika berbasis AI yang dirancang untuk mendukung siswa tunanetra. Foto: dok. SamsungNovaSight memiliki lima fitur utama. Pertama, Annoter mengubah modul matematika menjadi teks naratif agar pembaca layar dapat membacanya secara utuh. Lalu ada Scriber membantu siswa mencatat langkah penyelesaian soal melalui keyboard yang kompatibel dengan pembaca layar.Ketiga, Clarifier yang menjawab pertanyaan siswa berdasarkan modul pembelajaran dan sumber terpercaya. Keempat, Quizzer akan membantu guru menyusun soal beserta kunci jawaban. Lalu terakhir, Evaluaizer yang bisa menganalisis langkah pengerjaan siswa untuk menemukan kesalahan.Dalam uji coba NovaSight, siswa tunanetra berhasil menjawab benar 4 dari 5 soal secara mandiri dalam waktu 15 menit tanpa pendampingan guru.Melalui Samsung Solve for Tomorrow, anggota I-SEUNG belajar untuk mengembangkan ide tersebut menjadi solusi yang lebih matang, sekaligus memahami pentingnya kolaborasi dan pemanfaatan teknologi untuk menjawab kebutuhan masyarakat."Kemenangan ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus menyempurnakan NovaSight agar dapat memberikan manfaat nyata bagi lebih banyak siswa," ujar Regia.Samsung Dorong Generasi Muda Menjadi Problem SolverBagi Samsung, Solve for Tomorrow merupakan wadah bagi generasi muda untuk mengenali tantangan di sekitar mereka dan membangun pola pikir sebagai problem solver. Sepanjang program berjalan, peserta mendapatkan pelatihan Design Thinking, pelatihan AI, serta pendampingan dari mentor. Pembekalan tersebut mengasah keterampilan, yaitu komunikasi, kolaborasi, berpikir kritis, dan kreativitas.Head of Corporate Marketing Samsung Electronics Indonesia, Anggi Paramita mengatakan, Samsung sangat mengapresiasi semangat, kreativitas, dan kepedulian yang ditunjukkan para peserta Samsung Solve for Tomorrow 2026."Kami bangga dan terinspirasi melihat generasi muda Indonesia mengubah tantangan di sekitar mereka menjadi ide dan solusi inovatif. Kami berharap pencapaian ini menjadi langkah awal bagi para pemenang untuk terus belajar, mengembangkan inovasi, dan menciptakan dampak positif yang lebih luas bagi masyarakat melalui pemanfaatan STEM dan AI,” ujarnya.Sementara itu, Tenaga Ahli Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI, Assoc. Prof. Suparto, menyebut, Samsung Solve for Tomorrow dapat menjadi bukti bahwa generasi muda Indonesia bisa melahirkan ide-ide unik di bidang IT."Kita perlu menyiapkan potensi tersebut secara terarah agar terus berkembang. Saya berharap ada lembaga lain seperti Samsung yang bersedia jadi orkestrator muncul inovator muda,” tambahnya.Senada dengan Suparto, Yuli Haryanto selaku Direktur Sekolah Menengah Atas, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Republik Indonesia, mengatakan, keberhasilan pendidikan tidak hanya terlihat dari apa yang dipelajari siswa, tetapi juga dari bagaimana mereka menggunakan pengetahuan untuk menjawab tantangan nyata."Kami mengapresiasi Samsung Solve for Tomorrow 2026 sebagai kompetisi yang mendorong generasi muda, khususnya siswa SMA mengintegrasikan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi inovasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat," kata Yuli.Melalui semangat “Together for Tomorrow! Enabling People”, Samsung berharap Solve for Tomorrow terus mendorong generasi muda untuk bereksperimen dan menciptakan solusi yang bermanfaat. Samsung juga akan terus memperkuat kolaborasi dengan pemerintah, dunia pendidikan, dan para praktisi untuk menumbuhkan lebih banyak inovator muda Indonesia.