Fenomena Agnostik Jadi Pembahasan Munas Tarjih Muhammadiyah

Wait 5 sec.

Ilustrasi langit. Foto: Sulthony Hasanuddin/ANTARA FOTO Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah menggelar Musyawarah Nasional (Munas) XXXIII di Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) pada 5-7 November 2026.Majelis Tarjih dan Tajdid adalah majelis di lingkungan Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang bertugas mengkaji, menetapkan, dan mengembangkan pemahaman keagamaan berdasarkan Al-Quran dan Sunah.Salah satu yang dibahas dalam Munas XXXIII adalah kecenderungan sikap agnostik, yakni ketidakpedulian terhadap ada atau tidaknya Tuhan."Risalah akidah itu bertujuan untuk memperkuat akidah umat. Dalam perkembangan mutakhir masyarakat kita yang disinyalir antara lain dalam sebuah buku yang berjudul The Return of God Hypothesis yang mensinyalir adanya kecenderungan tidak percaya kepada Tuhan atau paling tidak agnostik, sikap agnostik, yaitu tidak peduli Tuhan itu mau ada apa tidak, nggak penting," kata Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Syamsul Anwar di Kantor PP Muhammadiyah, Yogyakarta, Senin (2/11/2026)."Nah, jadi itu disinyalir itu ke depan akan menjadi ya walaupun mungkin belum tren, tapi sudah ada tanda-tanda awalnya. Oleh karena itu, Muhammadiyah membahas penguatan akidah," katanya.Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Syamsul Anwar ditemui di Kantor PP Muhammadiyah, Yogyakarta, Senin (2/11/2026). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparanSyamsul berharap hal ini belum/tidak terjadi di Indonesia. Namun, di banyak negara maju, khususnya Amerika, menyatakan anak-anak muda di universitas semakin tidak percaya lagi kepada adanya Tuhan atau paling tidak ragu, tidak peduli."Jadi ini disinyalir oleh penulis buku tersebut yang dia katakan salah satu penyebabnya adalah munculnya buku sebelumnya. Buku sebelumnya itu ditulis oleh seorang berkebangsaan Inggris yang memang tidak percaya kepada Tuhan, menulis buku berjudul God Delusion, delusi Tuhan," katanya."Jadi, delusi itu ya ketidakbenaran tentang Tuhan itu. Buku itu berpengaruh kepada anak-anak muda di Amerika menurut penulis The Death of God Hypothesis tadi itu," bebernya.Banyak Pertanyaan tentang AgnostikSyamsul mengatakan ketika dirinya mengisi ceramah-ceramah, kerap ditanya tentang persoalan agnostik tersebut."Jadi, bagaimana tanggapan Muhammadiyah, gitu? Saya waktu itu menjawab secara enteng saja, tidak mau membawa pendengarnya kepada ranah yang rumit. Saya mengatakan, perkembangan spiritual itu bersifat zigzag. Pada suatu saat orang rindu kepada agama, pada saat lain orang bosan kepada agama. Begitu terus belok-belok sejak dari zaman dulu," katanya.Menurutnya, di zaman tengah, orang sangat percaya pada Tuhan. Lalu, di zaman Renaisans, orang semakin tidak percaya kepada Tuhan dan semakin sekuler."Terus Megatrends [Megatrends 2000-Red] menyatakan salah satu ciri abad ke-21 adalah kebangkitan kembali agama. Penulis buku The Death of God Hypothesis tadi menyatakan ujung abad ke-21 ini ada tanda-tanda orang ya agnostik, tidak peduli kepada Tuhan, apakah dia ada atau tidak, jadi begitu, zigzag," katanya.Melihat fenomena ini, Syamsul mengatakan Muhammadiyah tidak boleh berpangku tangan saja."Ya, bagi masyarakat seperti orang-orang Muhammadiyah, kepercayaan kepada Tuhan itu adalah penting, apalagi kita bangsa Indonesia, sila yang pertama adalah Ketuhanan Yang Maha Esa," tegasnya.