BorneoFlash.com, JAKARTA - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengerahkan satu unit helikopter water bombing untuk menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat.Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan helikopter itu telah melakukan 69 kali penyiraman air secara kumulatif.BNPB menjalankan operasi water bombing dalam dua sortie pada Jumat (28/8). Pada sortie pertama, helikopter melakukan 26 kali penyiraman di Klaster 3 dengan sekitar 26 ribu liter air untuk memadamkan api di area seluas empat hektare.Pada sortie kedua, helikopter melakukan 28 kali penyiraman di Klaster 1 dengan sekitar 28 ribu liter air untuk memadamkan api di area seluas tiga hektare."Petugas tidak lagi menemukan kobaran api di kedua lokasi. Namun, kepulan asap tipis masih muncul sehingga petugas terus memantau dan melakukan pemadaman untuk mencegah api kembali menyala," kata Berton.Secara kumulatif, BNPB telah menjalankan tiga sortie dan melakukan 69 kali water bombing dengan sekitar 69 ribu liter air.BNPB juga memantau karhutla di Fakfak, Manokwari Selatan, dan Pegunungan Arfak. BNPB menyesuaikan pengerahan helikopter dengan kondisi wilayah, kebutuhan penanganan, serta aspek teknis dan keselamatan operasi.Berton mengatakan BNPB akan terus mengevaluasi penggunaan helikopter PK-DBM berdasarkan perkembangan karhutla. BNPB mempertimbangkan kondisi helikopter, jarak lokasi, akses pangkalan, ketersediaan sumber air, dan karakteristik medan."Pertimbangan teknis sangat penting, terutama untuk wilayah pegunungan dan lokasi kebakaran yang sulit dijangkau," ujarnya.Berdasarkan pantauan satelit NASA-Terra/Aqua, NASA-SNPP, dan NASA-NOAA20 hingga pukul 19.00 WIB pada 28 Agustus 2026, BNPB mencatat 36 titik panas di Papua Barat. Sebanyak satu titik memiliki tingkat kepercayaan rendah, 31 titik sedang, dan empat titik tinggi.Data SIPONGI Kementerian Kehutanan mencatat luas indikatif lahan terbakar di Papua Barat mencapai 2.496,39 hektare hingga 27 Agustus 2026.BNPB bersama BPBD dan unsur terkait terus memantau dan menangani karhutla untuk mencegah api meluas serta melindungi masyarakat dan lingkungan. (*)