Populer: AS Kuasai Minyak Venezuela; Singapura Lelang Aset Pencucian Uang

Wait 5 sec.

Seorang pekerja minyak Venezuela dari perusahaan negara PDVSA berpartisipasi dalam pengisian tanker minyak di terminal pengiriman dan penyimpanan Jose, 200 mil sebelah timur Caracas, Venezuela. Foto: Jorge Silva/REUTERSRencana AS mengambil alih kekayaan minyak Venezuela menjadi salah satu berita populer kumparanBISNIS sepanjang Sabtu (29/8). Selain itu, Singapura akan melelang aset mewah dari kasus pencucian uang terbesar. Untuk lebih jelasnya, berikut rangkuman berita populer tersebut:AS Siap Ambil Alih Sebagian Besar Kekayaan Minyak VenezuelaKilang El Palito milik perusahaan minyak negara Venezuela PDVSA, di Puerto Cabello, Venezuela. Foto: Leonardo Fernandez Viloria/REUTERSPemerintah Amerika Serikat (AS) bersiap mengambil kendali mayoritas atas 55 persen produksi efektif dari perusahaan patungan di Venezuela. Langkah strategis ini mengamankan kendali atas cadangan minyak terbukti sebesar 65 miliar barel melalui konsesi jangka panjang selama 100 tahun. Dengan volume cadangan tersebut, entitas baru ini diproyeksikan menjadi pemegang cadangan minyak terbesar kedua di dunia setelah Saudi Aramco, guna mengamankan pasokan energi domestik dan kebutuhan militer AS.Kemitraan yang melibatkan bisnis swasta ini diperkirakan akan menyumbang pendapatan pajak sebesar 209 miliar dolar AS bagi Venezuela melalui pengelolaan 17 ladang minyak strategis. Namun, langkah ekspansif di bawah Doktrin Monroe ini dinilai sarat risiko politik. Analis Bloomberg Economics memperingatkan adanya potensi ketidakstabilan hukum dan risiko investasi jangka panjang, mengingat tingkat produksi minyak Venezuela saat ini hanya berada di angka 1,16 juta barel per hari pada Juli 2026, merosot tajam hingga kurang dari setengah kapasitas produksinya dibanding satu dekade lalu akibat minimnya investasi.Singapura Bakal lelang Aset Mewah dari Kasus Pencucian Uang TerbesarIlustrasi properti di Singapura. Foto: ShutterstockPemerintah Singapura melalui firma konsultan Deloitte akan melikuidasi aset sitaan senilai SGD 3 miliar atau setara USD 2,4 miliar yang diperoleh dari kasus pencucian uang terbesar di negara tersebut. Proses divestasi yang mencakup lebih dari 80 properti real estate serta lebih dari 1.000 aksesoris mewah seperti perhiasan, jam tangan, dan tas desainer ini dijadwalkan berlangsung secara bertahap mulai September 2026 hingga pertengahan tahun 2027.Langkah likuidasi ini berdampak signifikan pada dinamika pasar properti mewah di Singapura. Meskipun sektor properti premium lokal secara umum masih menunjukkan tren penguatan, sejumlah aset sitaan di kawasan elite seperti Orchard Road dan Sentosa terpaksa dijual dengan diskon besar demi mempercepat pemulihan dana kreditur perbankan. Salah satu aset properti tepi laut yang bernilai tinggi di Sentosa bahkan terpaksa dilepas seharga SGD 22 juta, menyusut hampir setengah dari harga pembelian awal yang telah digelembungkan oleh para pelaku kejahatan.