Usai Rebound Kuat, Harga Emas Kembali Fluktuatif Jelang Keputusan The Fed

Wait 5 sec.

Ilustrasi emas batangan. Foto: Athit Perawongmetha/REUTERSHarga emas dunia sempat mengalami kenaikan (rebound) kuat, tetapi kembali bergerak fluktuatif. Pergerakan ini dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik, inflasi Amerika Serikat (AS) serta arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed).Salah satu sentimen yang sebelumnya mendorong penguatan emas sebelumnya adalah meredanya ketegangan Iran. Kondisi tersebut membuat harga minyak turun sehingga tekanan terhadap inflasi ikut berkurang.“Isu utama yang mendorong inflasi saat ini adalah geopolitik Iran, dan sekarang mulai mereda,” kata Analis Wahyu Laksono kepada kumparan, Minggu (30/8).Namun, meredanya konflik Iran belum sepenuhnya menghilangkan ketidakpastian di pasar. Investor kini masih mencermati arah kebijakan The Fed, terutama setelah Ketua The Fed Kevin Warsh kembali menekankan pentingnya memastikan inflasi benar-benar bergerak menuju target 2 persen.Menurut Wahyu, sikap Warsh menunjukkan bahwa The Fed masih melihat inflasi sebagai persoalan yang perlu diperhatikan. Meski data inflasi AS belakangan membaik, kondisi tersebut belum cukup untuk memastikan tekanan inflasi sudah benar-benar berakhir.Di sisi lain, ekonomi AS masih cukup kuat. Pengeluaran masyarakat tetap sehat, pasar tenaga kerja stabil, dan tingkat pengangguran masih rendah. Kondisi ini membuat keputusan The Fed pada September menjadi penting bagi pergerakan pasar keuangan, termasuk emas.“FOMC September menjadi faktor sangat penting. Jika tidak ada kenaikan suku bunga, maka potensi penguatan emas masih terbuka,” ujar Wahyu.Wahyu menilai harga emas masih memiliki peluang untuk kembali menguat dalam jangka menengah. XAUUSD diperkirakan bergerak dalam kisaran USD 3.900-4.900 dengan titik tengah sekitar USD 4.400.“Untuk sementara, potensi rebound lanjut menembus USD 4.900 lebih kuat dibandingkan USD 3.900. Jadi potensi kenaikan masih cukup terbuka,” katanya.Jika harga emas mampu menembus level USD 4.900, tren kenaikan berpeluang berlanjut. Sebaliknya, jika turun menembus level USD 3.900, emas berpotensi melanjutkan pelemahan.Ilustrasi Emas Batangan Foto: ShutterstockDengan demikian, pergerakan emas dalam beberapa waktu ke depan masih akan dipengaruhi oleh perkembangan inflasi, situasi geopolitik Iran, dan keputusan The Fed pada September.Selaras, Analis Komoditas Ibrahim Assuaibi menilai tidak adanya toleransi terhadap inflasi tinggi juga menjadi faktor yang membuat harga emas sempat terkoreksi cukup tajam.“Tidak ada toleransi untuk inflasi tinggi. Inflasi tinggi membuat harga emas ini terkoreksi cukup tajam kemarin,” kata Ibrahim.Menurut Ibrahim, sikap tersebut sejalan dengan keinginan Presiden AS Donald Trump agar inflasi kembali mendekati target 2 persen. Dalam pertemuan sebelumnya pada Agustus, The Fed juga mempertahankan suku bunga. Ibrahim menilai kondisi tersebut membuat pasar sempat bergejolak, meski koreksi harga emas diperkirakan hanya berlangsung sementara.“Ini yang kemungkinan besar membuat pasar sedikit bergejolak, walaupun terkoreksi kemungkinan besar akan terkoreksi sesaat,” ujarnya.Di sisi lain, Ibrahim melihat permintaan emas global masih menunjukkan peningkatan. Ia menyebut permintaan emas yang sebelumnya sekitar 50 ton pada Juni meningkat menjadi sekitar 100 ton pada Juli. Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan permintaan emas masih kuat.“Artinya, harga emas dunia kemungkinan besar masih akan terus mengalami kenaikan,” kata Ibrahim.Ibrahim juga memperkirakan harga emas di dalam negeri, termasuk Logam Mulia, masih berpotensi meningkat. Salah satu faktor yang dapat menopangnya adalah pelemahan nilai tukar rupiah.“Pelemahan rupiah kemungkinan besar akan kembali ke level Rp 17.900 per dolar AS. Ini yang akan menahan laju pelemahan harga Logam Mulia,” ujarnya.