AS Blokir Robot dan Drone China, Dominasi Global Tetap Sulit Dibendung

Wait 5 sec.

Robot humanoid Tiangong berpartisipasi dalam kontes lompat tinggi selama World Humanoid Robot Games 2026 di National Speed Skating Oval di Beijing, China, Selasa (25/8/2026). Foto: Tingshu Wang/REUTERSAmerika Serikat memperketat pembatasan terhadap teknologi robotika dan drone buatan luar negeri, terutama produk yang dinilai berisiko terhadap keamanan nasional. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya Washington mengurangi ketergantungan pada rantai pasok asing sekaligus memperkuat industri teknologi dalam negeri.Pada Juli 2026, Federal Communications Commission (FCC) memperketat aturan terhadap sejumlah perangkat robot canggih buatan asing. Kebijakan itu membuat perangkat yang masuk dalam kategori tertentu tidak lagi mudah memperoleh otorisasi untuk diimpor, dipasarkan, atau dijual di Amerika Serikat.Sebulan kemudian, pemerintahan Donald Trump mengambil langkah lebih jauh terhadap industri drone. Pada 13 Agustus 2026, Washington mengumumkan tarif hingga 100 persen untuk sejumlah pesawat tanpa awak (UAS) dan komponen yang dianggap sensitif bagi keamanan nasional.Tarif 100 persen berlaku untuk drone dengan bobot maksimum lepas landas di atas 25 kilogram, drone yang dilengkapi kemampuan pencitraan termal, docking station tertentu, serta sejumlah komponen penting. Drone yang lebih kecil dan sejumlah komponen lainnya dikenai tarif 25 persen. Tarif tersebut mulai berlaku pada 3 September 2026, sementara sebagian tarif komponen akan berlaku mulai Februari 2027.Ilustrasi reaper drone. Foto: Dok. defencedirecteducationWashington menyatakan kebijakan tersebut diperlukan untuk memperluas kapasitas produksi domestik dan mengurangi risiko terhadap keamanan nasional. Namun, persoalannya bukan sekadar bagaimana membatasi produk China masuk ke pasar Amerika Serikat.Tantangan yang lebih besar adalah skala industri China. Di sektor robot humanoid, misalnya, perusahaan-perusahaan China sudah memiliki posisi dominan sebelum pembatasan tersebut diberlakukan.China Menguasai Produksi Robot HumanoidData Counterpoint Research menunjukkan betapa besar kesenjangan tersebut.Pengiriman robot humanoid global menembus lebih dari 22.000 unit pada semester pertama 2026, melonjak hampir 300 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Lima produsen dengan pengiriman terbesar seluruhnya berasal dari China, yakni AgiBot, Unitree, Galbot, UBTECH, dan Leju Robotics.Kelima perusahaan tersebut secara bersama-sama menguasai 86 persen pengiriman robot humanoid global pada paruh pertama tahun ini. AgiBot berada di posisi teratas dengan sekitar 9.700 unit dan pangsa pasar lebih dari 43 persen. Unitree menyusul dengan lebih dari 7.000 unit atau sekitar 31 persen.Angka tersebut menunjukkan bahwa dominasi China bukan hanya soal jumlah perusahaan, tetapi juga kemampuan memproduksi robot dalam skala besar.Counterpoint memperkirakan pengiriman robot humanoid global dapat menembus 50.000 unit sepanjang 2026. Pada saat yang sama, penggunaan robot mulai bergerak dari sekadar demonstrasi dan penelitian menuju manufaktur serta logistik.Skala produksi tersebut menciptakan keuntungan yang sulit dikejar pesaing. Semakin banyak robot diproduksi dan digunakan, semakin besar peluang perusahaan mengumpulkan data dari penggunaan di dunia nyata. Data tersebut dapat digunakan untuk meningkatkan perangkat lunak, model AI, dan kemampuan robot dalam menjalankan berbagai tugas.Pada saat yang sama, volume produksi yang tinggi membantu menekan biaya. Harga yang lebih rendah kemudian membuat robot lebih mudah diadopsi, menciptakan siklus yang kembali meningkatkan volume produksi.Robot humanoid berpartisipasi dalam pertandingan kickboxing kelas 58kg, selama World Humanoid Robot Games 2026 di National Speed Skating Oval di Beijing, China, Senin (24/8/2026). Foto: Florence Lo/REUTERSAnkur Saxena, investment director di TDK Ventures, menggambarkan perbedaan posisi kedua negara secara sederhana. Amerika Serikat masih unggul dalam AI frontier, perangkat lunak, dan inovasi semikonduktor. China, di sisi lain, memiliki keunggulan dalam skala manufaktur, kedalaman rantai pasok, dan biaya produksi.Menurut Saxena, pembatasan perdagangan saja tidak cukup untuk menghilangkan keunggulan biaya tersebut. Amerika Serikat perlu membangun kapasitas manufaktur dalam skala besar jika ingin mengejar ketertinggalan.Pembatasan AS Belum Tentu Menghentikan Ekspansi ChinaPembatasan akses ke pasar Amerika Serikat memang dapat mengurangi salah satu pasar potensial bagi produsen China. Namun, hal tersebut tidak otomatis menghilangkan daya saing mereka secara global.China memiliki pasar domestik yang sangat besar sekaligus basis manufaktur yang sudah terbentuk. Perusahaan robotik China juga memiliki banyak pilihan pasar lain, terutama negara-negara yang menghadapi kekurangan tenaga kerja dan membutuhkan otomatisasi dengan biaya relatif terjangkau.Analis utama Counterpoint Research, Soumen Mandal, mengatakan produsen robot humanoid China telah membidik pasar di Eropa, Asia Tenggara, Amerika Latin, dan Timur Tengah.Pola ekspansi tersebut berpotensi menyerupai strategi industri kendaraan listrik China: membangun skala di dalam negeri, masuk ke pasar luar negeri dengan harga kompetitif, kemudian membangun fasilitas produksi lokal ketika pasar sudah berkembang.Strategi seperti ini juga dapat membantu perusahaan menghadapi hambatan perdagangan di masa depan.Alih-alih bergantung pada satu pasar global, produsen dapat membangun jaringan produksi yang lebih terdesentralisasi. Bagi negara-negara yang mengalami penurunan jumlah tenaga kerja atau biaya tenaga kerja yang meningkat, robot humanoid bahkan berpotensi menjadi salah satu solusi untuk mempertahankan produktivitas industri.