Ilustrasi Wall Street. Foto: ShutterstockWall Street ditutup melemah pada perdagangan Senin (31/8). Lonjakan harga minyak mentah akibat konflik Timur Tengah kembali memicu kekhawatiran inflasi sekaligus memperbesar peluang pengetatan kebijakan moneter AS.Mengutip Reuters, lonjakan harga minyak menekan selera risiko investor dan mendongkrak yield obligasi AS (US Treasury). Pasar masih merespons sikap keras (hawkish) Ketua The Fed Kevin Warsh dalam pidatonya di Simposium Jackson Hole.Kendati melemah di akhir bulan, ketiga indeks utama Wall Street tetap membukukan penguatan sepanjang Agustus 2026. Nasdaq mencatatkan persentase kenaikan tertinggi ditopang tren saham berbasis kecerdasan buatan (AI), sementara Dow Jones mencetak penguatan bulanan selama lima bulan berturut-turut."Sikap Warsh pekan lalu membuat peluang kenaikan suku bunga pada September kini semakin tinggi, ditambah dengan berlanjutnya konflik di Timur Tengah. Menjelang libur Labor Day, volume transaksi cenderung menipis sehingga pergerakan pasar menjadi rentan fluktuatif," ujar Presiden Chase Investment Counsel, Peter Tuz, mengutip Reuters, Selasa (1/9).Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa Teheran masih mengupayakan jalur negosiasi. Pernyataan ini muncul di tengah saling serang serangan udara dan meningkatnya ketegangan menyusul sanksi ekonomi dari Presiden AS Donald Trump.Konflik yang berlarut-larut serta ancaman penutupan Selat Hormuz memicu kekhawatiran bahwa lonjakan harga energi dapat meluas menjadi inflasi sistemik. Kondisi tersebut berpotensi memaksa The Fed menaikkan suku bunga pada pertemuan bulan depan.Berdasarkan indikator CME FedWatch, pelaku pasar keuangan kini memperhitungkan lebih dari 65 persen probabilitas bahwa bank sentral AS akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September."Investor kembali mencermati pernyataan Warsh di Jackson Hole dan dampaknya terhadap suku bunga serta inflasi. Jika The Fed tidak menaikkan suku bunga pada September, pasar diperkirakan akan bereaksi drastis karena ekspektasi tersebut sudah terbentuk cukup lama," kata Penasihat Kekayaan Senior Murphy & Sylvest, Paul Nolte.Pada penutupan perdagangan, indeks Dow Jones Industrial Average merosot 374,09 poin atau 0,70 persen ke level 53.185,90. S&P 500 terkoreksi 25,62 poin atau 0,33 persen menjadi 7.686,14, dan Nasdaq Composite melemah 31,53 poin atau 0,12 persen ke posisi 26.370,89.Dari 11 sektor utama di S&P 500, sektor energi mencatatkan penguatan tertinggi berkat lonjakan harga minyak mentah. Saham Halliburton dan Valero Energy masing-masing menguat 1,9 persen.Sebaliknya, sektor utilitas menjadi yang paling melemah akibat amendemen RUU di Senat California terkait tanggung jawab operator atas risiko kebakaran hutan. Saham PG&E asal California anjlok 20,1 persen, yang merupakan penurunan harian terbesar dalam lebih dari enam tahun.Sementara itu, saham GameStop naik 2,9 persen setelah perusahaan mengumumkan akan mendanai sekitar 27 persen dari penukaran utang senilai USD 1,4 miliar menggunakan kas internal, sehingga mencegah dilusi saham.Di Bursa Efek New York (NYSE), saham yang melemah mendominasi dengan rasio 1,95 banding 1 terhadap saham yang menguat. Sebanyak 112 saham mencatatkan rekor tertinggi baru dan 234 saham mencatatkan rekor terendah.Di bursa Nasdaq, sebanyak 1.859 saham menguat dan 2.931 saham melemah, atau berbanding 1,58 banding 1 untuk keunggulan saham yang turun.Volume perdagangan di bursa-bursa AS mencapai 15,65 miliar saham, sedikit di atas rata-rata harian 15,58 miliar saham dalam 20 hari perdagangan terakhir.