Teater King Lear Siap Pentas di GKJ, Angkat Karya William Shakespeare

Wait 5 sec.

Jumpa pers teater King Lear di Sudirman, Jakarta Pusat, Senin (31/8/2026). Foto: kumparanPanggung teater Indonesia siap menyambut salah satu mahakarya kelas dunia. Tragedi King Lear karya William Shakespeare, yang disutradarai oleh maestro teater Jepang, Tadashi Suzuki, siap dipentaskan pada 16–17 September 2026 di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ).Produksi ini jadi hasil kolaborasi antara Suzuki Company of Toga (SCOT) dan Bumi Purnati Indonesia, dengan dukungan dari The Japan Foundation.Kehadiran King Lear di Jakarta menjadi bagian dari program Partnership to Co-create a Future with the Next Generation: WA Project 2.0, inisiatif pertukaran budaya, menghubungkan masyarakat Asia Tenggara dan Jepang.Produser Bumi Purnati Indonesia, Restu Kusumaningrum, menjelaskan pementasan ini punya sejarah panjang yang telah dimulai sejak empat dekade lalu."King Lear itu produksi sejak 1984. Sudah berganti dengan beberapa aktor dan berjalan di beberapa negara. Sekarang tahun 2024. Beberapa aktor yang masih main case atau aktor utamanya Alan, Anna, Anna dari Rusia itu masih yang lama. Namun yang lainnya sudah yang baru," ujar Restu dalam jumpa pers di Sudirman, Jakarta Selatan, Senin (31/8).Pemeran Utama dari IndonesiaPementasan kali ini menjadi sangat istimewa karena peran utama, King Lear, akan dimainkan oleh aktor berbakat asal Indonesia, Jamaluddin Latif.Peran ikonik ini sebelumnya selama bertahun tahun diperankan oleh aktor asal Jerman, Goetz Argus. Setelah sang aktor wafat, tongkat estafet peran diteruskan kepada generasi berikutnya melalui Jamaluddin.Restu mengungkap, Jamaluddin Latif dipilih langsung oleh Tadashi Suzuki berdasarkan pengamatan selama bertahun-tahun serta kepercayaan yang tumbuh melalui kolaborasi panjang.Jumpa pers teater King Lear di Sudirman, Jakarta Pusat, Senin (31/8/2026). Foto: kumparan"Ini kembali lagi kalau kita sudah melakukan kerja sama itu adalah sebuah kepercayaan. Jadi hubungan SCOT dan Purnati itu adalah trust, kepercayaan. Dari situlah Suzuki mulai melihat dari awalnya siapa aktor-aktor yang datang ke Toga dari Indonesia dan beliau secara pribadi melihat satu per satu karakternya, cara jalannya, terus tata caranya," jelas Restu.Proses ini juga melibatkan latihan yang sangat intensif di Toga, Jepang. Para aktor yang berasal dari berbagai negara seperti Jepang, Italia, Amerika Serikat, Rusia, hingga Chile, berkumpul dua bulan untuk menyatukan visi melalui Suzuki Method of Actor Training.Restu menambahkan, proyek ini membutuhkan fokus tinggi dan kebersamaan fisik antar aktor. Meskipun mereka berasal dari latar belakang bahasa yang berbeda, mereka bertemu melalui disiplin tubuh yang presisi."Mereka berlatih membaca teksnya di negara masing-masing tetapi berkumpul 2 bulan, kurang lebih 2 bulan intens. Jadi sekarang sudah latihan bersama-sama kurang lebih 2 bulan. Itu di Toga," tutur Restu.Pendekatan Tadashi SuzukiJumpa pers teater King Lear di Sudirman, Jakarta Pusat, Senin (31/8/2026). Foto: kumparanDalam pendekatannya, Tadashi Suzuki populer sebagai sutradara teater yang bekerja dengan insting dan perasaan. Restu menceritakan, ia harus belajar memahami cara berkomunikasi Suzuki yang lebih banyak menggunakan keheningan dan observasi daripada kata-kata."Biasanya kalau dengan saya beliau jarang bicara, sedikit sekali bicaranya. 5 menit, 10 menit pertemuan bicara 3 menit. 5 menit pertemuan bicara 2 menit. Dan itu hanya dengan perasaan, dengan feeling. Jadi saya dilatih untuk 2 jam sampai 3 jam duduk tidak banyak bicara dan mendengarkan. Kadang-kadang hujan, kadang-kadang panas karena memang begitulah cara Suzuki," kenang Restu.Terkait biaya produksi, Restu menegaskan Bumi Purnati tidak menitikberatkan pada keuntungan finansial. Baginya, membawa karya sebesar ini ke hadapan publik Indonesia jadi bentuk investasi bagi dunia pendidikan dan kebudayaan."Ini bukan cara kami untuk mencari, maaf, income atau untuk mendapatkan keuntungan, jauh dari itu. Ini kembali lagi investment, long term investment, investasi jangka panjang untuk pendidikan, untuk kebudayaan bangsa kita bersama," tegas Restu.Bagi kamu yang tertarik menyaksikan tragedi King Lear, informasi mengenai harga dan pembelian tiket dapat diakses melalui situs resmi penyelenggara.