Banten Selatan yang Pernah Menjadi Penting

Wait 5 sec.

Peta Banten 1900/delpher.nlSekitar enam tahun lalu, di tengah pandemi Covid-19, saya bersama teman-teman di tempat kelahiran kami, Labuan, Kabupaten Pandeglang, mendirikan sebuah komunitas bernama Tjiringinese. Nama ini terinspirasi dari Tjiringin atau Caringin, yang pada masa lalu memiliki posisi penting dalam perjalanan sejarah Banten. Di Caringin pula terdapat pusara Syekh Asnawi, salah satu ulama penting dalam sejarah keislaman Banten.Dari komunitas kecil itulah saya semakin menyadari bahwa Banten Selatan memiliki cerita yang jauh lebih panjang daripada yang selama ini kita kenal.Selama ini, Pandeglang dan Lebak sering ditempatkan sebagai bagian Banten yang tertinggal dibandingkan wilayah utara. Pembicaraannya berkisar pada disparitas pembangunan, infrastruktur, kemiskinan, pendidikan, dan akses ekonomi. Semua itu tentu merupakan persoalan nyata. Tetapi ketika melihatnya dari perspektif sejarah, saya menemukan cerita yang berbeda.Banten Selatan ternyata pernah menjadi wilayah yang ramai oleh pergerakan manusia, barang, pendidikan, perdagangan, dan gagasan.Labuan: Kota Pelabuhan dan PerdaganganSebagai seseorang yang dilahirkan di Labuan, saya selalu merasa bahwa kota ini menyimpan cerita yang jauh lebih besar daripada apa yang terlihat hari ini. Nama Labuan sendiri memberi petunjuk tentang identitasnya: sebuah tempat berlabuh yang sejak lama tidak dapat dipisahkan dari laut dan aktivitas perdagangan.Labuan berkembang sebagai titik pertemuan antara daratan dan lautan. Hasil pertanian dan perkebunan dari wilayah pedalaman bergerak menuju pesisir, sementara pelabuhan membuka jalur perdagangan ke wilayah yang lebih luas. Konektivitas itu kemudian semakin kuat ketika jalur kereta api Rangkasbitung–Labuan mulai beroperasi pada awal abad ke-20.Kereta api bukan hanya membawa penumpang. Ia juga mengangkut berbagai hasil produksi. Di Labuan, jalur darat dan laut bertemu. Barang-barang dari pedalaman dapat dibawa ke pesisir, sementara pelabuhan menjadi pintu untuk mendistribusikannya lebih jauh. Karena itu, saya melihat Labuan bukan sekadar kota kecil di ujung Pandeglang. Ia pernah menjadi kota yang hidup dari pergerakan manusia, hasil bumi, ikan, rempah-rempah, dan perdagangan.Menes: Ketika Pendidikan Menjadi GerakanDari Labuan, perjalanan membawa kita ke Menes. Kalau Labuan tumbuh dari aktivitas perdagangan, Menes berkembang melalui pendidikan dan kehidupan keagamaan.Pada awal abad ke-20, Menes menjadi salah satu pusat pendidikan Islam yang penting di Banten. Dari lingkungan inilah kemudian lahir Mathla’ul Anwar pada 1916, yang menjadikan Pendidikan, sosial dan dakwah sebagai jalan membangun masyarakat.Kelahiran Mathla’ul Anwar berlangsung dalam suasana ketika gagasan tentang pendidikan, kebangkitan umat, dan kesadaran kebangsaan mulai berkembang di berbagai daerah. Aktivitas Syarikat Islam dan hubungan para ulama, guru, pedagang, serta tokoh masyarakat dengan jaringan pergerakan yang lebih luas menunjukkan bahwa Menes tidak berdiri sendiri.Buku, surat kabar, pendidikan, perkumpulan dan jaringan keagamaan menjadi jalan bagi berbagai gagasan untuk bergerak. Apa yang berkembang di kota-kota besar tidak selalu berhenti di sana. Ia dibawa oleh orang-orang yang bepergian, oleh guru dan ulama, oleh pedagang, maupun oleh mereka yang terlibat dalam organisasi pergerakan. Menes menjadi salah satu tempat di mana arus gagasan itu bertemu dengan masyarakat Banten Selatan.Rangkasbitung: Jendela Banten SelatanDari Menes, kita bergerak ke Rangkasbitung. Kota ini memiliki cerita yang berbeda. Sejak masa kolonial, Rangkasbitung telah menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah Lebak.Nama Rangkasbitung tidak dapat dilepaskan dari Eduard Douwes Dekker atau Multatuli, yang pada 1856 bertugas sebagai asisten residen Lebak. Pengalamannya berhadapan dengan praktik penindasan terhadap rakyat kemudian dituangkan dalam Max Havelaar. Kisah Saidjah dan Adinda menjadi salah satu gambaran paling kuat mengenai penderitaan rakyat Lebak di bawah sistem kolonial.Beberapa dekade kemudian, posisi Rangkasbitung semakin penting dengan berkembangnya jaringan kereta api. Stasiunnya menghubungkan Lebak dengan Batavia, Serang, Pandeglang, dan wilayah lain di Jawa.Kereta api membawa lebih dari sekadar penumpang dan barang. Bersamanya bergerak surat kabar, buku, informasi, pegawai, pedagang, kaum terdidik, dan aktivis. Dari sinilah Rangkasbitung dapat dilihat sebagai semacam jendela Banten Selatan terhadap dunia luar.Berbagai gagasan yang berkembang di kota-kota besar, nasionalisme, Islam, sosialisme, pendidikan, dan pemikiran politik, memiliki jalan untuk masuk dan berinteraksi dengan masyarakat setempat.Rangkasbitung dengan demikian bukan hanya penting karena letaknya. Ia menjadi tempat orang datang dan pergi, bertemu dan bertukar pengalaman. Mobilitas semacam inilah yang membuat sebuah kota tidak hanya menjadi pusat administrasi, tetapi juga tempat bertemunya berbagai pemikiran.Bayah: Industrialisasi dan Wajah BuruhDari Rangkasbitung, perjalanan kita bergerak lebih jauh ke selatan, menuju Bayah. Di sinilah kita menemukan wajah lain Banten Selatan: pertambangan, industrialisasi, dan kehidupan buruh.Pada masa pendudukan Jepang, Bayah berkembang menjadi kawasan pertambangan batu bara. Jepang membangun jaringan pertambangan sekaligus jalur kereta api Saketi–Bayah sekitar 90 kilometer untuk mengangkut hasil tambang.Namun pembangunan tersebut memiliki sisi yang kelam. Bayah menjadi salah satu tempat pengerahan romusha dari berbagai daerah di Jawa. Mereka bekerja dalam kondisi yang sangat berat, dengan persoalan makanan, kesehatan, keselamatan, hingga kematian.Di tengah situasi itulah Tan Malaka datang ke Bayah pada Juni 1943 dengan nama samaran Ilyas Hussein. Ia bekerja sebagai juru tulis dan berhubungan dengan kehidupan para pekerja. Dari sana ia dapat melihat secara langsung penderitaan buruh dan romusha dalam sistem pertambangan Jepang.Bagi saya, bagian ini menarik. Tan Malaka selama bertahun-tahun berbicara tentang rakyat, kaum pekerja, dan perubahan sosial. Di Bayah, gagasan itu berhadapan langsung dengan kenyataan. Ia melihat bagaimana manusia menjadi tenaga bagi sebuah industri perang dan bagaimana pembangunan infrastruktur dapat berlangsung bersamaan dengan penderitaan manusia.Bayah akhirnya menjadi bagian penting dari sejarah Banten Selatan: sejarah tambang, rel kereta api, buruh, romusha, sekaligus perjalanan seorang tokoh pergerakan seperti Tan Malaka.Banten Selatan yang Pernah BergerakKetika melihat Labuan, Menes, Rangkasbitung, dan Bayah sebagai satu rangkaian, saya melihat sebuah Banten Selatan yang berbeda dari gambaran kita hari ini.Ada pelabuhan dan perdagangan di Labuan. Ada pendidikan dan gerakan keagamaan di Menes. Ada jaringan kereta api dan perjumpaan berbagai pemikiran di Rangkasbitung. Ada pertambangan dan kehidupan buruh di Bayah.Semua itu menunjukkan bahwa Banten Selatan pada masanya bukan wilayah yang terisolasi. Ia memiliki hubungan dengan dunia yang lebih luas. Manusia bergerak, barang berpindah, sekolah tumbuh, organisasi berkembang, surat kabar dibaca, kereta datang dan pergi, sementara gagasan terus menemukan jalannya. Mungkin karena itu saya merasa kurang tepat jika Banten Selatan hanya dibaca melalui persoalan ketertinggalan hari ini.Sejarah justru memperlihatkan bahwa kawasan ini pernah memiliki energi yang besar. Yang perlu kita pikirkan adalah bagaimana energi itu pernah tumbuh, bagaimana kemudian melemah, dan apakah mungkin kita menghidupkannya kembali dalam konteks Banten hari ini.Bagi saya, membaca kembali Banten Selatan bukan sekadar mengenang masa lalu. Ini adalah cara untuk memahami bahwa wilayah yang hari ini sering disebut tertinggal pernah menjadi tempat di mana perdagangan bergerak, pendidikan tumbuh, gagasan bertemu, dan perubahan berlangsung.Mungkin dari sanalah kita perlu memulai kembali cara melihat Banten Selatan.