iPhone 17 Pro dengan casing RHINOSHIELD berhasil pecahkan rekor dunia tetap utuh meski dijatuhkan di atas langit. Foto: RHINOSHIELD PTE. LTD via Guinness World RecordPerusahaan casing ponsel RHINOSHIELD menguji ketangguhan produk terbarunya dengan cara ekstrem. Mereka menjatuhkan iPhone 17 Pro yang dilindungi casing RHINOSHIELD dari ketinggian lebih dari 30 kilometer dari atas permukaan Bumi dan berhasil menemukannya kembali dalam kondisi tanpa kerusakan.RHINOSHIELD PTE. LTD. bekerja sama dengan Sent Into Space LTD. dari Inggris mencoba memecahkan rekor Guinness World Records (GWR) kategori “highest drop of a mobile phone in a phone case (natural landforms)”, atau menjatuhkan ponsel yang dilindungi casing dari atas langit, bahkan mencapai stratosfer.Ponsel tersebut dijatuhkan dari ketinggian 30.607 meter dan mendarat di kawasan Kiruna, Swedia, pada 24 Juni 2026 lalu. Setelah ditemukan, perangkat dan casing yang melindunginya tetap utuh.Sebagai gambaran, ketinggian tersebut lebih dari tiga kali lipat dibandingkan ketinggian jelajah pesawat komersial yang biasanya berada di sekitar 9.000 meter. Jaraknya juga lebih dari tiga kali ketinggian Gunung Everest yang mencapai 8.848 meter.Berawal dari Ide GilaMujou Hsiao, Brand Experience Manager RHINOSHIELD, mengatakan aksi tersebut bermula dari sebuah “ide gila” yang dicetuskan pendiri perusahaan, Eric Wang. Ide itu muncul setelah RHINOSHIELD meluncurkan lini casing AirX pada tahun lalu. Produk tersebut dikembangkan dengan prinsip mono-material, yakni menggunakan satu jenis material sehingga casing dapat didaur ulang sepenuhnya.“AirX merupakan sebuah terobosan yang membutuhkan waktu lebih dari setahun untuk disempurnakan oleh tim desain dan R&D kami,” kata Mujou.Menurut dia, membuat casing pelindung dengan satu material tanpa mengorbankan daya tahan membutuhkan rekayasa dan kreativitas yang tinggi. Setelah melihat hasilnya, Wang kemudian menantang tim untuk menguji batas kemampuan casing tersebut melalui upaya memecahkan rekor dunia.Awalnya, tim mempertimbangkan sejumlah tantangan, seperti menjatuhkan ponsel 50 kali berturut-turut dari ketinggian 15 meter. Mereka juga sempat mempertimbangkan kategori casing mono-material paling tahan lama.Namun, tim akhirnya ingin membawa pengujian tersebut ke level yang jauh lebih ekstrem. Mereka mempertimbangkan penggunaan balon udara panas, aksi terjun bebas, hingga balon cuaca.“Kalau kita mau pergi tinggi, mari pergi setinggi mungkin yang bisa dilakukan manusia,” ujar Wang, seperti dikutip dari Guinness World Record.Dijatuhkan dari Stratosfer Tanpa ParasutCasing AirX sendiri terinspirasi dari teknologi kantung udara pada mobil serta bantalan udara yang digunakan pada sepatu olahraga untuk meredam benturan.Dalam pengujian ini, ponsel dibawa ke ketinggian sekitar 30,6 kilometer menggunakan balon. Setelah mencapai ketinggian yang ditentukan, perangkat dilepaskan dan dibiarkan jatuh bebas menuju permukaan Bumi. Mujou mengakui bahwa tim tetap merasa tegang meski telah melakukan berbagai persiapan.“Pengujian jatuh standar di laboratorium biasanya sekitar 1,2 meter. Untuk pengujian ekstrem, kami rutin menjatuhkan ponsel dari lantai enam kantor, sekitar 23 meter,” ujarnya.Namun, pengujian dari stratosfer memiliki tantangan yang jauh berbeda. Wilayah stratosfer berada di ketinggian sekitar 26.000 hingga 36.000 meter, atau lebih dari 1.000 kali ketinggian gedung kantor mereka.Tantangan semakin besar karena aturan GWR melarang penggunaan parasut. Casing juga diwajibkan menyentuh tanah secara langsung terlebih dahulu.Tim R&D RHINOSHIELD kemudian melakukan berbagai simulasi, termasuk pengujian pembekuan pada suhu di bawah nol derajat Celsius untuk meniru kondisi stratosfer. Mereka juga melakukan pengujian tekanan atmosfer.“Kami bersiap menghadapi kemungkinan terburuk dan berharap hasil terbaik,” kata Mujou.Setelah dilepaskan dari balon, perangkat jatuh ke kawasan hutan belantara yang tidak berpenghuni di sekitar Esrange Space Center, Swedia. Lokasi tersebut sengaja dipilih untuk memastikan tidak ada orang yang terkena dampak dari aksi tersebut. Namun, keputusan itu juga membuat proses pencarian ponsel menjadi jauh lebih sulit.Esrange Space Center merupakan kawasan terbatas dengan luas sekitar 5.200 hingga 5.600 kilometer persegi, atau kira-kira dua kali luas Luksemburg. Tim menggunakan bantuan Sent Into Space untuk melacak lokasi ponsel setelah jatuh. Area pencarian akhirnya dapat dipersempit hingga radius sekitar 2 kilometer.Meski begitu, tim membutuhkan waktu lebih dari lima jam untuk menemukan perangkat tersebut. “Mencari satu ponsel di alam liar yang begitu luas seperti mencari jarum di tumpukan jerami yang sangat besar,” ujar Mujou.Ketika akhirnya ditemukan dalam kondisi utuh, tim mengaku lega sekaligus takjub. Mereka sebelumnya sudah memperhitungkan berbagai faktor melalui pengujian laboratorium. Namun, kondisi di luar ruangan jauh lebih sulit diprediksi, mulai dari arah angin, kecepatan saat turun, permukaan tempat mendarat, hingga keterbatasan waktu karena tim hanya berada di Kiruna selama sepekan.Pencarian awal juga dilakukan dengan helikopter. Karena adanya batas kapasitas muatan, hanya empat orang selain pilot yang dapat ikut dalam pencarian tersebut, yakni dua teknisi Sent Into Space yang membawa perangkat pelacak serta dua videografer.Bagi RHINOSHIELD, keberhasilan pengujian ini bukan sekadar soal memecahkan rekor. Perusahaan ingin membantah anggapan bahwa produk ramah lingkungan identik dengan daya tahan yang rendah.Menurut Mujou, industri casing ponsel menghasilkan banyak limbah plastik karena sebagian besar produk menggunakan campuran berbagai material yang sulit didaur ulang. RHINOSHIELD mengklaim telah menggunakan material mono-material yang 100 persen dapat didaur ulang selama bertahun-tahun. Namun, konsumen masih kerap menganggap casing berbahan tunggal tidak mampu memberikan perlindungan maksimal.“Kami ingin membuktikan bahwa tidak perlu ada kompromi. Alih-alih hanya mengejar perlindungan standar ‘military-grade’, kami memilih ‘Space-Grade’,” kata Mujou.Menurutnya, menjatuhkan AirX dari stratosfer dan menemukan casing tersebut dalam kondisi utuh menjadi bukti bahwa desain berkelanjutan dan sistem ekonomi sirkular tetap dapat menghadapi kondisi ekstrem.RHINOSHIELD berharap pendekatan mono-material nantinya dapat diterapkan lebih luas pada berbagai produk sehari-hari, sehingga produk ramah lingkungan tidak harus mengorbankan ketahanan.