Sujud di sela dentum musik: Cara kaum muda menikmati hiburan tanpa meninggalkan ibadah

Wait 5 sec.

● Anak muda Muslim makin membawa ibadah ke tengah budaya hiburan modern.● Konsep ‘lived religion’ menjelaskan agama yang dipraktikkan dalam keseharian.● Musala di festival juga mencerminkan pertemuan kebutuhan spiritual dan kepentingan komersial.Pada Sabtu sore yang cerah, puluhan ribu penonton memadati empat panggung Sounds of Downtown (SOD) Festival di Surabaya Expo Center. Musik pop, indie, dan rock alternatif bersahutan. Penonton bernyanyi bersama, berpindah dari satu panggung ke panggung lain.Di tengah keramaian itu, berdiri sebuah bangunan bertirai putih dengan papan nama “Musholla As-Sodiyah”. Di sampingnya terdapat tempat wudhu dengan label dwibahasa “Tempat Wudu/Ablution Place” dan tandon air yang memadai. Sepatu berjejer di depan tirai. Beberapa penonton duduk di terasnya menunggu giliran salat, lalu kembali ke tengah kerumunan konser.Pemandangan festival musik yang berlangsung pada 1 Agustus 2026 ini mungkin tampak sederhana. Namun, ia menunjukkan sesuatu yang lebih besar: bagi sebagian anak muda Muslim urban, menikmati musik dan menjalankan ibadah bukan lagi dua aktivitas yang harus ditempatkan dalam ruang berbeda.Agama yang dihidupi dalam keseharianSosiolog dari Amerika Serikat (AS) Meredith McGuire menawarkan konsep lived religion untuk memahami fenomena semacam ini. Dalam bukunya “Lived Religion: Faith and Practice in Everyday Life” (2008), Meredith membedakan agama sebagaimana ditentukan oleh institusi, dengan agama sebagaimana benar-benar dijalani orang dalam kehidupan sehari-hari. Praktik keagamaan, menurut dia, tidak selalu mengikuti bentuk yang rapi dan seragam sebagaimana digambarkan oleh doktrin resmi.Kerangka ini selaras dengan kritik atas dikotomi kaku antara “yang sakral” dan “yang profan”. Garis pemisah itu bukan sesuatu yang alami, melainkan konstruksi sosial yang terus dilanggar dan digambar ulang oleh pelaku agama itu sendiri.Kerangka ini membantu menjelaskan keberadaan musala di tengah festival musik. Ruang ibadah tidak harus berada jauh dari kehidupan hiburan untuk menjadi bermakna. Ketika penonton mengambil waktu untuk berwudu dan salat di sela penampilan musisi, mereka sedang membawa praktik agama ke dalam ritme kehidupan mereka sendiri.Dengan kata lain, mereka tidak harus memilih: menjadi penonton konser atau menjadi Muslim yang taat beribadah. Keduanya dapat berlangsung dalam ruang dan waktu yang sama.Di sinilah fenomena SOD Festival menjadi menarik. Ibadah tidak diperlakukan sebagai aktivitas tambahan yang harus dilakukan setelah kehidupan “sebenarnya” selesai. Ia menjadi bagian dari kehidupan itu sendiri. Baca juga: Fatwa haram ‘sound horeg’: Benarkah Islam menolak perkembangan teknologi? Hijrah bukan berarti menjauh dari budaya popFenomena tersebut juga berkaitan dengan perubahan cara generasi muda memahami keberagamaan.Riset PPIM UIN Jakarta melalui program CONVEY Indonesia menunjukkan bahwa gerakan hijrah semakin populer di kalangan generasi muda. Penelitian tersebut melihat bagaimana makna hijrah dan ekspresi keberagamaan dinegosiasikan melalui komunitas, media sosial, serta budaya populer. Riset itu menganalisis wawancara dengan anggota lima komunitas hijrah, serta ribuan konten Instagram dan ratusan video YouTube.Artinya, keberagamaan anak muda tidak selalu hadir dalam bentuk yang kaku atau terpisah dari kehidupan modern. Bagi sebagian dari mereka, menjadi lebih religius tidak harus berarti meninggalkan seluruh bentuk hiburan atau budaya populer.Pemandangan di SOD Festival memperlihatkan bentuk sederhana dari perubahan tersebut. Seorang anak muda bisa datang untuk menonton musisi yang disukainya, menikmati suasana festival, lalu berhenti sejenak untuk salat. Setelah itu, ia kembali ke kerumunan.Hijrah, dalam konteks ini, tidak harus dimaknai sebagai meninggalkan keramaian dunia. Ia bisa berarti membawa nilai-nilai agama ke dalam keramaian tersebut. Baca juga: “Ukhti sekaligus Army”: negosiasi unik antara agama dan hiburan pada generasi muda muslim di Indonesia Apakah ini murni soal keberagamaan?Meski demikian, keberadaan musala di festival musik tidak perlu langsung dirayakan bukti moderasi beragama berhasil. Ada pertanyaan lain yang juga penting: apakah fasilitas ini semata-mata lahir dari kebutuhan spiritual penonton, atau sekaligus merupakan strategi penyelenggara dalam membaca pasar?Ruang ibadah yang dirancang rapi, lengkap dengan fasilitas wudu dan penanda yang jelas, menunjukkan bahwa kebutuhan tersebut sudah diperhitungkan dalam penyelenggaraan festival.Dalam konteks Muslim urban, simbol dan praktik keagamaan juga semakin bersinggungan dengan budaya konsumsi dan industri kreatif. Karena itu, musala di festival dapat dibaca dari dua sisi sekaligus: sebagai respons terhadap kebutuhan nyata penonton untuk tetap beribadah, sekaligus sebagai bentuk akomodasi industri terhadap karakter konsumennya.Keduanya tidak harus saling bertentangan. Penyelenggara bisa saja memiliki kepentingan bisnis, sementara kebutuhan beribadah penonton tetap autentik.Yang lebih penting dari motif di baliknya adalah perubahan yang terlihat di lapangan. Ruang ibadah dan ruang hiburan kini dapat berdiri berdampingan tanpa harus saling meniadakan.Di tengah dentum musik dan kerumunan penonton, seseorang bisa berhenti untuk bersujud, lalu kembali menikmati konser. Bagi generasi muda yang menjalani keseharian seperti itu, keberagamaan tidak selalu berarti menjauh dari dunia modern.Justru sebaliknya, agama menjadi sesuatu yang mereka bawa ke dalam dunia tersebut—hidup, lentur, dan hadir dalam keseharian. Itulah yang membuat musala kecil di tengah festival musik menjadi lebih dari sekadar fasilitas, tetapi juga gambaran tentang bagaimana keberagamaan anak muda Indonesia sedang dijalani hari ini. Baca juga: Pestapora 2025: Ketika konser musik jadi medium ‘artwashing’ M.Febriyanto Firman Wijaya tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas.