Ilustrasi perempuan mewarnai kuku. Foto: ShutterstockBagi sebagian orang, jadwal manicure di salon menjadi momen untuk merawat diri sekaligus melepas penat. Menariknya, aktivitas sederhana ini ternyata memiliki kaitan dengan kondisi psikologis. Sebuah studi menemukan bahwa perawatan kuku yang disertai obrolan ringan dengan nail technician dapat memberikan efek positif terhadap suasana hati.Penelitian yang diterbitkan pada September 2023 dalam jurnal Frontiers in Psychology tersebut secara khusus melihat fenomena yang disebut superficial self-disclosure, yaitu keterbukaan diri dalam bentuk percakapan ringan mengenai kehidupan sehari-hari.Obrolan ringan saat manicure bisa beri efek positifIlustrasi perempuan mewarnai kuku. Foto: ShutterstockDalam penelitian tersebut, percakapan mengenai hobi dan kehidupan sehari-hari dengan nail technician dikaitkan dengan meningkatnya emosi positif, rasa rileks, dan vitalitas. Dengan kata lain, sesi manicure bisa menjadi kesempatan untuk beristirahat sejenak sekaligus berbagi cerita dalam suasana yang nyaman.Atsushi Kawakubo, profesor madya di Saitama Gakuen University, Jepang, yang menjadi salah satu penulis studi, menjelaskan bahwa kombinasi antara perawatan kuku dan keterbukaan diri ringan dapat memberikan dorongan positif bagi kondisi psikologis.Ilustrasi perempuan mewarnai kuku. Foto: Shutterstock“Penelitian kami menunjukkan bahwa melakukan perawatan kuku di salon, yang disertai dengan keterbukaan diri secara ringan, dapat memberikan dorongan positif bagi kondisi psikologi seseorang,” ujar Atsushi Kawakubo kepada PsyPost.Menurut Kawakubo, temuan tersebut juga menunjukkan pentingnya aktivitas self-care dalam kehidupan sehari-hari. Berbagi pikiran secara ringan dalam lingkungan yang membuat seseorang merasa nyaman dapat menjadi salah satu cara untuk mendukung kesejahteraan psikologis.Bukan berarti curhat makin dalam makin baikIlustrasi perempuan mewarnai kuku. Foto: ShutterstockMeski percakapan saat manicure memberikan efek positif, penelitian ini menemukan bahwa tidak semua bentuk keterbukaan diri memiliki hasil yang sama.Pembicaraan yang lebih dalam, terutama ketika menyangkut sifat kepribadian negatif dan masalah atau kesulitan pribadi, justru dikaitkan dengan hasil yang kurang positif. Temuan ini membuat konsep superficial self-disclosure menjadi menarik: seseorang tidak harus membicarakan persoalan paling personal untuk mendapatkan manfaat dari interaksi sosial.Kawakubo mengatakan, ketertarikannya terhadap topik tersebut muncul seiring bertambahnya penelitian mengenai hubungan antara praktik self-care dan kesehatan mental. “Gagasan bahwa sesuatu yang tampak sederhana seperti perawatan kuku di salon, ditambah dengan keterbukaan diri, dapat menimbulkan efek psikologis yang bermakna terasa menarik bagi saya. Saya ingin mengeksplorasi potensi dari area yang masih jarang diteliti ini,” kata Kawakubo.Melibatkan sekitar 500 perempuan di JepangIlustrasi perempuan mewarnai kuku. Foto: ShutterstockStudi ini dilakukan oleh peneliti dari dua universitas di Jepang melalui survei daring terhadap sekitar 500 perempuan berusia awal 20-an hingga akhir 30-an.Para partisipan diminta menilai emosi dan sikap yang mereka rasakan selama sesi perawatan kuku menggunakan skala empat poin, mulai dari “tidak sama sekali” hingga “sangat besar”. Mereka juga diminta melaporkan seberapa banyak mereka membicarakan sejumlah topik dengan manikuris.Topik tersebut mencakup hobi, kehidupan sehari-hari, pengalaman sulit, hambatan pribadi, hingga sifat kepribadian negatif. Jawaban untuk bagian ini dinilai menggunakan skala tujuh poin.Kendati demikian, Kawakubo mengakui penelitian tersebut memiliki sejumlah keterbatasan, termasuk ukuran sampel yang relatif terbatas dan penggunaan data yang berasal dari laporan para partisipan sendiri.Ilustrasi perempuan mewarnai kuku. Foto: ShutterstockIa berharap temuan ini dapat mendorong pemahaman yang lebih luas mengenai peran aktivitas self-care dalam menjaga kesehatan mental, terutama di tengah kehidupan yang semakin sibuk.“Melakukan aktivitas yang memungkinkan individu untuk rileks, berefleksi, dan berbagi secara ringan dapat menjadi komponen penting dalam menjaga kesehatan mental yang baik,” ujar Kawakubo.Temuan ini memang belum berarti bahwa manicure secara langsung dapat meningkatkan kesehatan mental atau menggantikan bentuk dukungan psikologis lainnya. Namun, studi tersebut menunjukkan bahwa momen sederhana di salon, termasuk percakapan santai dengan nail technician, berpotensi menjadi salah satu pengalaman yang membantu seseorang merasa lebih rileks dan positif.