Suasana Lokasi Binaan (Lokbin) Pasar Ikan Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa (1/9/2026). Foto: Nauval Pratama/kumparanGubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan penataan pedagang Pasar Ikan Kramat Jati, Jakarta Timur, dilakukan untuk mengembalikan fungsi jalan dan ruang publik.Ia menilai keberadaan pedagang di kawasan tersebut perlu ditata agar aktivitas perdagangan tetap berjalan tanpa mengganggu kepentingan masyarakat lainnya.“Selain memberikan ruang untuk para pedagang bisa mencari nafkah sekaligus mengembalikan fungsi jalan dan ruang publik,” kata Pramono saat meninjau penataan pedagang di Lokasi Binaan (Lokbin) Pasar Ikan Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa (1/9).Pramono mengatakan penataan kawasan pedagang Kramat Jati bukan perkara mudah. Sebab, aktivitas perdagangan di kawasan tersebut telah berlangsung lebih dari 50 tahun atau sejak awal 1970-an.“Pembenahan ini terus terang tidak gampang karena ini sudah berlangsung lebih dari 50 tahun, sejak awal tahun ’70-an,” ujarnya.Menurut Pramono, terdapat sekitar 614 pedagang di kawasan Kramat Jati. Pemprov DKI telah menyiapkan sejumlah lokasi untuk menampung para pedagang tersebut.Rinciannya, 331 pedagang ditempatkan di Pasar Kramat Jati Sektor 7, 193 pedagang ikan di Lokbin Kramat Jati, 45 pedagang kue di Lokbin Cililitan, serta 45 pedagang lainnya di pasar yang dikelola Pasar Jaya.Pramono menegaskan penataan dilakukan dengan pendekatan humanis. Menurutnya, pemerintah tidak bisa hanya melakukan penggusuran tanpa menyediakan tempat yang layak bagi pedagang untuk mencari nafkah.“Kalau selama ini pendekatannya adalah melakukan penggusuran, memindahkan digusur, saya meminta alternatif yang lebih humanis. Untuk itu harus ada tempat yang layak untuk mereka bisa berjualan,” kata Pramono.Ia mengatakan Pemprov DKI juga memahami bahwa proses pemindahan pedagang ke lokasi baru membutuhkan waktu untuk beradaptasi.Untuk membantu pedagang, Pramono sebelumnya memutuskan retribusi atau iuran Lokbin Pasar Kramat Jati digratiskan selama enam bulan. Setelah masa gratis berakhir, tarif yang dikenakan sebesar Rp 180 ribu per bulan atau sekitar Rp 6 ribu per hari.Selain itu, Pemprov DKI akan melakukan sejumlah perbaikan di lokasi, termasuk pengaturan saluran air dan sirkulasi udara serta pemasangan kipas angin.Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung usai meninjau penataan Pasar Ikan Kramat Jati di Lokasi Binaan (Lokbin) Pasar Ikan Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa (1/9/2026). Foto: Nauval Pratama/kumparanSiapkan Lokasi TambahanPramono mengatakan Pemprov DKI telah menyiapkan alternatif lokasi yang tidak jauh dari kawasan tersebut. Ia meminta lokasi itu segera dipersiapkan agar persoalan kekurangan tempat dapat diselesaikan.Sementara Koordinator Pedagang Subuh Kramat Jati Muhtarom mengatakan jumlah pedagang mencapai sekitar 614 orang. Sementara itu, Lokbin yang tersedia memiliki 143 tempat, tetapi yang dinilai layak digunakan hanya sekitar 120 tempat.Dengan kondisi tersebut, masih ada sekitar 471 pedagang yang belum mendapatkan tempat.Muhtarom berharap pemerintah dapat memberikan kebijakan bagi pedagang yang belum mendapatkan tempat agar tetap dapat berjualan secara tertib sambil menunggu lokasi yang layak.“Kalau itu bisa dilakukan, maka persoalan kekurangan lokasi bagi para pedagang itu segera terselesaikan,” ujar Pramono.Saat ditanya mengenai target waktu persiapannya, Muhtarom sempat menyebut dua bulan. Namun, Pramono meminta agar persiapan dipercepat.Muhtarom kemudian menyebut target tiga minggu untuk menyiapkan lokasi tersebut.“Namanya juga pedagang pasti nawarlah. Tiga minggu, ya? Semua dengar lho, ya,” kata Pramono.Suasana Lokasi Binaan (Lokbin) Pasar Ikan Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa (1/9/2026). Foto: Nauval Pratama/kumparanPedagang Sebut Lokasi Baru Lebih SepiDi sisi lain, sejumlah pedagang mengaku masih kesulitan mendapatkan pembeli setelah dipindahkan ke lokasi baru.Alvin (23), pedagang ikan, mengatakan selama tiga hari berjualan di lokasi baru, penjualannya masih minim. Ia khawatir barang dagangan yang tidak terjual akan banyak terbuang karena ikan merupakan barang yang harus segera dijual.Menurut Alvin, pelanggan yang biasa membeli di pinggir jalan belum mengetahui lokasi baru tersebut. Ia mengatakan pelanggan yang datang secara spontan saat melintas menjadi salah satu sumber pembelinya selama berjualan di lokasi lama.“Belum ada sama sekali (yang beli),” kata Alvin saat ditanya apakah pelanggan yang biasa membeli di pinggir jalan sudah datang ke lokasi baru.Ia mengatakan kondisi tersebut membuat dirinya harus kembali membangun pelanggan dari awal. Alvin bahkan menyebut dari lima karung barang yang disediakan, terkadang hanya satu karung yang terjual sehingga sisanya terbuang.“Yang kebuang kadang empat karungnya,” ujarnya.Pedagang lainnya, Hamimah (35), juga mengeluhkan kondisi serupa. Ia mengatakan penjualan selama tiga hari berada di lokasi baru menurun drastis dibandingkan saat berjualan di pinggir jalan.“Kalau seandainya di luar kemarin dapat Rp 300 ribu, ya di sini paling kadang Rp 100 ribu. Pokoknya menurun banget lah di sini,” kata Hamimah.Hamimah mengatakan saat masih berjualan di pinggir jalan, pembeli yang melintas kerap berhenti untuk berbelanja. Kondisi itu berbeda dengan lokasi baru yang menurutnya masih sepi karena tidak banyak orang yang masuk.“Kalau yang di depan kan kadang orang lewat datang kerja atau dari mana berhenti mampir beli. Kalau di sini enggak ada,” ujarnya.Ia berharap seluruh pembeli yang sebelumnya berbelanja di pinggir jalan dapat mengetahui lokasi baru tersebut.Selain jumlah pembeli, Hamimah dan suaminya, Muhammad Neri (36), juga menyoroti keterbatasan fasilitas, terutama area parkir. Menurut mereka, lahan parkir yang tersedia perlu diperluas agar pembeli lebih mudah mengakses lokasi pasar.Penataan kawasan Pasar Ikan Kramat Jati dilakukan salah satunya karena kondisi aktivitas perdagangan di sekitar Jalan Raya Bogor yang berdampak pada keselamatan dan kelancaran lalu lintas.Sebelumnya pada Senin (17/8), seorang pelajar berinisial HH (17) tewas dalam kecelakaan saat hendak berangkat sekolah di Jalan Raya Bogor, Kramat Jati, Jakarta Timur. Korban yang mengendarai sepeda motor diduga terjatuh karena kondisi jalan licin dan terlindas truk sampah milik Dinas Lingkungan Hidup.Selain itu, aktivitas pedagang di sekitar jalan juga disebut berdampak pada kelancaran lalu lintas, termasuk memicu kemacetan pada jam pulang kerja di sore hingga malam hari.