WNI di Ekuador Latih Robot AI Cuci Piring: Dibayar hingga Rp 870 Ribu Sehari

Wait 5 sec.

Kegiatan Itha Siburian saat merekam kegiatan sehari-hari untuk melatih AI. Foto: Dok. PribadiBagi sebagian orang, mencuci piring, memotong sayuran, hingga melipat pakaian merupakan pekerjaan rumah tangga yang dilakukan setiap hari. Namun, bagi Itha Siburian Pandjaitan, aktivitas tersebut justru menjadi ladang cuan.Itha merupakan Warga Negara Indonesia (WNI) yang kini tinggal di Ekuador. Perempuan berusia 48 tahun itu bekerja sebagai pelatih AI dengan merekam berbagai aktivitas rumah tangga yang dilakukannya sehari-hari.Rekaman tersebut kemudian dijual sebagai sumber data untuk melatih kecerdasan artifisial (AI), khususnya pada robot humanoid. Data berupa rekaman video yang dikumpulkan dari sudut pandang manusia ini dikenal sebagai egocentric data."Jadi kita ngerjain kerjaan rumah, tapi dapet duit, gitu. Kita bukan cari-cari pekerjaan, memang kalau ada atau enggak ada aplikasi itu ya kita memang harus ngerjain pekerjaan rumah gitu kan," ujar Itha kepada kumparan via Google Meet, Minggu (30/8). Berawal dari Cuci PiringItha mulai mengerjakan pekerjaan sebagai pelatih AI pada akhir April 2026. Awalnya, ia menggunakan aplikasi Mindrift dan Toloka. Belakangan, ia menemukan lebih banyak platform seperti Renta Human dan Claru yang juga menawarkan berbagai task untuk mengumpulkan data.Salah satu pekerjaan yang ia lakukan adalah merekam aktivitas mencuci piring. Namun, pekerjaan yang tersedia sebenarnya jauh lebih beragam. Ada aktivitas memasak, baking, memotong bahan makanan, mencuci mobil, hingga berbagai aktivitas rumah tangga lainnya."Jadi lucunya project-nya tuh [orang-orang bilang] project cuci piring kan, gara-gara ngerjainnya tentang cuci piring. Padahal itu [melatih AI] kan luas, macam-macam kerjaannya," kata Itha.Dalam salah satu task, misalnya, Itha diminta merekam bagaimana seseorang mencuci piring. Ia bahkan bisa mengulangi aktivitas yang sama beberapa kali menggunakan piring yang sama.Hal tersebut bukan berarti perusahaan membutuhkan video piring yang benar-benar kotor. Menurut Itha, yang lebih penting adalah gerakan tangan manusia ketika melakukan aktivitas tersebut."Jadi sebenarnya kan ini kita melatih AI, how to wash the dishes. Karena tangan kita tuh enggak boleh keluar dari kamera, dan yang di dalam kamera itu hanya kedua tangan kita. Nah mungkin AI-nya tuh membaca cara gerakan tangan kita cuci piring," jelasnya.Video juga tidak perlu diedit terlebih dahulu. Rekaman dilakukan langsung melalui aplikasi, kemudian diunggah setelah tugas selesai.Modalnya PonselUntuk memulai pekerjaan ini, Itha tidak membutuhkan peralatan khusus. Ketika menggunakan Mindrift, misalnya, hampir semua jenis ponsel bisa digunakan.Namun, persyaratan perangkat pada sejumlah platform kini semakin tinggi. Itha mencontohkan Claru yang mensyaratkan ponsel Android minimal Samsung S21 atau iPhone 12. Spesifikasi tersebut dibutuhkan agar kamera dapat menggunakan wide lens.Selain ponsel, kata Itha, pekerja juga terkadang membutuhkan peralatan tambahan seperti tripod, head strap, dan chest strap. Jika perangkat yang digunakan tidak sesuai dengan ketentuan task, rekaman bisa ditolak."Kalau saya sih pakainya tuh yang diminta head strap yang di kepala atau chest strap. Tapi awal-awal saya pakainya cuma pakai tripod," ujar Itha.Persyaratan tersebut menjadi salah satu tantangan bagi pekerja di Indonesia. Menurut Itha, banyak orang yang tertarik tetapi tidak bisa mengikuti task tertentu karena keterbatasan perangkat.Bisa Rp 870 Ribu SehariIlustrasi mengelola pengeluaran. Foto: Shutter StockBesaran bayaran yang diterima pekerja berbeda-beda tergantung negara dan jenis task. Itha menyebut pekerja di Indonesia bisa mendapatkan sekitar USD 5–6 per jam. Saat berada di Kolombia, ia pernah mendapatkan USD 7 per jam. Sementara di Amerika Serikat, bayaran yang ia ketahui bisa mencapai USD 10 per jam.Pekerjaan juga tidak harus dilakukan dalam satu sesi penuh. Pekerja bisa merekam selama 10 menit, kemudian 10 menit lagi, dan durasinya akan diakumulasi.Itha bersama suaminya bahkan pernah mengerjakan task tersebut selama 5–6 jam dalam sehari. Dari aktivitas itu, mereka bisa mendulang sekitar USD 50 atau setara Rp 870 ribu."Sehari tuh kita bisa ngerjain, USD 50 dapatnya. 5–6 jam," kata Itha.Namun, angka tersebut bukan penghasilan yang bisa diperoleh secara rutin setiap hari. Salah satu masalahnya adalah task yang tiba-tiba menghilang atau dihentikan sementara oleh platform."Kadang seminggu nih kita full ngerjain, tapi entar suka tiba-tiba task-nya hilang. Katanya kayak di-pending atau di-pause," ujarnya.Karena ketidakpastian tersebut, Itha menilai pekerjaan melatih AI belum cocok dijadikan pekerjaan utama."Kalau jadi pekerjaan utama susah. Jadi kebanyakan sih di grup saya tuh yang ngerjain tuh ibu-ibu yang enggak kerja gitu," katanya.Bukan Cuma Cuci PiringSelain merekam aktivitas rumah tangga, terdapat pula task lain yang tidak membutuhkan aktivitas fisik. Salah satunya adalah "Which Image is Better".Dalam task tersebut, pekerja diminta memilih gambar yang dinilai lebih baik atau lebih sesuai untuk kebutuhan AI. Sebelum mendapatkan tugas berbayar, pekerja harus melewati tes terlebih dahulu.Setelah lolos, satu rangkaian pekerjaan dapat memberikan bayaran sekitar USD 3. Menurut Itha, pekerjaan tersebut bahkan dapat diselesaikan dalam waktu kurang dari satu jam.Namun, ia mengingatkan pekerja untuk tidak mengerjakan terlalu cepat. Pasalnya, ada pekerja yang meski jawabannya benar dan tugasnya disetujui, justru mendapat larangan mengerjakan karena sistem menganggap aktivitas mereka mencurigakan.Ibu Rumah Tangga di Indonesia Juga IkutanItha awalnya membagikan informasi mengenai pekerjaan tersebut melalui media sosial. Ia melihat aktivitas melatih AI sebagai peluang bagi orang-orang yang sebelumnya tidak memiliki pekerjaan, terutama ibu rumah tangga."Karena saya pikir gampang terus dapat duit, kenapa enggak di-share," cerita Itha.Para follower-nya di Instagram kemudian tertarik. Mereka ini adalah orang-orang Indonesia yang juga tinggal di Indonesia. Praktis, Itha kemudian membuat grup Telegram untuk mereka. Kini, grup tersebut memiliki sekitar 3.500 anggota.Banyak anggota grup merupakan ibu rumah tangga. Namun, pekerjanya tidak hanya perempuan. Sejumlah laki-laki juga ikut mengerjakan task, termasuk mereka yang sudah memiliki pekerjaan utama dan mengerjakannya pada malam hari."Banyak tuh yang ngerjain mereka malam. Ribut deh tuh grup kalau malam," kata Itha.Menurut Itha, sebagian anggota grup bahkan awalnya tidak terbiasa dengan teknologi maupun bahasa Inggris. Namun, mereka berusaha mempelajarinya karena pekerjaan tersebut memberikan tambahan penghasilan.Belakangan, sejumlah task rumah tangga untuk pekerja di Indonesia bahkan mensyaratkan adanya narasi dalam bahasa Inggris. Itha kemudian menyarankan anggota grup menggunakan bantuan AI untuk menerjemahkan kalimat yang perlu diucapkan.Akankah Robot Menggantikan Pekerjaan Rumah Tangga?"Schotti," sebuah robot humanoid yang berbicara dengan dialek Austria, berjalan di Sonderpreis Baumarkt, sebuah toko peralatan rumah tangga di Pocking, Jerman, Kamis (7/5/2026). Foto: Angelika Warmuth/REUTERS Di balik peluang mendapatkan penghasilan, Itha menyadari perkembangan robot humanoid juga menimbulkan kekhawatiran. Ia kerap menerima komentar dari masyarakat mengenai kemungkinan pekerjaan rumah tangga, termasuk asisten rumah tangga (ART), nantinya digantikan robot.Namun, Itha melihat perkembangan teknologi dari sisi yang berbeda. Menurutnya, teknologi bukan hanya menghilangkan pekerjaan, tetapi juga menciptakan jenis pekerjaan baru.Pekerjaan yang kini dilakukannya menjadi salah satu contohnya. Aktivitas mencuci piring, memasak, dan pekerjaan rumah tangga lain yang sebelumnya tidak dianggap sebagai pekerjaan digital kini justru menjadi bagian dari proses pengembangan teknologi AI."Teknologi kan makin maju, pikiran kita juga pasti semakin maju, ada lagilah nanti pasti. Kayak ini kan, with or without me pasti ada yang ngerjain kan?" ungkap dia.