Purwacarita Borobudur, pengalaman imersif yang dihadirkan oleh Galeri Indonesia Kaya untuk menelusuri kisah penciptaan Candi Borobudur. Foto: Salsha Okta Fairuz/kumparanGaleri Indonesia Kaya menghadirkan Purwacarita Borobudur, sebuah pengalaman imersif yang mengajak pengunjung mengenal kisah dan sejarah Borobudur melalui teknologi digital.Kehadiran Purwacarita Borobudur menjadi bagian dari upaya Galeri Indonesia Kaya dalam mendekatkan budaya kepada masyarakat, khususnya generasi muda, melalui cara yang lebih interaktif dan menyenangkan.“Kita memang di sini senang sekali untuk memberikan ruang kolaborasi terutama untuk orang Indonesia, kreator, anak-anak muda, karena kita juga meyakini di Indonesia tuh pintar-pintar banget dan talenta seninya juga kuat semua. Tapi memang yang kurang itu adalah mungkin kesempatan dan juga ruang,” ujarProgram Director Galeri Indonesia Kaya, Renitasari Adrian, saat ditemui di Galeri Indonesia Kaya, kawasan Jakarta Pusat.Renitasari menilai teknologi dapat menjadi medium untuk menjembatani sejarah masa lalu dengan generasi saat ini. Terlebih, pendekatan visual dinilai dapat membuat cerita sejarah lebih mudah diterima dan dinikmati oleh masyarakat.“AI ini sangat berguna sekali untuk kami yang ingin menyambungkan sejarah masa lalu dengan generasi sekarang. Jadi ya itu, dengan secara visual jadi lebih bisa menyenangkan dan jadi bisa lebih masuk juga,” katanya.Purwacarita Borobudur hadir dengan konsep imersif dan interaktif. Berkolaborasi dengan Bening Digital Indonesia dan Curaweda, pengalaman ini membuat pengunjung tak hanya diajak melihat visual sejarah, tetapi juga menyusuri cerita Borobudur melalui pengalaman digital yang dikembangkan menggunakan teknologi AI.Perjalanan dimulai dari Sapa Borobudur, yang menjadi pengantar visual mengenai lanskap dan latar zaman berdirinya Borobudur. Selanjutnya, pengunjung dapat menyaksikan Karmawibhangga dan Avadana, yang menghadirkan kisah dari kedua relief tersebut melalui teater imersif.Pengalaman interaktif juga hadir melalui Batu Carita, yang memungkinkan pengunjung berinteraksi dengan empat tokoh, yakni Raja Samaratungga, Putri Pramodhawardhani, Sudhana, dan Manohara.Sementara itu, Mandala mengajak pengunjung mengitari Borobudur menggunakan gawai masing-masing sekaligus menapaki rute sakral peziarah purba dari Candi Mendut dan Candi Pawon menuju Stupa Induk.Ada pula Jelajah Borobudur yang menghadirkan petualangan menuju Borobudur dan candi-candi di sekitarnya. Kemudian, Buku Carita mengisahkan perjalanan Putri Pramodhawardhani dalam memahami tujuan sang ayah, Raja Samaratungga, membangun Borobudur.Purwacarita Borobudur, pengalaman imersif yang dihadirkan oleh Galeri Indonesia Kaya untuk menelusuri kisah penciptaan Candi Borobudur. Foto: Salsha Okta Fairuz/kumparanPengunjung juga dapat merasakan pengalaman berbasis sensor melalui Harmoni Borobudur. Fitur ini menghadirkan gambaran alam di sekitar Borobudur pada masa lalu beserta sejumlah satwa, seperti burung merak, rusa Jawa, dan gajah, yang merespons gerakan pengunjung.Sebagai sajian utama, Asal Mula Borobudur The Movie ditayangkan di Auditorium Galeri Indonesia Kaya. Film ini membawa pengunjung lebih dekat pada kisah di balik penciptaan Candi Borobudur beserta relief-reliefnya.Dikembangkan dengan Validasi Akademik dan ProfesionalPenggunaan AI dalam Purwacarita Borobudur tidak dibuat sembarangan. Setiap elemen visual yang ditampilkan melalui proses kurasi dan validasi agar tetap memiliki dasar sejarah.Purwacarita Borobudur telah mendapatkan validasi akademik dari Departemen Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada. Selain itu, proyek ini juga melalui validasi profesional dari Museum dan Cagar Budaya.Pengunjung melihat pameran imersif Purwacarita Borobudur di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia, Jakarta, Selasa (1/9/2026). Foto: Rivan Awal Lingga/ANTARA FOTOKurator dari Departemen Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, Dr. Sri Margana, menjelaskan bahwa proses kurasi dilakukan sejak tahap awal pengembangan konsep. Tim kurator meninjau storyline, sumber literasi, hingga setiap bagian visual yang dikembangkan.“Teman-teman dari Curaweda mempresentasikan dulu konsepnya, kemudian storyline yang akan disampaikan apa saja, kemudian apa saja yang sudah dipersiapkan literasi didasarkan pada sumber-sumber apa saja. Nah, itu kita review sejak awal,” kata Sri Margana.Berbagai detail dalam Purwacarita Borobudur, mulai dari kostum, karakter, hingga latar kehidupan masyarakat pada masa itu, merujuk pada sumber sejarah dan artefak yang tersedia, termasuk relief Borobudur.Purwacarita Borobudur dapat dinikmati mulai 1 September 2026 di Galeri Indonesia Kaya, Lantai 8, Grand Indonesia, Jakarta Pusat, secara gratis. Pengunjung dapat merasakan pengalaman imersif untuk mengenal kisah dan sejarah Borobudur melalui teknologi digital yang telah divalidasi secara akademik dan profesional.