Jika Tuhan Ada, Mengapa Penderitaan Merajalela?

Wait 5 sec.

Ilustrasi Orang Menderita. Foto: Firman Marek/pexels.Di sepanjang sejarah peradaban, ada satu pertanyaan abadi yang senantiasa mengusik batin manusia. Ketika bencana alam menyapu pemukiman, penyakit merenggut anak-anak tak berdosa, atau kezaliman merajalela tanpa hukuman seketika, jeritan itu kembali mengemuka. Jika Tuhan itu Maha Pengasih dan Maha Kuasa, mengapa penderitaan terus hadir meremukkan kehidupan? Mengapa rasa sakit tidak ditiadakan saja dari muka bumi?Pertanyaan sengit ini bukanlah keluhan kemarin sore. Berabad-abad silam, filsuf Yunani Kuno, Epicurus, telah merangkum kegelisahan tersebut ke dalam sebuah teka-teki logika yang sangat menohok. Jika Tuhan ingin mencegah kejahatan namun tidak sanggup, berarti Dia tidak Mahakuasa. Jika Dia sanggup tetapi tidak bersedia, apakah itu berarti Dia tidak Maha penyayang? Jika Dia mampu dan bersedia, dari manakah datangnya seluruh derita ini?Tantangan pemikiran inilah yang melahirkan cabang diskursus besar yang dikenal sebagai teodise (theodicy). Berasal dari paduan kata Yunani theos (Tuhan) dan dike (keadilan), istilah yang pertama kali dipopulerkan oleh filsuf Gottfried Wilhelm Leibniz pada tahun 1710 ini merujuk pada upaya akal budi manusia untuk mempertahankan keluhuran dan keadilan Sang Pencipta di hadapan kenyataan dunia yang sarat kepedihan.Filsafat menolak jalan pintas kepasrahan buta yang sekadar berkata, "Sudahlah, ini takdir." Lewat teodise, para pemikir besar lintas tradisi Barat dan Timur menyusun bangunan argumen rasional untuk membedah apakah penderitaan adalah cacat dalam semesta, ataukah bagian dari desain agung yang maknanya belum tuntas terbaca oleh manusia?Benteng Pemikiran Barat: Kehendak Bebas dan Bengkel Pembentuk JiwaTradisi filsafat Barat membangun pertahanan intelektualnya melalui beberapa pilar penting. Sudut pandang pertama digagas oleh filsuf abad klasik, Santo Augustinus. Baginya, kejahatan dan penderitaan pada hakikatnya tidak memiliki wujud eksistensial tersendiri. Kejahatan adalah privatio boni, yaitu hilangnya atau rusaknya kebaikan, serupa dengan kegelapan yang sesungguhnya bukan benda materiil, melainkan sekadar ketiadaan cahaya.Lantas, dari mana datangnya keburukan moral dan kepedihan itu? Jawabannya terletak pada penyalahgunaan kehendak bebas (free will) oleh manusia. Manusia memilih berpaling dari Kebaikan Hakiki menuju hal-hal yang fana dan serakah.Gagasan kehendak bebas ini kemudian disempurnakan pada era modern oleh filsuf Alvin Plantinga. Dia mengajukan tesis logis, yakni dunia yang dihuni oleh makhluk berpikiran merdeka yang bebas memilih antara berbuat bajik atau jahat memiliki nilai intrinsik yang jauh lebih mulia daripada dunia yang diisi makhluk nirdaya layaknya robot yang diprogram otomatis untuk selalu benar. Tuhan tidak menciptakan kejahatan. Tuhan menciptakan karunia kebebasan, dan salah satu konsekuensi tak terhindarkannya adalah terbukanya celah munculnya luka dan kesalahan manusia.Pilar kedua dipelopori oleh Irenaeus yang kelak dikembangkan secara komprehensif oleh John Hick. Hick menegaskan bahwa dunia fana ini memang tidak pernah dirancang sebagai taman rekreasi yang serba nyaman. Bumi sejatinya adalah bengkel pembentukan jiwa. Karakter luhur manusia—seperti keberanian, kelembutan hati, kesabaran, dan solidaritas—tidak akan pernah dapat tumbuh di dalam ruang hidup yang steril dari rasa sakit dan rintangan. Tanpa adanya bahaya, keberanian menjadi hampa; tanpa adanya air mata sesama, empati kehilangan makna.Puncaknya, Leibniz mengajukan argumen yang sangat berani, yaitu dunia tempat kita berpijak hari ini adalah kombinasi terbaik dari semua kemungkinan dunia. Melalui kebijaksanaan-Nya yang tak berbatas, Tuhan memperhitungkan seluruh variabel hukum alam dan kehendak makhluk, lalu memilih semesta yang menghasilkan kebaikan universal maksimum, kendati menyisakan ruang bagi derita sebagai konsekuensi logis dari keteraturan kosmik.Timbangan Tradisi Islam: Dialektika Keadilan dan Gradasi WujudDalam lanskap intelektual Islam, dialektika seputar penderitaan bergulir tajam melalui perdebatan teolog dan para filsuf Muslim.Kelompok Mu’tazilah, di bawah tokoh-tokohnya seperti Al-Qadhi ‘Abd al-Jabbar, memandang keadilan Ilahi sebagai prinsip rasional yang objektif. Menurut mereka, Tuhan selalu berbuat hal yang terbaik dan paling maslahat (al-ashlah) bagi hamba-Nya. Jika ada manusia atau anak kecil yang menanggung derita tanpa dosa di dunia, keadilan Tuhan meniscayakan adanya kompensasi pahala dan kebahagiaan ('awadh) yang berlipat ganda di alam akhirat kelak.Pandangan ini didekonstruksi oleh kelompok Asy’ariyah, salah satunya Imam Al-Ghazali. Dia menyeret Tuhan ke dalam ukuran moralitas ciptaan adalah sebuah kerancuan nalar. Tuhan adalah Pemilik Mutlak semesta. Karena seluruh alam adalah hak milik-Nya, maka apa pun yang diperlakukan Sang Pencipta terhadap ciptaan-Nya pada hakikatnya selalu berada di atas garis keadilan mutlak yang tidak bisa diintervensi oleh standar rasionalitas manusia yang rapuh.Di ranah falsafah, Ibn Sina menawarkan analisis metafisis yang sangat menawan. Senada dengan konsep ketiadaan, Ibn Sina menjelaskan bahwa penderitaan fisik di dunia material adalah dampak aksidental ('aradh), bukan tujuan utama penciptaan. Kebaikan yang terpancar di alam semesta ini berlimpah ruah, sementara keburukan fisik hanyalah residu minoritas yang timbul dari interaksi hukum materi, seperti api yang membakar atau benturan fisik. Menghendaki hilangnya seluruh penderitaan materi sama artinya dengan meniadakan eksistensi alam fisik itu sendiri, padahal kebaikan alam jasmani jauh melampaui efek samping kekurangannya.Puncak permenungan metafisis ini disempurnakan oleh Mulla Sadra lewat mahakarya filsafatnya, Hikmat al-Muta'aliyah. Sadra membedah semesta melalui doktrin gradasi wujud (tasykik al-wujud). Wujud adalah pancaran cahaya Ilahi. Semakin jauh tingkat keberadaan dari Sumber Wujud Mutlak, semakin pekat bayang-bayang keterbatasannya. Alam materi berada pada anak tangga wujud paling dasar, sehingga penderitaan dan kelemahan adalah bukti ontologis bahwa ciptaan bukanlah Sang Khalik itu sendiri. Penderitaan bukanlah "sesuatu yang diciptakan terpisah," melainkan nama lain dari keterbatasan kodrati makhluk.Menemukan Titik Temu Lintas PeradabanJika kedua kutub tradisi ini disejajarkan, kita mendapati satu benang merah yang sangat memukau. Baik pemikir Barat (Augustinus dan Plantinga) maupun filsuf Timur (Ibn Sina dan Mulla Sadra) sama-sama bersepakat bahwa penderitaan dan kejahatan bukanlah entitas mandiri yang sengaja dihadirkan Tuhan sebagai tujuan akhir. Derita pada dasarnya adalah "ketiadaan kesempurnaan" (privatio boni atau 'adam).Perbedaan keduanya hanya terletak pada sudut bidik penjelasannya. Tradisi Barat lebih banyak membedah dimensi etis, tanggung jawab moral, dan anugerah kehendak bebas manusia. Sementara Tradisi Falsafah Islam melayang lebih tinggi pada penyelidikan struktur ontologi kosmik, keterbatasan alam materi, serta kesempurnaan rancangan wujud.Menatap Derita Tanpa Kehilangan MaknaPergulatan intelektual seputar teodise pada akhirnya tidak pernah dirancang untuk memadamkan rasa sakit fisik secara instan. Ketika seseorang tertimpa musibah yang mendalam, rumus-rumus filsafat Leibniz atau uraian ontologis Mulla Sadra tentu tidak serta-merta menghapus kepedihan di dada.Namun, di sanalah letak kemuliaan filsafat dan kejernihan iman. Teodise hadir bukan untuk membuat manusia berhati beku, melainkan memberi kerangka makna agar jiwa tidak runtuh terperosok ke dalam jurang keputusasaan dan nihilisme. Keberadaan penderitaan tidak otomatis membuktikan ketiadaan Sang Pencipta. Ia justru membongkar betapa terbatasnya perspektif kita dalam membaca desain kosmis yang maha luas.Sebagaimana diungkapkan oleh filsuf eksistensialis Soeren Kierkegaard, hidup ini bukanlah semata problem matematis yang harus dipecahkan di atas kertas, melainkan kenyataan hidup yang harus diresapi dan dijalani dengan penuh keberanian. Akal budi manusia memiliki hak untuk terus bertanya dan meneliti, namun di tepian batas nalar, teodise membimbing kita untuk menundukkan ego intelektual dan memeluk kerendahan hati di hadapan agungnya rahasia Semesta.