Belajar Bertanya dari Rasulullah di Era AI

Wait 5 sec.

Ilustrasi AI. Foto: Digineer Station/ShutterstockKetika seorang anak dapat memperoleh jawaban dari kecerdasan buatan dalam hitungan detik, pertanyaan paling penting dalam pendidikan bukan lagi seberapa cepat guru memberikan jawaban. Pertanyaannya adalah: apakah sekolah masih mengajarkan anak bagaimana berpikir?Pertanyaan itu menjadi semakin mendesak ketika kita melihat hasil PISA 2022. Skor Indonesia hanya 359 untuk membaca, 366 untuk matematika, dan 383 untuk sains — jauh di bawah rata-rata global masing-masing 476, 472, dan 485. Hanya sekitar 25 persen siswa Indonesia mencapai kompetensi minimum (Level 2) dalam membaca, 18 persen dalam matematika, dan 34 persen dalam sains.Angka tersebut tidak seharusnya hanya menjadi bahan untuk menyalahkan guru atau siswa. Ia perlu menjadi cermin bagi sistem pendidikan kita. Di tengah dunia yang semakin dipenuhi informasi dan teknologi, apakah pembelajaran di sekolah sudah cukup melatih anak untuk memahami informasi, menguji kebenarannya, menyusun alasan, dan mengambil keputusan?Pada titik inilah kita dapat melihat kembali cara Rasulullah Muhammad SAW mendidik. Bukan dengan memaksakan teori pendidikan modern ke dalam praktik pendidikan Rasulullah, tetapi dengan menemukan prinsip-prinsip pendidikan yang tetap relevan untuk menjawab tantangan zaman.Salah satu contohnya adalah cara Rasulullah menggunakan pertanyaan. Dalam hadis tentang orang yang bangkrut, Rasulullah bertanya kepada para sahabat, "Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut?" Para sahabat menjawab berdasarkan pemahaman mereka. Setelah itu Rasulullah menjelaskan makna kebangkrutan yang lebih mendalam. Proses tersebut menunjukkan bahwa pertanyaan dapat menjadi pintu untuk membangunkan pikiran sebelum guru memberikan jawaban.Prinsip ini sangat relevan dengan kondisi anak hari ini. Mereka tidak kekurangan jawaban. Google, YouTube, media sosial, dan AI menyediakan jawaban dalam jumlah yang hampir tidak terbatas. Persoalannya justru terletak pada kemampuan menentukan apakah jawaban itu benar.Bayangkan guru sedang mengajarkan literasi digital. Guru dapat mengatakan, "Jangan percaya hoaks." Namun pembelajaran akan jauh lebih bermakna jika guru bertanya, "Kalau informasi ini dikirim oleh orang yang kita percaya, apakah otomatis benar? Apa buktinya? Siapa yang membuat informasi ini? Apa kepentingannya? Apa akibatnya jika kita menyebarkannya dan ternyata salah?" Anak kemudian tidak hanya belajar tentang hoaks. Ia belajar cara berpikir.Di sinilah peran guru mengalami perubahan besar. Ketika informasi tersedia di mana-mana, nilai seorang guru justru semakin besar dalam membantu siswa memahami, menguji, menghubungkan, dan menggunakan pengetahuan. AI dapat membantu siswa membuat rangkuman, mencari informasi, menulis teks, bahkan menghasilkan gambar dan video. Guru tidak perlu bersaing dengan mesin dalam menghasilkan informasi. Yang perlu dilakukan adalah mengajarkan kemampuan yang tidak boleh hilang ketika teknologi semakin pintar: bertanya, memverifikasi, menilai, berargumentasi, berempati, dan bertanggung jawab.Rasulullah menggunakan perumpamaan dan alat bantu konkret dalam menjelaskan sesuatu, dalam beberapa riwayat menggunakan garis atau gambar di tanah untuk membantu sahabat memahami konsep tertentu. Prinsipnya sederhana: sesuatu yang abstrak sering kali lebih mudah dipahami ketika dapat dilihat, dibayangkan, atau dikaitkan dengan pengalaman nyata. Matematika tidak harus selalu hadir sebagai angka di papan tulis; ia dapat dihubungkan dengan persoalan keuangan sehari-hari. Sains dapat dipelajari melalui eksperimen. Pendidikan agama dapat membahas dilema moral yang benar-benar dihadapi anak.Rasulullah juga menunjukkan pentingnya mendidik manusia secara bertahap sesuai kondisi dan kemampuannya, anak usia dini membutuhkan pengalaman dan rasa aman, anak yang lebih besar membutuhkan pembiasaan dan tanggung jawab, remaja membutuhkan ruang dialog dan kepercayaan. Masalahnya, perubahan anak sering kali jauh lebih cepat daripada perubahan cara kita mengajar. Mereka hidup dalam ekosistem digital, sementara sebagian pembelajaran masih berpusat pada pola guru menjelaskan, siswa mencatat, menghafal, lalu diuji. Pola tersebut tidak selalu salah, tetapi tidak cukup untuk menghadapi dunia yang membutuhkan kemampuan memecahkan masalah dan mengambil keputusan.Namun perubahan pendidikan juga tidak boleh seluruhnya dibebankan kepada guru. Guru membutuhkan dukungan sistem: kesempatan belajar, kolaborasi, kepemimpinan sekolah yang baik, perlindungan profesional, dan ruang untuk bereksperimen. Ketika guru terus dibebani pekerjaan administratif tanpa dukungan yang memadai, sulit berharap mereka dapat sepenuhnya hadir sebagai fasilitator pembelajaran. Karena itu, reformasi pendidikan Indonesia seharusnya tidak berhenti pada pergantian kurikulum atau pengadaan teknologi. Kita perlu memperkuat manusia yang menjalankan pendidikan.Di era ketika mesin semakin cepat memberikan jawaban, sekolah justru harus semakin serius mengajarkan anak untuk bertanya. Sebab manusia masa depan tidak cukup hanya mampu mengetahui banyak hal. Ia harus mampu membedakan yang benar dan yang salah, memahami konsekuensi pilihannya, menghargai manusia lain, dan menggunakan pengetahuannya untuk kebaikan. Pendidikan yang berhasil bukan hanya melahirkan manusia yang mampu menjawab soal, melainkan manusia yang mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan akal sehat, karakter, dan empatinya.