Pekerja melihat data stok cadangan beras pemerintah (CBP) di gudang Perum Bulog Kanwil Sumsel Babel di Palembang, Sumatera Selatan, Rabu (12/8/2026). Foto: Nova Wahyudi/ANTARA FOTOPerum Bulog merespons fenomena El Nino atau kekeringan yang tengah terjadi. Meski menghadapi kondisi tersebut, harga beras dipastikan tidak akan naik. Direktur Utama Bulog, Achmad Rizal Ramdhani, menjelaskan harga bisa dijaga karena stok beras nasional saat ini masih cukup besar. "Kondisi stok kita yang cukup besar lebih dari 5 juta ton, saya sampaikan kenaikan harga pangan tidak ada, khususnya beras. Kami akan berupaya semaksimal mungkin tidak ada kenaikan harga beras khususnya beras medium maupun beras premium HET," kata Rizal saat ditemui di Karawang, Jawa Barat, Senin (31/8).Ia pun meminta pihak swasta tetap mematuhi aturan pemerintah, terutama soal harga. Rizal juga berupaya menjaga harga bahan pangan lain agar tidak ikut naik. "Kami harapkan juga sembako yang lain juga tidak mengalami kenaikan karena pemerintah terus mendorong untuk kemandirian pangan baik itu gula, kedelai, bawang putih bahkan sampai dengan keperluan-keperluan lain," ujarnya.Menteri Pertanian RI Amran Sulaiman dan Dirut Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani berdiskusi dengan para pengamatan ekonomi, akademisi dan pimpinan media usai mengecek stok beras di Gudang Bulog, Karawang, Jawa Barat, Kamis (23/4/2026). Foto: Iqbal Firdaus/kumparanTerkait fluktuasi harga beras premium yang tengah terjadi, Rizal menegaskan Bulog akan mengintervensi, meski keputusan itu masih perlu dibahas bersama Kementerian Koordinator Bidang Pangan. "Memang salah satunya yang menjadi kendala saat ini adalah ada fluktuasi kenaikan harga beras premium yaitu beras premium maupun beras fortifikasi yang sedang mengalami kenaikan. Maka untuk meredam hal tersebut, kami sedang mengajukan ke Menko Pangan besok pada saat rakortas," ucapnya.Salah satu opsi yang akan diajukan Bulog adalah mengalihkan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) menjadi beras premium. Langkah yang masih menunggu persetujuan dalam rapat koordinasi tersebut. Bulog juga berencana merombak tampilan kemasan beras SPHP agar lebih menarik di pasaran. "Beras SPHP yang dulunya warnanya kuning hijau-hijauan nanti kita berganti baru dengan yang lebih ikonik dan lebih eye-catching sesuai dengan kekinian sehingga tidak kalah dengan produk-produk pihak swasta, namun tidak mengurangi dari nilai isi beras tersebut," kata Rizal.Pekerja memikul karung berisi beras di gudang Perum Bulog Kanwil Sumsel Babel di Palembang, Sumatera Selatan, Rabu (12/8/2026). Foto: Nova Wahyudi/ANTARA FOTOStok Pangan Nasional Masih AmanDi tempat yang sama, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memastikan ketahanan pangan, khususnya beras, tetap terjaga walau tengah ada ancaman El Nino."Sesuai estimasi BPS, produksi tahun ini lebih tinggi daripada tahun lalu yang dirilis terakhir. Artinya kalau lebih tinggi, sama saja, apalagi lebih tinggi tahun lalu itu 4 juta ton, surplus 4 juta ton. Kalau ditambah 4 juta tahun ini berarti 8 juta ton. Kapasitas gudang hanya 3 juta ton. Sekarang sudah 5 juta ton," kata Amran."Jadi, hitungan kita 8 juta ton. Katakanlah ada pertambahan penduduk dan sebagainya. Itu ya, surplus 7 juta ton 2 tahun ya. Ini InsyaAllah [stok] aman," lanjutnya. Ia menambahkan, proses pompanisasi juga terus berjalan agar lahan tetap bisa ditanami, terutama dengan benih tahan kekeringan. Amran juga menyebut masih ada cadangan beras dalam bentuk standing crop alias beras yang belum dipanen, serta beras yang tersimpan di sektor hotel, restoran, kafe (horeka), dan rumah tangga. "Di hotel, rumah-rumah, restoran, itu juga 10 juta ton. Nah, lebih. Kemudian ada di gudang 5 juta. Berarti 25-26 juta. Kalau per bulan, itu konsumsinya 2,6 juta berarti [stok aman untuk] 10 bulan kan?" kata Amran