Sekilas Sama, Aki Mobil Konvensional dan EV Ternyata Beda

Wait 5 sec.

Suasana bengkel aki milik Kurniawan di Cilandak, Jakarta Selatan. Foto: Alvian Yoga Yulianto/kumparanKomponen auxiliary battery atau ramai menyebutnya aki pada mobil konvensional dan listrik murni sekilas terlihat sama persis. Tetapi, ternyata tetap ada perbedaan kunci yang didasari dengan bahan penyusun serta karakteristiknya.Seperti yang dijelaskan Pendiri EV Safe dan Dosen National Battery Research Institute, Mahaendra Gofar. Kendati sama-sama berfungsi menyuplai arus daya listrik kecil, tetapi secara kebutuhan untuk mobil konvensional dan listrik sengaja dibedakan."Aki mobil EV itu spesifikasinya agak lain, dia tidak bisa untuk mengaktifkan starter motor di mesin. Dia hanya untuk kebutuhan EV dan keperluan charge dan discharge secara cepat," buka Gofar saat ditemui kumparan di Fatmawati, Jakarta.Selain untuk menghidupi berbagai perangkat elektronik dengan daya rendah seperti sistem audio, lampu, klakson, wiper, hingga sistem komputer, daya listrik dari aki juga membantu mengaktifkan motor starter saat awal-awal menyalakan mesin bakar internal.Ilustrasi aki kalsium. Foto: Istimewa"Prinsip kerja aki di mobil konvensional kan juga salah satunya hanya untuk menyalakan motor starter itu, kemudian ketika mesinnya sudah menyala nanti fungsinya akan digantikan alternator untuk mengalirkan listrik (ke seluruh perangkat elektronik kendaraan)," kata Gofar.Sementara pada mobil listrik, daya yang dihasilkan dari aki tidak sekuat dan sebesar mobil konvensional. Karena salah satu fungsinya hanya untuk mengaktifkan komponen DC Converter untuk mengakses daya listrik dari baterai besar atau utama."Mobil konvensional ada alternator yang biasanya ikut putaran mesin untuk beroperasi, sementara mobil listrik dia menggunakan namanya DC Converter. Makanya kalau di mobil listrik itu sistem AC atau pendingin kabin dia ambil dayanya dari baterai besar," imbuh Gofar.Perbedaan selanjutnya ada pada komposisi bahan yang digunakan dari masing-masing aki. Untuk yang terpasang pada mobil konvensional (lead acid) umumnya terdiri dari pelat timbal yang direndam cairan elektrolit (air aki).Komponen aki berdampingan dengan DC Converter di mobil listrik Suzuki eVitara. Foto: Sena Pratama/kumparanSementara mobil listrik dan hibrida kebanyakan saat ini sudah mulai menggunakan jenis LFP (Lithium Fero Phosphate/LiFePO4), secara penamaan agak mirip dengan jenis baterai utamanya. Salah satu keunggulannya adalah umur pakai yang lebih panjang dari aki biasa."Aki LFP itu sudah digunakan misalnya di Porsche Taycan atau BYD Sealion. Sekarang pelan-pelan banyak mobil baru yang mulai migrasi ke aki 48 volt karena dia dayanya efisien, tetapi sekarang memang kebanyakan mobil masih mentok di 12 volt," papar Gofar.Keunggulan lain aki LFP memiliki bobot yang lebih ringan, tegangan yang dihasilkan lebih stabil, kemampuan self-discharge yang rendah sehingga kecil potensi tekor akibat kendaraan yang jarang diaktifkan atau dipakai. Meski harga di pasaran tentu lebih mahal.