Wetonan sebagai Ajang Detoksifikasi Digital

Wait 5 sec.

https://www.pexels.com/id-id/foto/pria-laki-laki-lelaki-tangan-15262699/Wetonan begitu melekat dalam tradisi Jawa. Wetonan berasal dari kata weton yang berarti penanggalan Masehi dan pasaran Jawa (Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon) terhadap hari kelahiran. Weton bisa disimplifikasi sebagai identitas diri dalam tradisi Jawa.Weton ini berkaitan dengan neptu atau nilai numerik pada pertemuan hari Masehi dan pasaran Jawa. Umumnya digunakan sebagai perhitungan ramalan terkait jodoh, hari baik, maupun membaca watak. Jadi, weton ini adalah identitas personal permanen dalam sudut spiritual budaya Jawa. Apabila lahir pada Kamis Pahing, maka ia akan melaksanakan wetonan setiap Kamis Pahing.Wetonan yang dimaksud adalah perayaan terhadap siklus pertemuan Masehi dan pasaran Jawa. Secara perhitungan, Masehi memiliki 7 hari sedamgkan pasaran Jawa memilih 5. Sehingga didapati Kelipatan Persekutuan Kecil (KPK)-nya adalah 35. Menunjukan bahwa satu siklus weton itu berlangsung selama 35 hari. Jika manusia membutuhkan istirahat fisik malam hari, istirahat mental ketika liburan (weekend/hari libur), maka alternatif istirahat moral atau spiritual adalah ketika weton.Wetonan adalah ritual untuk menjaga diri dari segala ambisi, ego, dan nafsu duniawi. Sehingga setidaknya dilakukan dengan dua hal yaitu puasa dan melek-melekan. Puasa dilakukan tidak semata-mata menahan lapar dan haus, melainkan nafsu duniawi sebagaimana tujuan dilakukannya wetonan. Sedangkan melek-melekan adalah berdiam diri dan mengevaluasi diri terhitung dari magrib sampai larut malam atau bahkan Subuh.Melek-melekan menjadi ritual yang menarik karena tidak hanya sebatas menahan kantuk dengan sia-sia. Terjaganya malam hari untuk belajar menangkal segala ambisi, ego, dan keserakahan dalam diri. Dalam era modern, praktik ini dapat juga dimodifikasi sebagai detoksifikasi digital. Kita bisa menyebut melek-melekan sebagai puasa digital. Ritual wetonan menjadi ajang istirahat moral atau spiritual dari kehidupan yang penuh dengan hiruk-pikuk. Evaluasi terhadap apa yang sudah dilakukan selama 35 hari ke belakang. Berusaha menahan diri dari hal negatif dan menuju ketenangan, salah satunya menghindarkan diri dari serba-serbi digital yang menghadirkan dopamin instan, itulah penerapan detoksifikasi digital.Ditengah arus modernisasi dengan kecepatan teknologi dan sifat narsisme, wetonan mengajarkan kita untuk memperlambat dan membenahi diri. Dengan keluar dari arus yang tercipta, kita lebih sadar tentang siapa diri kita dan apa yang seharusnya kita perbuat. Kita dapat memilah lebih jeli arus yang telah kita selami selama 35 hari ke belakang.Wetonan membawa kepada banyak pertanyaan reflektif. Apakah penggunaan digital selama 35 hari ke belakang sudah bijak? Jika kita merasa telah berlebihan, wetonan menyadarkan kita secara langsung bahwa tanpa kecanduan digital kita tetap mampu menjalani hidup. Bahkan mendapat lebih banyak ketenangan karena tidak banyak informasi yang tidak seharusnya kita terima.Ingat, informasi penting itu banyak. Pertanyaannya, apakah itu penting dan harus kita terima? Jika tidak, maka gunakanlah digital dengan bijak.