Wapres ke-13 RI Ma'ruf Amin memberikan sambutan saat Harlah ke-27 Partai PKB di JCC, Jakarta, Rabu (23/7/2025). Foto: Youtube/DPP PKBWakil Presiden ke-13 RI Ma'ruf Amin mendorong Nahdlatul Ulama (NU) memperkuat pendidikan dengan menggabungkan penguasaan ilmu agama dan sains-teknologi. Ia menilai, NU harus mempersiapkan ulama yang menguasi ilmu pengetahuan dan teknologi.Ma'ruf menjelaskan, NU harus menyiapkan orang-orang yang memiliki pemahaman mendalam mengenai agama dan generasi yang mampu menguasai sains serta teknologi. Dia menyebut konsep tersebut sebagai pertemuan dua lautan."Pendidikan yang harus kita bangun sekarang itu ada dua, ya. Saya menyebutnya sebagai majma'ul-baḥrain, bertemunya dua lautan," kata Ma'ruf dalam paparannya di acara Halaqah Kebangsaan dan Qanun Asasi di Gedung Nusantara V, MPR RI, Jakarta Pusat, Sabtu (8/8).Ma'ruf menjelaskan pendidikan keagamaan diperlukan untuk menyiapkan ulama agar tetap dalam koridor keagamaan yang tepat. Ia mengistilahkan hal itu dengan i'dadul-mutafaqqihina fid-din, yakni menyiapkan orang-orang yang mendalami ilmu agama."Menyiapkan orang-orang fakih (i'dādul-mutafaqqihīna fid-dīn), para ulama, untuk menjaga tadi, ḥimāyatul-ummah, supaya tetap di dalam paham yang benar, cara berpikir yang benar," katanya.Ilustrasi kantor Nahdlatul Ulama (NU). Foto: ShutterstockMenurutnya, kedua pendekatan pendidikan tersebut tidak seharusnya dipisahkan. Pendidikan agama dibutuhkan untuk menjaga arah pemahaman umat, sementara penguasaan sains dan teknologi diperlukan agar generasi NU mampu berperan dalam pembangunan."Ini pendidikan kita yang harus kita siapkan sekarang ini, supaya memberi kontribusi terhadap kehidupan berbangsa bernegara lebih besar," kata Ma'ruf.Lebih jauh, Ma'ruf juga menyinggung pentingnya menjaga umat dari kecenderungan pemikiran yang dinilainya dapat membawa umat keluar dari jalan tengah. Dia mendorong agar umat tetap berada pada pendekatan i'tidal dan tawassuth, atau moderat."Maka kita kepada cara-cara yang i’tidāl, yang tawasuthī, atau yang kita sebut sekarang namanya Islam wasathiyyah, Islam yang rahmatan lil ‘alāmīn," ujarnya.