Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan saat Peluncuran dan Bedah Buku karya Bahlil Lahadalia, Jumat (7/8). Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparanKetua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan kebijakan hilirisasi nikel sempat dicibir di awal implementasi, namun saat ini banyak pengkritik tersebut mengantre untuk bertemu Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.Larangan ekspor nikel secara penuh diberlakukan pada 1 Januari 2020 sesuai dengan UU Minerba. Perkembangannya menghadapi berbagai tantangan, termasuk sengketa di World Trade Organization (WTO)."Saya masih ingat masa-masa awal larangan ekspor bijih nikel. Kami dicibir, kami ditekan dari berbagai arah, kami digugat sampai ke WTO, dan banyak yang bilang Indonesia tidak akan sanggup. Ada yang mentertawakan," ungkap Luhut saat Peluncuran dan Bedah Buku '10 Karya Nyata untuk Negeri: Setengah Abad Bahlil Lahadalia', di Djakarta Theatre. Jumat (7/8).Kebijakan hilirisasi nikel diusung saat pemerintahan Presiden ke-7 Joko Widodo, ketika Luhut menjabat sebagai Menko Maritim dan Investasi, sementara Bahlil menjabat sebagai Menteri Investasi/Kepala BKPM.Luhut mengatakan meski sempat dicerca oleh berbagai pihak, kebijakan hilirisasi kini mulai diterima oleh investor dan berjalan dengan baik. Menurutnya, banyak pihak yang akhirnya ingin bertemu dengan Bahlil.Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan bersiap mengikuti rapat yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (19/3/2025). Foto: Hafidz Mubarak A/ANTARA FOTO"Sekarang, saya kira Pak Bahlil tegak berdiri mengatakan 'Kami Bisa'. Sebagian yang dulu mentertawakan itu justru sekarang antre minta bertemu dengan Pak Bahlil, mau ikut investasi. Saya tidak sebut nama, nanti acara bedah buku ini berubah jadi bedah yang lain," tutur Luhut.Menurutnya, keberhasilan tersebut terlihat dari nilai ekspor komoditas yang berlipat ganda karena kenaikan nilai tambah dari hilirisasi. Ia menyebut posisi Indonesia kini mulai terlihat di pasar internasional."Morowali dan Halmahera Tengah yang dulu nyaris tidak tercatat dalam peta ekonomi nasional, sekarang tumbuh dua digit yang menjadi bagian dari rantai pasok industri dunia," kata Luhut.Luhut menekankan banyak pengusaha lokal yang hanya menjadi penonton di tanahnya sendiri. Ia lalu mengapresiasi langkah yang diambil Bahlil, khususnya terkait kebijakan nikel."Ada persoalan lingkungan, ada persoalan keselamatan kerja yang merenggut nyawa, dan ini ditulis oleh Pak Bahlil secara terbuka. Mengkritik orang lain itu gampang, mengkritik pekerjaan sendiri di buku yang dicetak atas nama sendiri, itu yang jarang terjadi," ujarnya.Luhut berharap agar seluruh pengusaha nasional dan daerah ke depan harus naik kelas dalam rantai nilai hilirisasi. Ia juga mendorong anak bangsa menguasai teknologi, standar lingkungan, serta keselamatan yang tidak bisa ditawar karena pasar global semakin menuntut pasokan yang bersih.