Investor Saham Tembus 35 Juta Orang, Pergerakan Bursa Makin Pengaruhi Ekonomi RI

Wait 5 sec.

Karyawan melintas di dekat layar pergerakan saham di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (11/3). Foto: ANTARA FOTO/Galih PradiptaKepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BCA), David Sumual, menilai semakin besarnya jumlah investor ritel di pasar modal Indonesia, membuat pergerakan bursa semakin mempengaruhi perekonomian nasional.David mencatat jumlah investor ritel di Indonesia telah mencapai sekitar 35 juta orang. Jumlah tersebut meningkat sekitar 30 persen dibandingkan tahun sebelumnya.Menurut David, kondisi tersebut berbeda dengan era 2000-an ketika jumlah investor pasar modal masih sangat terbatas. Saat itu, jumlah investor kurang dari 500 ribu, sehingga pergerakan bursa belum memberikan dampak yang berarti terhadap perekonomian secara keseluruhan."Peran dari investor retail makin besar. Sekarang 35 juta...berarti naik sekitar 30% sejak tahun lalu. Dan artinya kalau bursa naik atau bursa turun, itu akan sangat mempengaruhi ke ekonomi," kata David dalam acara Musyawarah Anggota Asosiasi Emiten Indonesia 2026, Selasa (11/8).Kepala Ekonom BCA, David Sumual dalam gelaran Bincang Bareng BCA - Proyeksi Ekonomi 2026 di Kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Senin (15/12/2025). Foto: Widya Islamiati/kumparanDavid menjelaskan, pengaruh pasar saham terhadap ekonomi salah satunya terjadi melalui perubahan persepsi kekayaan masyarakat. Ketika pasar saham menguat, investor yang dapat keuntungan merasa lebih kaya, sehingga cenderung meningkatkan konsumsi.Ia mencontohkan kondisi ketika bursa mengalami kenaikan pada tahun sebelumnya. Penguatan pasar saham membuat investor merasa lebih sejahtera dan terdorong membeli barang maupun jasa.“Misalnya bursa naik seperti tahun lalu, semua merasa happy, mereka merasa lebih kaya,” ujarnya.Menurut David, kondisi tersebut juga berkaitan dengan aksi investor yang merealisasikan keuntungan atau mengambil keuntungan dari kenaikan harga saham. Ketika keuntungan direalisasikan, dana yang diperoleh dapat kembali masuk ke aktivitas konsumsi masyarakat.“Jadi kalau dia udah taking profit...jadinya akan mendorong spending juga,” kata David.Sebaliknya, investor yang belum sempat merealisasikan keuntungan justru dapat melakukan aksi cut loss ketika pasar mengalami tekanan. David menyebut kondisi tersebut tecermin dalam pergerakan indeks transaksi belanja.Pengunjung melintas di depan layar yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (24/4/2026). Foto: Putra M. Akbar/ANTARA FOTO Konsumsi Mulai PulihDalam kesempatan itu, David juga memaparkan indikator konsumsi dari BCA yang menunjukkan pemulihan belanja masyarakat. Indeks transaksi belanja BCA mencatat konsumsi mulai pulih pada Juni dengan pertumbuhan sekitar 9 persen.Segmen middle to upper class disebut masih menjadi salah satu kelompok yang relatif resilien. Selain itu, penjualan mobil penumpang pada Juni juga meningkat hingga 27 persen, setelah sempat tumbuh lebih rendah pada Mei.