Belajar dari Ahmedabad: Apa yang Kota Lain Ajarkan tentang Jakarta

Wait 5 sec.

Presentasi Program Eco Act dan Kuliner Hijau Cawang di GSAC 2026. FOTO: Ria TrianyPada awal Februari 2026, saya berkesempatan menghadiri Global South Academic Conclave (GSAC) on WASH (Water, Sanitation, Hygiene) and Climate di Ahmedabad, India. Ini adalah kunjungan pertama saya ke negara tersebut, dengan satu tujuan utama: mempresentasikan inisiatif percontohan pengelolaan lingkungan secara inklusif di Jakarta, yaitu Eco Act (Education, Collaboration, Action) dan program Kuliner Hijau Cawang. Namun, pelajaran paling berharga justru tidak hanya datang dari ruang konferensi, melainkan dari kota itu sendiri.Seperti banyak kota di negara berkembang, Ahmedabad bukanlah kota tanpa masalah. Ia adalah kota besar dengan populasi padat, tantangan kemiskinan, dan tekanan urbanisasi yang tinggi—tantangan yang sangat mirip dengan kota Jakarta. Namun, yang membuat saya terkesan bukanlah kemegahan infrastruktur atau kecanggihan teknologi, melainkan kesederhanaan sistem yang berjalan konsisten dan terasa hidup di tingkat masyarakat.Sejauh mata memandang, Ahmedabad tertata rapi dan bersih. Sungguh jauh dari gambaran di media sosial tentang India. Di beberapa sudut kota, saya melihat pedagang kaki lima maupun usaha kuliner yang tertata di zona tertentu. Pedagang kaki lima tidak diusir, tetapi juga tidak dibiarkan tumbuh tanpa kendali. Ada pengaturan ruang yang jelas, sehingga aktivitas ekonomi rakyat tetap berjalan tanpa mengorbankan penataan kota. Pedagang kaki lima maupun usaha kuliner kecil tidak selalu dipandang sebagai masalah yang harus disingkirkan, melainkan sebagai bagian dari ekonomi kota yang perlu ditata.Makanan masih layak didonasikan oleh restoran di Ahmedabad. FOTO: Ria TrianyTidak terlihat timbunan sampah liar yang menumpuk berhari-hari. Sistem pengangkutan sampah terpilah menggunakan kendaraan sederhana, tetapi terlihat konsisten dan berjalan dengan baik. Kesederhanaan ini justru memperlihatkan sesuatu yang sering terlupakan: kota yang baik tidak selalu membutuhkan solusi yang mahal, melainkan solusi yang konsisten dan inklusif.Mobil pemilahan sampah di Ahmedabad yang sederhana. FOTO: Ria TrianyPemilahan sampah dilakukan secara konsisten di Ahmedabad. FOTO: Ria TrianySalah satu pengalaman yang paling berkesan adalah kunjungan ke Sabarmati Riverfront. Kawasan tepian sungai yang sebelumnya merupakan area kumuh dengan kualitas air yang buruk kini berubah menjadi ruang publik yang bersih, tertata, dan hidup. Masyarakat dapat berjalan santai, berolahraga, dan berkumpul bersama keluarga. Sungai bukan lagi “belakang rumah” yang dilupakan, melainkan ruang bersama yang dirawat oleh penghuni kota.Sebagai seseorang yang berasal dari Jakarta—kota dengan kapasitas fiskal yang jauh lebih besar—saya sempat merasakan kegelisahan dan rasa tertinggal. Bagaimana mungkin kota dengan sumber daya besar masih berjuang dengan masalah dasar seperti pengelolaan sampah, sanitasi, dan kualitas sungai? Mengapa kita masih bergulat dengan persoalan yang tampaknya dapat dikelola dengan pendekatan yang lebih sederhana, konsisten dan kolektif? Lalu kenapa Ahmedabad malah mengundang proyek ini yang masih dalam tahap early stage?Pertanyaan itu tidak lahir dari rasa rendah diri, melainkan dari kesadaran bahwa pembangunan kota bukan hanya soal anggaran, tetapi soal arah, konsistensi, kolektif dan kolaborasi. Solusi-solusi tersebut tidak selalu berbasis teknologi tinggi. Sebagian besar justru berupa sistem sederhana yang berjalan dengan konsisten. Seperti konsistensi pelarangan plastik sekali pakai, sampah yang diangkut terpilah dan tepat waktu, pedagang kecil yang punya tempat, sungai yang bisa dinikmati warga, dan ruang publik yang terasa aman dan nyaman.Refleksi itu kemudian berubah arah ketika diskusi di GSAC berlangsung. Peserta dan penyelenggara justru menunjukkan ketertarikan pada program Eco Act dan Kuliner Hijau yang baru kami kembangkan di Jakarta. Mereka ingin mengetahui bagaimana pemerintah bekerja sama dengan pelaku usaha kecil sektor kuliner, bagaimana komunitas dilibatkan, serta bagaimana layanan WASH dirancang secara inklusif.Dari situ saya menyadari bahwa setiap kota ternyata memiliki kekuatan dan titik butanya masing-masing. Tidak sedang dalam kompetisi, melainkan dalam ruang belajar yang sama. Satu kota mungkin memberi pelajaran tentang sistem pengangkutan sampah terpilah yang sederhana. Kota lain menawarkan pengalaman menata sektor informal. Kota lainnya sedang bereksperimen dengan model tata kelola yang lebih inklusif.Ahmedabad mungkin unggul dalam penataan ruang dan konsistensi layanan perkotaan. Jakarta, di sisi lain, sedang bereksperimen dengan pendekatan tata kelola lingkungan yang berupaya memasukkan pelaku usaha kecil yang sering tidak terlihat dalam sistem formal ke dalam sistem pengelolaan lingkungan. Program seperti Eco Act bukan tentang infrastruktur besar, melainkan tentang merancang ulang hubungan antara regulasi, komunitas, dan layanan. Dengan segala sumber daya dan anggaran yang dimiliki Jakarta, tantangan terbesar bukanlah kekurangan program, melainkan memastikan program-program itu benar-benar terhubung, konsisten, dan menjangkau masyarakat yang paling membutuhkan. Eco Act berusaha menjawab tantangan permasalahan lingkungan pada ekosistem perkotaan padat, dengan pilot project menyasar sektor kuliner informal, yaitu Kuliner Hijau Cawang, dengan harapan keberhasilannya dapat direplikasi di wilayah lain.Nilai dari forum internasional seperti GSAC bukan hanya pada kesempatan mempresentasikan program itu sendiri, tetapi juga pada kesempatan melihat kota kita melalui perspektif yang berbeda.Kedatangan saya ke Ahmedabad awalnya untuk mempresentasikan sebuah proyek percontohan. Namun, saya pulang dengan sebuah refleksi dan pertanyaan yang lebih dalam lagi: kota seperti apa yang sebenarnya ingin kita bangun—dan bersama siapa?