Ketika Data Berhadapan dengan Kepentingan: Di Mana Integritas ASN?

Wait 5 sec.

Ada kalimat yang pernah membuat saya berpikir cukup lama dalam menjalankan tugas sebagai ASN: "Kalau ini menjadi kebijakan pimpinan, bagaimana kita bisa melaksanakannya?"Pertanyaan itu terdengar sederhana. Tetapi jawabannya tidak selalu sederhana.Sebagai ASN yang bekerja di bidang perencanaan pembangunan, saya memahami bahwa kebijakan pimpinan harus diterjemahkan menjadi langkah nyata. Ada visi misi yang harus diwujudkan, target yang harus dicapai, dan kebutuhan masyarakat yang harus dijawab. Tugas kami adalah membantu agar kebijakan tersebut dapat berjalan.Tapi ada sisi lain yang tidak boleh diabaikan. Setiap kebijakan memiliki koridor. Ada kewenangan, regulasi, perencanaan, penganggaran, data, dan prosedur yang harus diperhatikan. Jika salah satu terabaikan, keputusan yang hari ini terlihat sebagai sebuah solusi, dapat menjadi persoalan ke kemudian hari.Di sinilah saya mulai memahami bahwa pekerjaan ASN tidak hanya tentang melaksanakan kebijakan. Ada tanggung jawab untuk memastikan bagaimana kebijakan itu dilaksanakan.Dalam perencanaan, saya berhadapan dengan berbagai usulan pembangunan. Masing-masing datang dengan kebutuhan dan harapan. Ada usulan masyarakat, perangkat desa, perangkat daerah, maupun kebijakan pimpinan. Semuanya memiliki alasan untuk dipertimbangkan.Persoalannya adalah kemampuan pemerintah terbatas. Tidak semua kebutuhan dapat dipenuhi dalam waktu yang sama. Maka diperlukan prioritas.Di sinilah data menjadi penting.Data membantu kita melihat kondisi secara lebih objektif. Seberapa besar masalahnya? Siapa yang terdampak? Apa manfaatnya? Siapa yang mempunyai kewenangan? Apakah sudah sesuai dengan dokumen perencanaan? Apakah anggarannya tersedia?Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan untuk menghambat sebuah kebijakan. Justru sebaliknya, pertanyaan itu membantu menemukan cara terbaik untuk mewujudkannya.Saya pernah berada dalam situasi ketika sebuah kebijakan perlu segera diterjemahkan ke dalam langkah nyata, sementara beberapa aspek masih perlu dipertimbangkan. Pada saat itu, persoalannya bukan memilih antara mendukung atau menolak kebijakan. Tantangannya adalah mencari jalan agar tujuan kebijakan tetap tercapai tanpa mengabaikan ketentuan yang berlaku.Saya belajar bahwa mengatakan "belum dapat dilakukan dengan cara tersebut" tidak sama dengan menolak.Kita perlu menjelaskan alasannya. Jika ada persoalan kewenangan, harus dijelaskan. Jika dasar hukumnya belum cukup, harus disampaikan. Jika data belum lengkap, perlu diverifikasi. Jika ada alternatif yang lebih sesuai, alternatif itulah yang perlu dicari.Sebab sebuah keputusan pemerintah tidak berhenti ketika dokumen ditandatangani. Ada konsekuensi setelahnya. Bisa konsekuensi administrasi, keuangan, pelayanan, bahkan hukum.Karena itu saya melihat integritas ASN dari cara kita memberikan pertimbangan sebelum sebuah keputusan dibuat.Integritas bukan sekedar keberanian mengatakan "iya" atau "tidak". Integritas adalah keberanian menyampaikan kondisi sebenarnya dan menjelaskan konsekuensinya, meskipun jawaban tersebut tidak selalu nyaman.Di sinilah saya memahami kembali arti loyalitas kepada pimpinan.Loyalitas tidak berarti selalu mengatakan "bisa". Kadang bentuk loyalitas yang lebih bertanggung jawab justru berbunyi, "Bisa dilakukan, tetapi ada beberapa hal yang harus kita pastikan terlebih dahulu."Atau, "Tujuan kebijakannya dapat kita laksanakan, tetapi cara yang ditempuh perlu disesuaikan agar tetap sesuai ketentuan."Bagi saya, kalimat seperti itu bukan bentuk perlawanan. Itu adalah bentuk tanggung jawab profesional.ASN bukan penghambat kebijakan. ASN juga bukan sekedar pembenar kebijakan. Tapi ASN adalah penerjemah kebijakan.Ketika pemimpin menetapkan arah, ASN membantu mencari jalan untuk mencapainya. Ketika regulasi memberikan batas, ASN menjelaskan batas tersebut. Ketika muncul risiko, ASN menyampaikannya. Ketika satu cara tidak dapat ditempuh, ASN mencari cara alternatif.Data menjadi penting dalam proses tersebut. Data yang benar membantu pimpinan melihat kondisi dan pilihan dengan lebih jelas. Sebaliknya data yang tidak akurat atau disajikan tidak utuh dapat membawa keputusan ke arah yang keliru.Karena itu, menjaga integritas dimulai dari sesuatu yang sederhana, yaitu menyampaikan kondisi apa adanya.Tidak memperindah data agar laporan terlihat baik. Tidak menyembunyikan masalah karena takut dianggap gagal. Tidak mengabaikan ketentuan hanya karena sebuah kebijakan harus segera berjalan.Saya menyadari bahwa ASN tidak selalu berapa pada posisi untuk menentukan keputusan akhir. Tetapi kita memiliki tanggung jawab terhadap proses sebelum keputusan itu dibuat.Kita menyiapkan data, memberikan analisis, menyampaikan pertimbangan, menjelaskan risiko, dan menawarkan alternatif. Setelah itu pimpinan mengambil keputusan sesuai kewenangannya.Di situlah saya melihat makna pengabdian ASN. Bukan sekedar menjalankan perintah, tetapi membantu memastikan bahwa kebijakan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dan tetap dapat dipertanggungjawabkan.Kita mungkin tidak dapat memenuhi semua harapan. Kita juga tidak selalu dapat membuat kebijakan berjalan secepat yang diinginkan. Tetapi kita dapat memastikan bahwa setiap keputusan yang kita bantu siapkan memiliki dasar yang jelas, menggunakan informasi yang benar, dan dilaksanakan dalam koridor aturan, sehingga kebijakan dapat tetap berjalan tanpa meninggalkan persoalan hukum di kemudian hari.Jabatan akan berganti. Pimpinan dapat berganti. Kebijakan dapat berubah. Tetapi jejak sebuah keputusan akan tetap ada.Karena itu, ketika data berhadapan dengan kepentingan, saya tidak lagi melihatnya sebagai pilihan loyalitas dan integritas. Justru di sanalah keduanya harus bertemu.Mengamankan kebijakan pimpinan dengan cara yang benar. Menyampaikan fakta meskipun tidak selalu nyaman. Mencari solusi ketika aturan memberikan batas dan memastikan keputusan hari ini tidak menjadi persoalan hukum di kemudian hari.Bagi saya, itulah integritas ASN.