Konferensi pers Komnas Perlindungan Anak memperingati Hari Anak Nasional di Jakarta Selatan, Minggu (9/8/2026). Foto: Joakhim Tharob/kumparanKomnas Perlindungan Anak (PA) menyoroti penemuan 995 senjata di gudang Sekolah Harapan Ibu Pondok Pinang, Jakarta Selatan. Mereka akan meninjau langsung sekolah tersebut dalam rangka memastikan kondisi psikis para siswa.Ketua Komnas PA DKI Jakarta Cornelia Agatha menyayangkan penemuan tersebut terjadi di lingkungan sekolah yang seharusnya menjadi ruang aman bagi anak.“Sekolah itu kan harusnya tempat yang aman ya. Kita kan lagi terus-terus menyosialisasikan sekolah ramah anak,” ujarnya di kantor Komnas PA, Jakarta Selatan, Minggu (9/8).Komnas PA berencana mendatangi sekolah tersebut untuk melihat langsung kondisi para siswa setelah penemuan ratusan senjata tersebut.“Kita memang mau ke sana ya melihat anak-anak,” lanjutnya.Petugas keamanan berjaga di depan ruang Ketua Yayasan Sekolah di kawasan Jakarta yang dipasangi garis polisi, Jumat (7/8), saat proses penyelidikan masih berlangsung. Foto: Jamal Ramadhan/kumparanCornelia meminta kasus tersebut diusut hingga tuntas. Menurutnya, penemuan senjata di lingkungan sekolah berpotensi memengaruhi kondisi psikologis siswa.“Tentunya diusut dan juga kita harus konsen juga sama anak-anak yang di sana. Setelah kejadian ini mereka gimana kondisi psikisnya apakah bisa belajar dengan tenang gitu,” tegas Cornelia.Ia menilai keberadaan senjata di lingkungan sekolah bertentangan dengan fungsi sekolah sebagai tempat yang aman bagi anak.“Jadi ketika ditemukan barang-barang seperti itu kan rasanya gimana ya, kayaknya tidak pantas ya ditemukan di sebuah tempat yang harusnya menjadi tempat aman,” pungkasnya.Senjata api dan amunisi yang ditemukan di ruangan Kepala Yayasan Sekolah di Jakarta Selatan, Jumat (10/7/2026). Foto: Dok. IstimewaPolisi SelidikiPolisi saat ini menyelidiki temuan sekitar 995 senjata di lingkungan sekolah swasta di Pondok Pinang.Polda Metro Jaya juga menyelidiki kepemilikan satu pucuk senjata api jenis Franchi SPAS-15 kaliber 12 GA yang ditemukan di lokasi. Senjata tersebut tercatat atas nama seseorang yang telah meninggal pada 2020.Selain itu, polisi masih menyelidiki temuan barang lain yang ditemukan pihak yayasan pada Rabu (5/8), termasuk laras panjang, laras pendek, peredam, magasin, amunisi berbagai kaliber, taser gun, hingga alat pembuat peluru.Konferensi pers pihak Yayasan Harapan Ibu Pondok Pinang terkait penemuan Ratusan senjata di Sekolah, Jakarta Selatan, Minggu (9/8/2026). Foto: Rayyan Farhansyah/kumparanKata Yayasan Harapan IbuSemenatara Kuasa hukum Yayasan Harapan Ibu Pondok Pinang, Hermawanto, mengungkap peran IWD, eks Ketua Pengurus Yayasan, dalam kepengurusan yayasan sekolah tersebut.Yayasan Harapan Ibu Pondok Pinang (YHI-PP) dulunya bernama Yayasan Harapan Ibu (YHI). Yayasan ini berdiri pada 7 Juni 1979 dengan tujuan meluaskan dan meningkatkan mutu pendidikan tunas-tunas bangsa.Kuasa hukum yayasan lainnya, Alvon Kurnia Palma, mengatakan tidak ada konflik di antara para pendiri yayasan. Hal itu disampaikannya untuk meluruskan narasi mengenai persoalan internal yang berkembang.Menurut Alfons, pihak yayasan ingin memastikan sekolah kembali pada visi awal pendiriannya, yakni memberikan pendidikan kepada anak-anak.Yayasan Sekolah memutuskan proses pembelajaran dilakukan secara daring atau Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) selama sepekan. Kebijakan ini diambil setelah ditemukan sejumlah senjata di lingkungan sekolah.Hermawanto mengatakan, PJJ akan berlangsung mulai Senin (10/8) hingga Jumat (14/8). Kebijakan tersebut diambil untuk memastikan keamanan peserta didik dan tenaga pendidik.Suasana sekolah di kawasan Jakarta Selatan yang ditemukan ratusan senjata, narkoba dan cd porno pada Jumat (7/8). Foto: Jamal Ramadhan/kumparanKata Kuasa Hukum IWDIWD maupun pihak keluarganya dan kuasa hukumnya belum berkomentar soal tudingan pihak yayasan tersebut.Sebelumnya, Direktur utama PT Lokta Karya Perbakin sekaligus kuasa hukum IWD, Alhadid Endar Putra menyatakan kubu kliennya sudah tidak lagi menguasai lingkungan sekolah sejak April 2026."Nah, kita enggak tahu, kita nggak boleh masuk ini dari April. Jadi apa aja yang mereka rencanakan, apa aja yang mereka taruh di dalam situ, apa aja yang mereka setting dalam situ kita enggak tahu," ujar Alhadid.la juga membantah tudingan kliennya membawa seluruh kunci ruangan sekolah sehingga pengurus baru tidak memiliki akses. Pihaknya juga menjelaskan air softgun yang ditemukan memiliki izin dan dipergunakan untuk kegiatan ekskul.