Hampir 10 Hari Kukar Tak Diguyur Hujan, Debu dan Kabut Asap Mulai Mengancam Kesehatan Warga

Wait 5 sec.

BorneoFlash.com, KUKAR – Hampir 10 hari hujan tak kunjung turun di sejumlah wilayah Kutai Kartanegara (Kukar). Kondisi panas dan kering ini mulai disertai debu hingga kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).Dinas Kesehatan (Dinkes) Kukar mulai mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap sepele kondisi tersebut. Sebab, paparan asap dalam jumlah banyak dan terjadi terus-menerus bisa berdampak pada kesehatan, terutama saluran pernapasan.Plt Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit serta Penyehatan Lingkungan (P3PL) Dinkes Kukar, Budy Setiawan mengatakan, kondisi kering sudah berlangsung lebih dari sepekan dan mulai terasa dampaknya."Iya, sebenarnya sudah wajib menggunakan masker, karena kondisi sudah berhari-hari, mungkin sudah seminggu lebih atau malah 10 hari ke atas kayaknya belum ada hujan. Kemudian mulai berdebu, ada kabut juga," kata Budy, Rabu (12/8/2026).Menurut Budy, semakin banyak asap yang terhirup, semakin besar pula risiko munculnya gangguan kesehatan. Keluhannya bisa berupa batuk, susah menelan hingga radang tenggorokan."Tapi kalau dari segi kesehatan, ya semakin banyak asap tentu akan berpotensi untuk menyebabkan penyakit infeksi saluran pernapasan atas, seperti batuk, susah menelan, radang tenggorokan, dan sebagainya," ujarnya.Kondisi tersebut perlu diperhatikan, terutama bagi warga yang masih harus beraktivitas di luar rumah. Anak-anak, pralansia dan lansia termasuk kelompok yang lebih rentan ketika terpapar asap dan debu.Selain persoalan asap, cuaca panas yang berlangsung berhari-hari juga bisa membuat tubuh kekurangan cairan. Budy mengingatkan masyarakat tetap mencukupi kebutuhan air putih agar tidak mengalami dehidrasi."Jangan sampai kita dehidrasi. Minum cukup, paling tidak 1 sampai 2 liter dalam waktu sehari semalam, minum air putihnya," ucapnya.Sementara untuk kondisi kualitas udara, Budy mengatakan penentuan apakah udara sudah masuk kategori berbahaya atau belum merupakan kewenangan instansi yang menangani lingkungan hidup."Kalau masalah tentang berbahaya atau tidaknya udara, mungkin domainnya LHK. Dinas Lingkungan Hidup yang menentukan bahaya atau tidak," jelasnya.Meski begitu, dari sisi kesehatan, paparan asap tetap perlu diwaspadai. Apalagi jika kondisi panas dan kering masih bertahan dan hujan belum juga turun.Warga yang mulai merasakan keluhan seperti batuk, sakit atau sulit menelan, maupun radang tenggorokan setelah terpapar asap diminta tidak mengabaikannya.Dinkes Kukar juga mengingatkan masyarakat mengurangi paparan debu dan asap selama kondisi tersebut masih terjadi. Terutama bagi kelompok rentan yang lebih berisiko mengalami gangguan kesehatan saat kondisi udara memburuk.