No Na di HITC LA 2026 Foto: Dok. Youtube 88RisingPenampilan No Na di Head in the Clouds (HITC) Los Angeles 2026 terasa spesial bagi Baila Fauri, Christy Gardena, Esther Geraldine, dan Shazfa Adesya. Kembali tampil di festival yang sama untuk kedua kalinya membuat keempat personel mengenang perjalanan sejak pertama kali tampil di panggung tersebut.Namun, ada satu hal yang membuat penampilan kali ini terasa berbeda. Esther mengaku terharu ketika melihat jumlah penonton yang hadir jauh lebih banyak dibandingkan penampilan mereka tahun lalu.“Aku hampir menangis karena kami bisa melihat jumlah penontonnya dua sampai tiga kali lipat lebih besar dari tahun lalu. Dan ada banyak sekali orang Indonesia, dan orang-orang benar-benar tahu lagu kami kali ini! Jadi itu sangat emosional,” kata Esther saat sesi wawancara, Minggu (9/8).No Na tampil di The First Take. Foto: Youtube/The First TakePerasaan tersebut tidak lepas dari perjalanan No Na di panggung HITC. Esther juga mengenang penampilan No Na di HITC Los Angeles 2025, yang menjadi salah satu momen penting karena saat itu merupakan kali pertama mereka tampil sebagai No Na di festival tersebut. “Sekarang terasa sangat emosional tampil untuk kedua kalinya karena tahun lalu adalah penampilan pertama kami sebagai No Na di Head in the Clouds LA 2025. Jadi setiap kali kami kembali ke festival Head in the Clouds mana pun, itu selalu menjadi momen emosional,” sambung Esther.No Na Kembali Bawa Unsur IndonesiaPada penampilan kali ini, No Na tetap menunjukkan ciri khas mereka dengan membawa unsur Indonesia ke atas panggung. Penampilan mereka dibuka dengan tembang tradisional ‘Lelo Ledung’ yang langsung menggema di venue. Mereka kemudian kembali memberikan kejutan saat membawakan ‘Rollerblade’ dengan menyisipkan lirik berbahasa Jawa “Jenenge sopo”. Momen tersebut pun langsung bikin heboh penonton dan warganet di Tanah Air.Bagi Esther, membawa unsur Indonesia ke panggung Internasional memang menjadi bagian dari tujuan No Na sejak awal terbentuk. Ia ingin lebih banyak orang mengenal Indonesia, termasuk kekayaan budaya dan talenta kreatif yang dimiliki Tanah Air.“Aku rasa itu selalu menjadi tujuan kami sejak awal, sejak awal berdirinya No Na, yaitu untuk membawa Indonesia ke arus utama (mainstream),” jelas Esther.Menurutnya, Indonesia memiliki begitu banyak hal untuk diperkenalkan kepada dunia, mulai dari budaya, makanan, bahasa, musik, hingga talenta kreatif dari berbagai daerah.“Tidak banyak orang tahu bahwa ini adalah negara yang sangat besar dengan 17.000 lebih pulau, 30 lebih provinsi, dan setiap daerah itu punya budaya sendiri, makanan sendiri, bahkan bahasa, musik, dan dialek sendiri... tapi bicara soal talenta Indonesia, insan kreatif Indonesia, seniman yang muncul dari sana orang-orang berhak untuk tahu,” beber dia.