Ketika Hidup Kehilangan Tenang: Mencari Jangkar di Tengah Gelombang

Wait 5 sec.

Ilustrasi pantai di Canggu, Bali. Foto: Nokuro/ShutterstockAda satu kebiasaan yang mungkin dimiliki banyak orang: menilai kehidupan orang lain dari apa yang tampak di permukaan. Kita melihat seseorang yang hidup berkecukupan, memiliki keluarga yang harmonis, karier yang baik, wajah yang selalu tampak tenang, lalu tanpa sadar menyimpulkan bahwa hidupnya bahagia. Kita mengira ia telah sampai pada sebuah keadaan yang nyaris sempurna—sebuah kehidupan yang bebas dari kecemasan.Namun semakin lama menjalani hidup, saya justru semakin yakin bahwa kebahagiaan yang benar-benar utuh mungkin memang tidak pernah dimiliki siapa pun.Setiap orang sedang memikul sesuatu yang tidak selalu terlihat. Ada yang bergulat dengan kesehatan, ada yang dihimpit persoalan ekonomi, ada yang sedang berjuang mempertahankan rumah tangga, ada pula yang tampak tersenyum di hadapan banyak orang tetapi diam-diam sedang kelelahan menghadapi hidup. Sebagian memilih menyimpannya rapat-rapat. Dunia baru mengetahuinya ketika masalah itu telah membesar, atau bahkan ketika seseorang tiba-tiba tidak lagi sanggup menanggung beban yang selama ini disembunyikannya.Di zaman media sosial, ilusi tentang kehidupan yang sempurna justru semakin mudah tercipta. Kita lebih sering melihat potret liburan daripada kecemasan, melihat senyum keluarga daripada pertengkaran yang mungkin baru saja terjadi, melihat pencapaian daripada proses panjang yang penuh luka. Psikolog menyebut fenomena ini sebagai social comparison, kecenderungan manusia membandingkan hidupnya dengan potongan-potongan terbaik kehidupan orang lain. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa paparan semacam itu dapat menurunkan kepuasan hidup dan meningkatkan kecemasan karena kita terus-menerus membandingkan "belakang panggung" kehidupan kita dengan "panggung depan" milik orang lain.Padahal kehidupan nyata tidak pernah sesederhana itu.Hidup yang Selalu BergerakMungkin benar bahwa hidup menyerupai roda yang terus berputar. Bukan dalam pengertian bahwa setiap orang pasti akan kaya lalu miskin, atau sebaliknya, melainkan karena tidak ada keadaan yang benar-benar menetap. Kebahagiaan berganti kesedihan. Kelapangan disusul kesempitan. Kepastian berubah menjadi ketidakpastian.Ada masa ketika semuanya terasa begitu ringan. Tubuh sehat, pekerjaan berjalan baik, keluarga dalam keadaan aman, rezeki cukup, dan hati dipenuhi rasa syukur. Pada masa-masa seperti itu, kita merasa hidup sedang berpihak kepada kita.Namun hidup memiliki caranya sendiri untuk mengingatkan bahwa tidak ada kenyamanan yang bersifat permanen.Kadang sebuah telepon datang pada dini hari. Kadang sebuah hasil pemeriksaan medis mengubah seluruh rencana hidup. Kadang sebuah kabar dari kampung halaman membuat pikiran yang semula tenang mendadak dipenuhi kecemasan. Tidak selalu persoalan itu berasal dari kesalahan kita sendiri. Bahkan sering kali masalah itu datang melalui orang-orang yang paling kita cintai.Di situlah kita belajar bahwa manusia sesungguhnya tidak pernah hidup sendirian.Beban yang Dipikul BersamaSemakin bertambah usia, saya justru semakin menyadari bahwa identitas kita tidak pernah hanya sebagai individu. Kita adalah anak bagi orang tua, orang tua bagi anak-anak, pasangan bagi suami atau istri, saudara bagi keluarga besar, sekaligus bagian dari masyarakat.Setiap identitas itu membawa tanggung jawab emosional.Karena itulah, ketika seseorang yang dekat dengan kita mengalami kesulitan, sebenarnya sebagian dari kesulitan itu ikut berpindah ke dalam diri kita. Mungkin tubuh yang sakit adalah tubuhnya, tetapi kecemasan ikut menjadi milik kita. Mungkin utang bukan atas nama kita, tetapi pikiran kita ikut dipenuhi berbagai kemungkinan. Mungkin masalah hukum bukan menimpa kita, tetapi rasa malu, sedih, bahkan rasa bersalah sering kali ikut kita rasakan.Dalam masyarakat Indonesia, ikatan semacam ini bahkan lebih kuat dibanding masyarakat yang cenderung individualistik. Budaya gotong royong, kekeluargaan, dan nilai agama mengajarkan bahwa penderitaan seseorang tidak sepantasnya dibiarkan menjadi urusannya sendiri.Itulah sebabnya kita datang menjenguk orang sakit, mengumpulkan bantuan ketika ada musibah, atau ikut mengurus berbagai persoalan keluarga meskipun secara langsung bukan tanggung jawab kita. Sebagian mungkin melihatnya sebagai beban. Namun pada saat yang sama, justru di sanalah letak kemanusiaan kita.Sayangnya, ada konsekuensi yang tidak selalu disadari.Semakin banyak orang yang kita cintai, semakin besar pula kemungkinan hati kita ikut terluka oleh apa yang mereka alami.Mengapa Kita Tidak Selalu Punya Jawaban?Ada persoalan yang dapat diselesaikan dengan kerja keras. Ada masalah yang selesai karena uang. Ada pula yang membutuhkan pengetahuan atau jaringan.Namun ada jenis persoalan lain yang jauh lebih rumit: persoalan yang membuat kita hanya mampu menemani.Kita telah mengantar keluarga ke rumah sakit terbaik. Kita telah membantu semampunya. Kita telah mencari berbagai jalan keluar. Kita telah berdoa. Namun hasil akhirnya tetap berada di luar jangkauan kemampuan manusia.Pada titik seperti itu, akal sering kali kehilangan seluruh argumennya.Psikologi modern mengenal konsep locus of control, yakni kemampuan membedakan mana hal yang berada dalam kendali kita dan mana yang berada di luar kendali kita. Banyak kecemasan muncul bukan semata-mata karena masalahnya besar, melainkan karena kita terus berusaha mengendalikan sesuatu yang memang tidak mungkin kita kuasai.Semakin kita memaksakan kontrol terhadap sesuatu yang berada di luar kuasa kita, semakin besar pula rasa frustrasi yang muncul.Mungkin karena itulah banyak orang yang tampaknya kuat justru runtuh ketika berhadapan dengan situasi yang tidak dapat mereka atur.Ketika Ikhtiar Menemui BatasnyaDalam kehidupan sehari-hari, kita sering diajarkan pentingnya bekerja keras. Nasihat itu tentu benar. Peradaban dibangun oleh manusia-manusia yang mau berikhtiar.Namun ada satu kenyataan yang kadang terlupakan.Ikhtiar memiliki batas.Tidak semua penyakit bisa disembuhkan. Tidak semua hubungan bisa dipertahankan. Tidak semua cita-cita bisa diwujudkan. Tidak semua orang yang kita sayangi dapat terus menemani kita.Kesadaran ini bukan ajakan untuk menyerah.Sebaliknya, justru inilah yang membuat manusia membutuhkan sesuatu yang lebih kokoh daripada sekadar optimisme.Saya membayangkan kehidupan seperti sebuah kapal yang sedang berlayar di lautan. Ombak adalah sesuatu yang tidak bisa kita hentikan. Angin tidak selalu bertiup sesuai keinginan kita. Bahkan kadang badai datang tanpa pemberitahuan.Yang dapat kita persiapkan bukanlah menghilangkan badai, melainkan memastikan kapal memiliki jangkar yang kuat.Tanpa jangkar, kapal akan terus hanyut mengikuti arah gelombang. Dengan jangkar, kapal memang masih bergoyang, tetapi ia tidak kehilangan tempat berpijak.Ilustrasi dibuat dengan AITawakal sebagai Jangkar KehidupanBagi saya, jangkar itu adalah tawakal.Sayangnya, tawakal sering disalahpahami sebagai sikap pasrah tanpa usaha. Padahal maknanya justru sebaliknya. Tawakal lahir setelah seluruh ikhtiar dilakukan secara maksimal. Ia bukan pengganti usaha, melainkan penyempurna usaha.Dalam tradisi Islam, tawakal selalu berjalan berdampingan dengan ikhtiar. Nabi Muhammad SAW pernah mengingatkan agar seseorang terlebih dahulu mengikat untanya, baru kemudian bertawakal kepada Allah. Pesan sederhana itu mengandung makna yang sangat dalam: manusia wajib menggunakan seluruh kemampuan yang dimilikinya, tetapi tidak boleh menggantungkan ketenangan hidup hanya pada hasil usahanya.Sebab hasil akhir bukan sepenuhnya wilayah manusia.Di sinilah tawakal menjadi sumber ketahanan psikologis sekaligus spiritual. Ia membantu kita menerima bahwa kegagalan bukan selalu tanda kurangnya usaha. Kehilangan bukan selalu hukuman. Penundaan bukan selalu penolakan.Kadang hidup hanya sedang mengajarkan bahwa manusia memang bukan pusat dari segala sesuatu.Ketika kesadaran itu tumbuh, hati perlahan menjadi lebih lapang. Masalah mungkin belum selesai. Orang yang sakit mungkin masih menjalani pengobatan. Beban ekonomi mungkin belum benar-benar terangkat. Namun kecemasan tidak lagi menguasai seluruh ruang batin.Ada ketenangan yang tidak berasal dari kepastian, melainkan dari kepercayaan.Belajar Berdamai dengan KetidaksempurnaanMungkin pada akhirnya, tujuan hidup bukanlah mencari kehidupan yang sepenuhnya bebas dari masalah. Sebab tujuan semacam itu hampir pasti akan mengecewakan. Selama kita hidup, selama kita mencintai orang lain, selama kita memikul tanggung jawab terhadap keluarga dan masyarakat, selalu ada kemungkinan munculnya persoalan baru.Yang mungkin perlu kita pelajari justru bukan bagaimana menghindari gelombang, melainkan bagaimana tetap menjaga arah ketika gelombang itu datang.Barangkali kebahagiaan bukanlah keadaan ketika semua persoalan telah selesai, melainkan kemampuan untuk tetap menemukan kedamaian di tengah kenyataan bahwa persoalan akan selalu ada. Kedamaian itu lahir ketika kita menerima bahwa hidup tidak pernah sepenuhnya berada dalam genggaman kita, tetapi juga tidak sepenuhnya lepas dari kasih sayang Tuhan.Maka mungkin yang paling kita perlukan bukan hidup yang tanpa badai, melainkan hati yang memiliki jangkar. Sebab kapal yang baik bukanlah kapal yang tak pernah diterpa ombak, melainkan kapal yang tetap mampu bertahan ketika laut sedang bergelora. Begitu pula manusia. Yang membuatnya kuat bukan karena hidupnya selalu mudah, melainkan karena ia tahu ke mana harus menambatkan jiwanya ketika seluruh kepastian perlahan menghilang.