Cerita Bahlil Didemo 1,5 Bulan Usai Larang Ekspor Nikel

Wait 5 sec.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia saat Peluncuran dan Bedah Buku karyanya, Jumat (7/8/2026). Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparanMenteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menceritakan larangan ekspor nikel pada 2020 dilakukan tanpa landasan Peraturan Menteri (Permen) hingga sempat didemo selama 1,5 bulan.Bahlil meluncurkan buku sekaligus memperingati hari jadi ke-50 tahun. Dalam salah satu bukunya, ia menceritakan terkait kebijakan hilirisasi dengan larangan ekspor bijih nikel pada awal masa jabatannya di Menteri Investasi/Kepala BKPM saat pemerintah Presiden ke-7 Joko Widodo."Saya ingat betul ketika saya dilantik tanggal 23 Oktober tahun 2019 sebagai Kepala BKPM, di situlah awal mulanya Pak Presiden Jokowi dan Pak Luhut, empat hari kemudian memerintahkan saya: 'Kepala BKPM, saya tidak mau tahu caranya, larang ekspor nikel'," ungkap Bahlil saat Peluncuran dan Bedah Buku '10 Karya Nyata untuk Negeri: Setengah Abad Bahlil Lahadalia', di Djakarta Theatre. Jumat (7/8).Bahlil mengungkapkan larangan ekspor mineral merupakan wewenang Menteri ESDM, yang saat itu dijabat oleh Arifin Tasrif. Namun, ia yang memimpin rapat kebijakan larangan ekspor komoditas tersebut.Untuk menggodok kebijakan itu, Bahlil juga meminta saran Menteri Sekretaris Negara yang saat itu dijabat oleh Pratikno dan Sekretaris Kabinet yang dijabat Pramono Anung, terutama terkait landasan aturan untuk memungkinkan larangan ekspor bijih nikel."Maka kemudian saya memanggil seluruh pengusaha nikel, industri penambang, eksportir, kemudian kita rapat dan kita putuskan, mulai tanggal 1 November tidak boleh lagi ada ekspor nikel," ungkap Bahlil."Dan keputusan itu dilakukan tanpa ada Keputusan Menteri, hanya hasil rapat yang dipimpin oleh Kepala BKPM. Itulah pertama kejadian ajaib menurut saya, dan semua juga ikut untuk tidak melakukan ekspor nikel," tambahnya.Hanya saja, kata Bahlil, dampak dari kebijakan tersebut yakni pemerintah didemo hingga 1,5 bulan lamanya. "Waktu itu kita dihajar terus, didemo satu setengah bulan. Kata Opung (Luhut), 'Lil, kau saja dulu hadapilah, kau saja dulu hadapi.' Itu sudah, Lil. Jadi memang jadi junior ini paling tidak enak sekali," kata Bahlil.Semua itu dibahas dalam bukunya yang bertajuk 'Hilirisasi SDA Indonesia: Transformasi dan Mandat Konstitusi'. Bahlil mengatakan bahwa transformasi ekonomi tidak bisa dilakukan tanpa pergeseran ekspor komoditas dari bijih menjadi produk.Kemudian pada buku kedua bertajuk 'Batang Magnet Investasi', Bahlil menjelaskan asal mula pembentukan Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB) yang terinspirasi dari kawasan industri di Vietnam yang harga lahannya sangat murah."Dulu pada saat tahun 2016-2017 terjadi perang dagang antara China dan Amerika. Ada 32 perusahaan yang hengkang dari China ke Vietnam, Indonesia tidak dapat kebagian. Lagi-lagi saya dipanggil oleh Bapak Presiden waktu itu dengan Opung," tutur Bahlil.Selanjutnya pada buku ketiga yakni 'Seni Menuntaskan Misi: Negosiasi, Formulasi, Eksekusi', Bahlil menjelaskan lahirnya nomenklatur Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM dan pengalamannya bernegosiasi dengan negara lain tanpa fasih berbahasa inggris.Buku keempat Bahlil berjudul 'Menanam Pondasi Kendaraan Listrik', dia menjelaskan pengalamannya berhasil menuntaskan penanaman modal dari Korea Selatan untuk pembangunan ekosistem baterai kendaraan listrik pertama di Asia Tenggara.Dan terakhir, buku kedelapan yang bertajuk 'Tuan di Negeri Sendiri', Bahlil menjabarkan terkait bagaimana membangun kedaulatan dalam rangka pengelolaan sumber daya alam, maka hilirisasi adalah instrumennya."Bagi saya, kalau kita orang Timur bicara ganteng, mohon maaf, pasti lebih ganteng orang-orang di daerah-daerah Jakarta ini. Bicara gagah, mereka lebih gagah. Bicara cerdas, mungkin karena pendidikannya mereka lebih duluan, pasti lebih cerdas. Yang kita punya tinggal apa? Kesetiaan, loyalitas, dan komitmen," tutur Bahlil.