Ia menyatakan keberhasilan ASEAN diukur dari kemampuannya membantu masyarakat memenuhi kebutuhan pangan, memperoleh pekerjaan layak, hidup aman, dan menatap masa depan dengan penuh keyakinan, serta menegaskan ASEAN tidak boleh menjadi arena rivalitas kekuatan besar melainkan harus selalu berpihak pada rakyat. Lebih lanjut, ia menyoroti perlunya penguatan ketahanan pangan dan energi, perlindungan warga negara saat krisis, serta penyiapan generasi muda melalui pendidikan dan keterampilan, seraya mengingatkan peran ASEAN sebagai pembangun jembatan (bridge-builder) selama hampir enam dekade. Peringatan kali ini juga menjadi momen bersejarah karena pertama kalinya dihadiri oleh sebelas negara anggota pascamasuknya Timor-Leste pada November 2025.