Ingin anak jadi warga digital? Guru dan orang tua perlu terlibat

Wait 5 sec.

● Koding dan akal imitasi (AI) kini menjadi kompetensi dasar untuk melatih siswa berpikir logis dan kritis di era digital.● Namun, sebagian guru masih kesulitan mengajarkan koding karena keterbatasan pelatihan.● Butuh kolaborasi sekolah dan keluarga agar anak menggunakan teknologi secara etis dan aman.Dunia anak-anak hari ini sangat berbeda dibandingkan beberapa tahun lalu. Di banyak negara, teknologi digital telah menjadi bagian dari keseharian anak-anak. Mereka menggunakannya untuk bermain, belajar, berkomunikasi, serta mengembangkan keterampilan masa depan. Alih-alih melarang atau menjauhkan anak-anak dari teknologi, menumbuhkan kesadaran kritis terhadap perkembangan teknologi menjadi langkah yang lebih sesuai. Salah satu caranya adalah dengan mengembangkan kemampuan berpikir komputasional, yaitu kemampuan memecahkan masalah secara terstruktur.Berpikir komputasional kini dipandang sebagai kompetensi dasar yang setara dengan membaca, menulis, dan berhitung sehingga perlu diajarkan sejak dini. Di banyak negara seperti India, Jerman, Selandia Baru, dan Australia, pembelajaran terkait pemrograman dan berpikir komputasional mulai diintegrasikan ke dalam kurikulum nasional.Di Indonesia sendiri, sejak Juli 2025, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menetapkan pembelajaran koding dan kecerdasan artifisial (AI) sebagai mata pelajaran pilihan di sekolah. Kebijakan ini bertujuan membekali anak dengan kompetensi esensial untuk menghadapi dunia yang terus berubah, seperti berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, dan pemecahan masalah. Anak tidak hanya dilatih menggunakan teknologi, tetapi juga didorong untuk memahami cara kerjanya, serta menciptakan solusi digital yang aman, etis, dan produktif. Namun, pengamatan kami terhadap praktik pembelajaran koding dan AI di delapan SD dan SMA di Maluku Tengah, Gorontalo, Salatiga, dan Banda Aceh pada 2025 menunjukkan bahwa beberapa guru masih kesulitan mengenalkan koding dan AI. Sebab, mereka belum cukup menguasai materi secara berimbang sehingga masih terkendala dalam mendampingi murid agar kritis terhadap keluaran AI. Selain itu, jika salah satu tujuan pembelajaran koding dan AI adalah membantu anak menjadi warga digital, maka peran guru saja tidak cukup. Orang tua juga perlu terlibat. Baca juga: Belajar koding dan AI tidak bisa terlalu dini: Perlu pendekatan bertahap dan kontekstual Bagi guru yang tak siap, AI memperberat pembelajaranStudi kami pada 2025 menunjukkan implementasi awal pembelajaran koding dan kecerdasan artifisial (AI) memberi sinyal positif. AI berpotensi meningkatkan keterlibatan siswa, hasil belajar, dan efisiensi pembelajaran, sekaligus mendukung pembelajaran yang lebih personal dan memperluas akses pendidikan.Guru mulai terbiasa memanfaatkan teknologi sebagai alat bantu pembelajaran. Kelas menjadi lebih interaktif, metode mengajar lebih kreatif, dan siswa merespons positif karena memperoleh pengalaman belajar yang berbeda.Meski demikian, sebagian besar guru masih menganggap koding sebagai materi yang paling sulit diajarkan. Penyebab utamanya adalah latar belakang pendidikan yang kurang relevan dan minimnya pelatihan. Padahal, mengajarkan koding tidak sekadar membutuhkan kemampuan teknis, tetapi juga pemahaman tentang cara melatih berpikir logis, sistematis, dan pemecahan masalah.Akibatnya, sebagian guru lebih banyak mengajarkan materi AI karena dinilai lebih mudah dipahami dan dipraktikkan daripada koding. Paulus, seorang guru SMA di Maluku Tengah, misalnya, mengaku lebih memilih mengajarkan praktik AI dan mengesampingkan koding karena kurang percaya diri serta kesulitan menjelaskan konsep-konsepnya kepada siswa. Baca juga: Benarkah anak-anak butuh mata pelajaran koding dan AI di sekolah? Meski terbukti dapat meningkatkan kreativitas dan kemandirian siswa, kehadiran guru tetap penting untuk membimbing penggunaan AI, memastikan pemanfaatannya tepat, serta mendorong siswa mengevaluasi hasilnya secara kritis agar AI mendukung, bukan menggantikan, proses berpikir.Temuan studi kami menunjukkan siswa antusias menggunakan AI karena memudahkan penyelesaian tugas. Namun, guru juga menemukan sebagian siswa memanfaatkannya secara kurang tepat, misalnya memotret soal di papan tulis untuk memperoleh jawaban instan melalui AI.Perkuat kapasitas guruUntuk meningkatkan kapasitas guru dalam mengajarkan koding dan AI, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan:Pertama, pemerintah bisa melakukan sosialisasi mekanisme penyelenggaraan dan mendorong sekolah mempertimbangkan kesiapan sebelum menerapkannya dalam bentuk mapel.Misalnya, sekolah mengidentifikasi kesiapan dan minat bakat murid sebelum memutuskan penerapan mapel koding dan AI. Contoh bentuk penerapannya juga perlu diperbanyak (tak hanya berupa mapel pilihan), misalnya integrasi pada mapel lain maupun ekstrakurikuler.Kedua, penguatan kapasitas guru dapat dilakukan melalui pelatihan dan pendampingan berkelanjutan serta memperkaya sumber belajar. Bentuknya bisa melalui komunitas belajar atau kelompok kerja guru di tingkat daerah, gugus, dan sekolah.Ketersediaan sumber belajar guru juga perlu diperkaya, misalnya terkait bahan pembelajaran, modul ajar berjenjang, contoh RPP/modul ajar dan LKPD, serta penyediaan pusat bantuan (helpdesk) atau buku saku yang memadai dan mudah diakses guru.Ketiga, memberikan bantuan sarana dan prasarana pembelajaran kepada sekolah yang membutuhkan. Ketersediaan jaringan listrik, internet, perangkat digital, serta media pembelajaran tanpa listrik (unplugged) perlu diberikan sesuai kebutuhan. Kemitraan dengan pihak luar sekolah dapat didorong sebagai salah satu alternatif untuk membantu strategi ini.Penguatan kapasitas guru pun tidak cukup hanya pada kemampuan mengajarkan koding dan AI, tetapi juga dalam membekali siswa untuk menggunakan AI secara kritis dan etis. Upaya ini perlu didukung oleh ekosistem pengembangan kompetensi yang berkelanjutan, termasuk sinergi dari berbagai pihak.Praktik di Estonia dan Singapura, contohnya, menunjukkan bahwa ekosistem yang mengintegrasikan pelatihan, platform kolaborasi, akses terhadap perangkat dan kursus daring, serta komunitas belajar, mampu memperkuat kompetensi guru dalam mengajarkan AI.Bangun ekosistem dan libatkan orang tuaApabila salah satu tujuan pembelajaran koding adalah membentuk anak menjadi warga digital, maka peran guru saja tidak cukup.Di luar sekolah, paparan anak terhadap AI terus meningkat, sementara cara mereka menggunakannya kerap berbeda dari perkiraan orang dewasa.Keluarga berperan penting. Mereka juga perlu memahami potensi negatif AI pada anak yang tidak siap.Praktik di Singapura menunjukkan, pemberdayaan orang tua sebagai pendamping utama anak di ruang digital perlu menjadi bagian dari kebijakan.Ini dapat dilakukan melalui penyediaan panduan yang praktis, penguatan kapasitas keluarga secara berkelanjutan, serta kolaborasi lintas sektor untuk membangun kebiasaan digital yang sehat, aman, dan bertanggung jawab.Pada akhirnya, teknologi digital akan terus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan anak. Karena itu, tantangan utamanya bukanlah menjauhkan anak dari teknologi, melainkan membekali mereka dengan kemampuan untuk memanfaatkannya secara kritis, aman, dan bertanggung jawab. Baca juga: Mau anak melek digital? Orang tua harus melek lebih dulu Diyan Nur Rakhmah tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas.