● Penyebab hilangnya hutan di Batang Toru yang menjadi rumah bagi orangutan Tapanuli bersifat multifaktor.● Ancaman terhadap satwa langka ini bukan hanya proyek industri ekstraktif, tapi juga banyak aktivitas manusia lainnya.● Konservasi harus dilakukan secara terpadu, bukan fokus pada satu ancaman.Di hutan Sumatra Utara, hidup orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis), kera besar paling langka di dunia. Populasinya diperkirakan hanya tersisa kurang dari 800 individu dan seluruhnya berada di ekosistem Batang Toru—yang juga merupakan rumah bagi berbagai satwa langka lain seperti harimau Sumatra, trenggiling Sunda, owa, dan rangkong gading.Selama bertahun-tahun, perdebatan soal masa depan Batang Toru sebagian besar berfokus pada proyek-proyek pembangunan berskala besar, terutama pembangkit listrik tenaga air (PLTA), pertambangan emas, dan geotermal atau energi panas bumi. Namun penelitian terbaru kami, yang diterbitkan di Biological Conservation, menunjukkan bahwa masalah di Batang Toru ternyata jauh lebih kompleks.Dengan menggabungkan tiga pendekatan, kami menelusuri penyebab kehilangan hutan, dan berbagai aktivitas manusia yang menjadi pemicunya. Pertama, kami menggunakan data satelit untuk mengidentifikasi lokasi kehilangan hutan beserta penyebabnya. Kedua, kami juga berdiskusi dengan masyarakat setempat untuk memvalidasi hasil analisis spasial kami sekaligus memahami penyebab kehilangan hutan dari perspektif lokal. Ketiga, kami menerapkan metode evaluasi dampak yang disebut synthetic control method atau metode kontrol sintetis. Ini adalah teknik statistik yang membangun semacam “kembaran” buatan dari kawasan hutan untuk memperkirakan bagaimana kondisi Batang Toru jika industri ekstraktif tidak pernah menjamah kawasan tersebut.Dengan menggabungkan ketiga metode tersebut, kami menganalisis lokasi kehilangan hutan, faktor sosial-ekonomi yang memicunya, serta menilai dampaknya terhadap ekosistem. Hasilnya menunjukkan bahwa ancaman terhadap orangutan Tapanuli tidaklah tunggal. Ada berbagai tekanan yang terjadi secara bersamaan, mulai dari industri ekstraktif dan pembalakan liar, ekspansi lahan pertanian, hingga bencana yang semakin sering dipicu oleh perubahan iklim. Baca juga: Bagaimana kami menemukan spesies orang utan baru di Tapanuli Kehilangan hutan meningkat pesat setelah 2012Selama periode 2000-2023, Batang Toru kehilangan sekitar 7.659 hektare hutan, atau sekitar 5% dari total tutupan hutan.Laju kehilangan hutan meningkat tajam setelah tahun 2012, bertepatan dengan dimulainya tiga proyek industri ekstraktif berskala besar di kawasan tersebut.Dengan menggunakan synthetic control method, kami memperkirakan Batang Toru kehilangan sekitar 3.472 hektare hutan. Angka tersebut lebih banyak dibandingkan kondisi yang diperkirakan terjadi apabila proyek-proyek tersebut tidak pernah masuk ke sana. Temuan ini menunjukkan bahwa pembangunan berskala besar sudah mengubah pola kehilangan hutan di seluruh lanskap. Meski demikian, jejak langsung industri ekstraktif hanya menjelaskan sebagian dari persoalan.Analisis spasial kami menunjukkan bahwa sekitar 70% dari total kehilangan hutan berkaitan dengan pertanian skala kecil dan pembalakan kayu. Artinya, meskipun industri ekstraktif memicu lonjakan kehilangan hutan, ekspansi lahan pertanian dan penebangan meski lajunya lebih lambat tapi terus berlangsung bahkan meningkat dari waktu ke waktu.Temuan tersebut menunjukkan bahwa setiap faktor memengaruhi perubahan lanskap dalam rentang waktu yang berbeda. Proyek infrastruktur berskala besar bisa memicu perubahan yang drastis dalam waktu singkat, sedangkan ekspansi pertanian dan pembalakan mungkin memberi tekanan yang lebih lambat tapi terus-menerus, sehingga secara bertahap memecah habitat orangutan.Di balik citra satelitMemahami mengapa hutan menghilang tidak cukup hanya dengan memetakan lokasi hilangnya pepohonan. Citra satelit memang mampu menunjukkan kapan dan di mana deforestasi terjadi. Namun, ia sering kali tidak bisa menjelaskan proses sosial dan ekonomi yang mendorong perubahan penggunaan lahan tersebut.Karena itu, kami bekerja sama dengan NGO Tangguh Hutan Khatulistiwa (TAHUKAH) dengan dukungan Sumatran Orangutan Society (SOS)—yang menjalankan berbagai program konservasi di Batang Toru sejak 2021. Mereka melakukan observasi partisipatif, wawancara, dan diskusi kelompok dengan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan tersebut.Pendekatan konservasi berbasis etnografi ini mengungkap bagaimana perubahan harga komoditas, pergeseran penguasaan lahan, pembangunan jalan, serta strategi mata pencaharian masyarakat memengaruhi keputusan penggunaan lahan.Sebagai contoh, turunnya harga karet mendorong sebagian warga menebangi kebun karet dan menggantinya dengan kebun pisang. Perubahan penggunaan lahan secara serampangan seperti ini bisa terjadi akibat tumpang tindih klaim antara tanah adat dan tanah negara, serta lemahnya pengawasan terhadap aktivitas pembalakan skala kecil.Secara keseluruhan, temuan ini menunjukkan pentingnya menggabungkan perspektif sosial dan ekologi dalam upaya konservasi. Pendekatan ini menjadi sangat penting karena masyarakat lokal dan orangutan Tapanuli sudah hidup berdampingan di habitat yang sama selama beberapa generasi. Dengan kata lain, persoalan konservasi pada akhirnya bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga persoalan manusia.Perubahan iklim menambah ancaman baruDi tengah berbagai tekanan di atas, Batang Toru kini juga menghadapi ancaman baru.Pada akhir 2025, Siklon Tropis Senyar membawa hujan dengan intensitas sangat tinggi ke Sumatra, memicu terjadinya banjir bandang dan tanah longsor. Perkiraan terbaru menunjukkan sekitar 8.300 hektare hutan utuh di Blok Barat Batang Toru hancur akibat bencana tersebut. Kerusakan ini diperkirakan menyebabkan hilangnya sekitar 58 individu orangutan Tapanuli, atau sekitar 7% dari total populasi global spesies ini.Dan yang mengejutkan, kehilangan hutan akibat peristiwa yang hanya berlangsung selama enam hari tersebut melampaui seluruh kehilangan hutan yang tercatat di ekosistem Batang Toru sepanjang periode 2000–2023.Mencegah kepunahan berarti mengatasi berbagai ancaman sekaligusOrangutan Tapanuli menghadapi kombinasi ancaman berupa industri ekstraktif, ekspansi pertanian, pembalakan, persoalan tata kelola, dinamika pasar, serta perubahan iklim.Karena itu, mengatasi satu faktor saja tidak akan cukup untuk menjamin kelangsungan hidup spesies ini.Sebaliknya, upaya konservasi yang efektif memerlukan pendekatan terpadu, antara lain dengan memperkuat kepastian hak atas lahan, meningkatkan pengawasan terhadap aksi-aksi pembalakan, mendukung mata pencaharian yang berkelanjutan, serta memberikan insentif kepada masyarakat yang menjaga kelestarian hutan.Sektor swasta juga berperan penting melalui kegiatan restorasi, kompensasi keanekaragaman hayati (biodiversity offsets), dan komitmen jangka panjang dalam pengelolaan kawasan.Pada akhirnya, mencegah kepunahan orangutan Tapanuli bukan sekadar melindungi satu spesies. Kita harus memastikan ketahanan seluruh bentang alam Batang Toru sekaligus memastikan manusia dan satwa liar dapat terus hidup berdampingan di salah satu ekosistem dengan keanekaragaman hayati tertinggi sekaligus paling terancam di dunia ini.Para penulis tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi di luar afiliasi akademis yang telah disebut di atas.