Makam Mertua Mendiang Seniman Djaduk di Yogya Dirusak, Pelakunya Juru Kunci

Wait 5 sec.

Makam mertua seniman mendiang Djaduk Ferianto di sebuah makam umum di daerah Pakuncen, Kota Yogyakarta dirusak. Diduga pelaku merupakan juru kunci makam tersebut. Foto: Dok. PetraMakam mertua seniman mendiang Djaduk Ferianto yang berada di area pemakaman umum di daerah Pakuncen, Kota Yogyakarta dirusak. Diduga pelaku merupakan juru kunci makam tersebut.Istri Djaduk, Petra Ferianto, mengatakan ayahnya dimakamkan di Kuncen sejak 1971. Baru kali ini peristiwa perusakan terjadi.Perusakan ini diketahui Petra pagi tadi saat ia nyekar. Saat itu, Petra kesusahan mencari makam ayahnya. Ternyata nisan makam sudah dipotong."Terus ada orang saya tanya, juru kuncinya mana? "Bentar lagi otw" katanya gitu. Kok otw?" kata Petra melalui sambungan telepon, Selasa (11/8).Saat itu, Petra juga bertanya ke orang yang biasa bersih-bersih di makam. Orang tersebut mengatakan juru kuncinya sedang tidak ke makam."Saya minta nomor HP-nya juga dia bilang nggak bisa, gitu kan. Terus saya ke kelurahan, ternyata itu bukan bagiannya kelurahan," katanya.Petra lalu ke kantor polisi melaporkan kejadian ini. Petugas kemudian mendatangi lokasi. Selang beberapa saat Petra diminta kembali ke lokasi karena juru kuncinya sudah ketemu.Juru kunci tersebut, menurut Petra, berkata nisan sengaja dipotong alasannya agar Petra mencari dirinya. Diduga hal itu karena masalah uang.Petra bilang selama ini dia kerap nyekar di makam. Ketika ada sejumlah tukang bersih-bersih makam dia selalu memberikan uang masing-masing Rp 10 ribu.Namun, beberapa waktu terakhir dia tak menjumpai orang di makam tersebut, sehingga bingung harus memberikan uang ke mana."Saya selalu meninggalkan bunga, sebagai cara memberi tahu bahwa ada yang miliki loh makam ini. Dengan ada bunga. Nah, ternyata itu tadi dia mancing, "Iki pancen tak aku pegel, nek orang ini kan tentu ora nggoleki aku" (kalau tidak dipotong, tidak mencariku) gitu loh juru kuncinya itu gitu," katanya.Makam mertua seniman mendiang Djaduk Ferianto di sebuah makam umum di daerah Pakuncen, Kota Yogyakarta dirusak. Diduga pelaku merupakan juru kunci makam tersebut. Foto: Dok. Petra"Jadi singkat kata saya bilang, "Ya wis kalau itu dianggap aku masih punya utang, utangku piro (berapa)?" Kayak gitu, selama saya datang ke situ tidak ada orang," katanya.Kedua Petra minta agar makam ini dikembalikan seperti semula. Petra bahkan menawarkan untuk berlangganan saja, sehingga ketemu atau tidak, juru kunci tetap dapat uang."Padahal di situ ada 5 atau 6 polisi di situ. Terus, dia (juru kunci) menyetujui itu," katanya.Bahkan juru kunci sempat mengancam makam akan dibongkar jika ada jenazah lain yang hendak pakai lantaran Petra tidak memberikan uang.Dugaan PemerasanPetra mengeluarkan uang Rp 500 ribu untuk juru kunci tersebut."Yang saya anggap utang itu tak transfer ke dia. Saya ngasihnya Rp 500 ribu. Harusnya sudah terlalu banyak sebetulnya. Kalau ngasih upah kan paling ya Rp 5.000 sampai Rp 20 ribuan, kan," katanya.Soal perbaikan makam, juru kunci tersebut bahkan sempat minta uang Rp 50 ribu ke Petra."Kok aku jadi keluar biaya untuk (yang) kamu rusak," katanya."Jadi kaya memeras gitu ya, pemerasan," katanyaSelain itu juga ada uang bulanan Rp 100 ribu per bulan."Dia sempat bilang sesasi (sebulan) Rp 100 ribu, sehari berapa gitu," ujarnya.Terkait kasus ini, Petra sudah melapor ke kepolisian karena ada perusakan. Namun karena pelaku mengakui, disarankan untuk diselesaikan secara kekeluargaan."Cuma harapan saya kan tidak bukan dengan kasus saya toh, tidak berhenti di sini. Harus ada efek jera," katanya.Petra khawatir kasus serupa justru menimpa makam-makam lainnya."Karena juga yang lain juga kena tapi enggak tahu diurus apa ora (nggak) ya, saya enggak tahu. Bukan perusakan tapi makamnya dipakai keluarga lain," katanya.Sementara itu, informasi yang diterima Petra makam sudah diperbaiki."Katanya sudah diperbaiki. Tapi nggak tahu besok-besok," katanya.Petra bilang seharusnya jika memang ada pungutan harus ada regulasi dan dasar peraturannya. Selain itu harus jelas membayar ke mana, dengan besaran yang jelas."Dibikin sistem yang yang bagus. Ini kan enggak ada sama sekali. Yang ada terus ya itu tadi, pemerasan. Yang enggak dapet uang terus makamnya dirusak," katanya.