Wanita bergaun merah di tempat cuci. Gambar Pribadi.Dia seakan mengatakan agar aku tidak melupakan perjanjian kita. Jika aku tidak menunaikan janjiku padanya, dia akan melakukan lebih buruk dari pada ini. Itu terlihat dari sorot matanya yang tajam dan penuh ancaman meski hanya terlihat dari sudut jendela yang berembun.Aku bahkan tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Aku hanya mengikuti orangtuaku menghadiri pernikahan saudara jauh kami di pelosok desa yang baru pertama kali kudatangi. Bagaimana awalnya sampai ini bisa terjadi?Desa itu masih minim fasilitas khususnya untuk keperluan toilet. Tetapi untuk warga yang tinggal di daerah terbelakang, saudara jauhku ini termasuk paling maju di antara yang lain. Di rumah saudaraku ini sudah tersedia toilet yang cukup untuk mandi dan buang hajat. Sayangnya, saat aku dan keluarga yang lain datang, air di toilet ini sedang kering dan harus diperbaiki. Jadi alternatifnya adalah memakai toilet yang masih setengah jadi di rumah yang masih dalam tahap pembangunan awal, yang letaknya di belakang rumah utama dan harus melewati taman yang agak terbengkalai serta kebun kecil. Di sana lebih dekat kepada sumber mata air, jadi kami harus ke sana untuk keperluan toilet.H-1 sebelum akad. Jam 5 pada akhir hari, toilet di rumah utama sudah diperbaiki dan bisa dipakai. Saat giliranku untuk mandi, aku baru menyadari bahwa sabun cuci mukaku tertinggal di toilet rumah belakang. Aku harus mengambilnya tetapi semua sedang sibuk. Untuk mengambil sendirian, aku tidak berani karena harus melewati taman terbengkalai dan kebun yang sepi. Ditambah lagi, hari sudah semakin gelap. Tapi jika aku membiarkan diriku tidak mencuci muka dengan sabunku, jerawat pasti akan tumbuh di wajahku esok hari. Jadi, aku harus mengambilnya sebelum hari benar-benar menjadi gelap. Aku beruntung karena Nadiya, sepupuku sedang senggang dan bersedia menemaniku mengambil sabun cuci mukaku. Kami langsung bergerak setelah Nadiya menganggukkan kepalanya.Kami memasuki taman yang terbengkalai itu. Aku bisa melihatnya bahwa sebelum terbengkalai, taman itu sangat indah. Bunga-bunga yang mekar, air mancur di tengah kolam, jalan setapak berbatu dengan lampu taman yang didesain dengan cantik dan wahana bermain anak-anak seperti ayunan dan jungkat-jungkit. Semestinya ini menjadi daya tarik desa ini dan menjadi tempat wisata yang bisa menghasilkan keuntungan yang cukup untuk warga sekitar. Atau sekadar menjadi tempat bermain dan hiburan bagi warga sekitar. Intinya, seharusnya tempat ini ramai. Tetapi sekarang malah sangat sepi dan terasa horor. Saat memasuki kebun, terasa hawa aneh di dalamnya. Kebun itu terasa ramai, aman dan damai meski sebenarnya sangat sepi dan sunyi. Karena merasa aneh, itu membuat kebunnya menjadi menyeramkan pada akhirnya.Kami sampai di depan rumah yang baru memiliki kerangka bangunan yang baru ditanam di tanah. Aku merasa kesulitan untuk bernapas sejenak. Aku merasa gentar untuk masuk tetapi aku harus masuk. Di otakku seperti muncul pikiran bahwa di dalam sana aku dan Nadiya tidak sendirian. Di dalam sana juga ada seseorang. Dan memang terdengar suara banjuran air seperti saat kita menumpahkan air dalam ember untuk membasuh lantai. "Di dalam ada orang, Kak. Sepertinya ada bibi lagi bersih-bersih di kamar mandi." Aku melangkah masuk dan berjalan di atas rangka-rangka yang akan menjadi tembok nantinya. Itu kulakukan karena satu-satunya jalan yang tidak lengket dengan tanah hanya itu.Saat berada di depan tempat cuci dan kamar mandi, aku membeku karena melihat sosok wanita bergaun merah mencolok sedang berdiri di sana. Aku merasa seakan dunia berubah menjadi warna abu-abu dan hanya wanita bergaun merah itu saja yang berwarna. Wanita yang lebih muda daripada ibuku tetapi lebih tua daripada tante-tanteku. Aku hanya merasa seperti itu. Kulitnya putih. Rambutnya hitam dan tergerai sebahu. Gaunnya sebatas lututnya. Dia memakai lipstik merah yang sama mencoloknya dengan warna gaunnya. Aku hanya terdiam dengan mulut menganga. Dia wanita yang cantik tetapi menyeramkan. Dan aku merasa asing dengannya. Aku tahu bahwa aku tidak mudah mengingat wajah orang lain, tetapi aku yakin belum pernah melihat wajahnya di antara wajah-wajah saudaraku yang sudah kulihat sejak kemarin. Ah, tetapi bisa saja dia memang saudaraku yang belum pernah kulihat dari kemarin."Ada apa?!" tanyanya ketus sambil terus menyirami lantai seakan lantainya sangat kotor. Sepertinya dia tidak senang dengan kehadiran kami, dia terus mengerutkan dahinya. Sedikit firasatku mengatakan bahwa dia bukan manusia. Firasat seperti itu membuatku tidak bisa mengendalikan gerak tubuhku dan akan membahayakan aku dan Nadiya. Jadi aku berusaha untuk tetap berpikir seperti pikiran awalku."A-aku mau ngambil ini, Bi, hehe. Ketinggalan." aku mengambil sabun cuci mukaku yang berada di dekat kakinya dengan cepat. Aku berusaha bersikap normal seperti jika aku bersikap kepada saudara yang baru pertama kali aku jumpai."Oh, mau ambil itu. Ya sudah cepat pergi!" ucapnya masih dengan tingkat keketusan suara yang sama dan ekspresi yang sama."I-iya. Aku pulang sekarang, ya. Permisi." aku membalikkan badan dan berusaha berjalan dengan kecepatan normal. Sepertinya, Nadiya juga memikirkan hal yang sama denganku. Kami berjalan dengan menautkan kedua tangan kami dan berusaha untuk tetap tenang agar kami tidak ketahuan bahwa kami sudah mengetahui jika wanita itu bukanlah manusia. Aku bersumpah, jantungku berdebar dengan sangat kencang sehingga rasanya suara degupannya bisa terdengar oleh Nadiya. Tanganku sangat dingin dan hampir tidak bisa merasakan apapun. Napasku juga menjadi sulit. Aku ingin menangis."Tunggu, Amira." wanita itu memanggil namaku. Suaranya sangat halus dan kecil, seperti suara lemah yang memanggilku dari kejauhan. Terasa sangat samar tetapi aku yakin bahwa wanita itu benar-benar sedang memanggilku. Aku berpura-pura tidak mendengarnya. Aku mengisyaratkan kepada Nadiya untuk tidak berlari karena pasti akan dikejar juga. Berpura-pura saja tidak tau dan tidak takut, nanti wanita itu juga akan mengabaikan kami.Ssrrrttt.. ssrrtttt... sssrrttt... suara langkah dari belakang terdengar semakin jelas. Wanita itu melangkah dengan menyeret kakinya. Hanya selangkah lagi untuk berbelok ke arah pintu, Nadiya lari meninggalkan aku. Secara refleks, aku pun mengikutinya berlari. Sama sepertiku yang berlari mengejar jarak dengan Nadiya, wanita bergaun merah itu pun mengikutiku berlari, mengejar kami. Aku berlari tanpa memikirkan tanah yang kupijak, berlari sekuat tenaga sampai tidak memedulikan batu maupun kayu yang kuinjak. Bahkan aku tak memikirkan naik-turun landasan yang kulalui. Seakan terbang, aku berloncat dari dataran tinggi ke dataran rendah yang ada di kebun dan sebaliknya. Dan wanita itu... dia meloncat jauh dan terbang di belakangku dengan matanya yang semakin tajam memelototiku.Tiba-tiba saja aku sudah berada di taman. Di jalan samping taman itu, aku melihat ada angkot yang berjalan dengan pelan, dengan tanpa ada seorang pun yang duduk di dalamnya. Tidak juga di kursi supir. Tidak di belakangnya jika angkot itu sedang mogok dan didorong dari belakang. Angkot itu benar-benar kosong dan berjalan sendiri. Di tempat bermain anak-anak, aku melihat beberapa anak kecil bermain dengan serunya. Tetapi, mereka begitu samar seperti ditelan kabut. Aku menyadari dengan jelas situasinya, bahwa semua yang kulihat bukanlah benda nyata yang ada di dunia ini. Mereka semua adalah makhluk dan benda gaib yang tidak semestinya bisa manusia lihat. Aku terus berlari.Rumah saudaraku semakin dekat. Matahari sebentar lagi terbenam sepenuhnya. Hujan gerimis datang. Pamanku terlihat memarahi Nadiya yang sedang terengah-engah di depan pintu. Sepertinya dimarahi karena pulang terlambat saat hari menjelang malam. Aku berteriak mengisyaratkan agar paman dan Nadiya agar cepat masuk ke rumah dan menutup pintu saat aku sudah masuk demi menghindari wanita bergaun merah yang sedang mengejarku. Namun paman tak mengerti dan Nadiya terlihat biasa saja."AAAAKKK CEPAT TUTUP PINTU!!!" aku menabrak paman dan Nadiya lalu membanting pintu lalu menjatuhkan diri ke lantai lalu berbalik menghadap pintu, memastikan wanita itu tidak ikut masuk."Kamu itu kenapa, sih?" pamanku memelototiku dan sedikit membentakku, karena terkejut."A-aah, it-itu!" aku menunjuk ke arah pintu dan jendela. Tanganku gemetar hebat. "ada setan. Ada setan! Tadi, tad-tadi aku sama Nadiya-hah, hah," aku mencoba berbicara padahal napasku masih belum teratur karena berlari sejauh itu dengan kecepatan penuh sekaligus ketakutan karena dikejar makhluk gaib. "Setan! Hah-" BRUK! BRUK! BRUK!"HUA-AAAHHHH!!!" aku berteriak dan menutup telingaku. Meskipun terhalang pintu, aku bisa tahu jika itu suara dari wanita itu. Dia memukul-mukul pintu karena ingin masuk."PAMAN! ITU HANTU! TADI AKU SAMA NADIYA DIKEJAR HANTU WANITA BERGAUN MERAH! AAHEUPP-" aku menutup mulutku agar tidak teriak lebih banyak."Hantu apa? Itu suara petir! Pulangnya kelamaan, sih. Jadi aneh-aneh!""Bukan petir! Masa suara petir git-Nadiya! Tadi di rumah sana ada wanita bergaun merah, kan? Dia terbang mengejar kita!" aku meminta Nadiya untuk ikut bersaksi."Apa, sih? Aku gak lihat apa-apa, kok?""Terus kenapa kamu lari?""Hanya karena ingin. Apa lagi? Aku ingin cepat pulang.""Bohong!""Apa, sih?!" Nadiya bangkit dari lantai dan berjalan ke bagian dalam rumah."Amira. Sudah, mandi sana! Tidak ada apa-apa, kamu hanya halusinasi!" paman berjalan mengikuti Nadiya.Aku juga ingin percaya jika apa yang aku lihat hanya halusinasiku saja. Tapi terlalu nyata untuk dibilang halusinasi. Aku yakin Nadiya berbohong. Mungkin saja dia tidak ingin mengakui jika habis melihat bahkan dikejar hantu. Jika Ia menceritakan kejadian yang sebenarnya, itu hanya membuat eksistensi sang hantu semakin kuat dan membuat buruk suasana yang seharusnya bahagia ini. Tetapi untuk dikatakan pura-pura, Nadiya tidak gemetaran sama sekali. Dia benar-benar terlihat alami saat mengatakan apa yang dia katakan tadi. Apa benar aku hanya halusinasi-BRUK! BRUK! BRUK!"AAAK!!" suara itu muncul lagi. Lalu aku melihat telapak tangan yang pucat menempel di jendela. Aku menahan napasku secara tak sadar. Perlahan tangan itu bergeser dan muncullah wajah yang tadi kulihat, wajah sang wanita bergaun merah. Pucat, menatapku dengan tajam. Dia memukul-mukul pelan kaca jendelanya.Di luar sedang hujan deras. Di desa yang terpencil ini, suhu udara normal di siang hari saja sangat dingin rasanya. Ditambah saat sedang hujan dan itu di malam hari, dinginnya sangat parah. Dan bayangkan saat dirimu berada di situasi yang membuat suhu tubuhmu menurun tanpa bisa kau atur. Aku merasa tubuhku sangat dingin. Hujan di luar rumah, tetapi rasanya seperti aku sedang berada di dalamnya. Aku hanya bisa mendengar suara hujan yang sangat kencang di telingaku dan ketukan kaca jendela untuk beberapa saat.Aku menggigit punggung tanganku untuk meredam keinginanku untuk teriak. Aku terlalu lemas dan gemetar untuk berdiri dan berjalan, jadi aku merangkak menjauhi pintu dan ikut masuk ke bagian dalam rumah. Setelah mencuci tangan dan kaki, aku mencoba menenangkan diriku dengan ikut duduk bergabung dengan saudaraku yang lain di tengah rumah. Mencoba mengepak, melipat, membungkus barang seperti yang memang seharusnya dilakukan. Aku tidak mandi karena tidak ingin sendirian. Hanya gosok gigi dan mencuci wajah dengan air-sabun cuci wajahku terjatuh saat aku berlari, berganti baju dan tidur. Meskipun awalnya kesulitan, akhirnya aku tertidur.Jam setengah 4 aku dibangunkan oleh ibuku. Aku harus mandi. Sebelum mandi, aku harus membantu memasak air untuk diminum semua orang. Saat sedang mengisi air di keran wastafel di dekat pintu, aku merasa seperti diperhatikan dari suatu sudut. Saat itu, aku sedang terlupa tentang apa yang aku alami kemarin sore. Tetapi saat perasaan diperhatikan semakin kuat, aku teringat lagi. Rasanya semakin jelas, bahwa sesuatu yang sedang memperhatikan aku berasal dari jendela yang kemarin ditempeli wajah wanita bergaun merah itu. Aku ingin mengabaikan perasaan itu dan hanya melakukan tugasku kemudian mandi. Tetapi aku malah melihat ke arah jendela dan melihatnya. Wajah wanita bergaun merah itu masih di sana. Dengan ekspresi dan tatapan yang sama. Aku gemetar lagi tetapi kali ini aku tidak berniat untuk kabur. Aku harus berani dan menyelesaikan tugasku.Aku mendengar langkah kaki di belakangku. Aku berharap itu salah satu anggota keluargaku meskipun aku pesimis itu adalah manusia. Aku menaruh kedua tanganku di dada, memejamkan mata dan berdoa."UAAAAKKKK---hmph!" aku berteriak kecil dan terduduk di lantai saat ada yang menyentuh bahuku. Dia Teh Rara, adik dari saudaraku yang akan menikah hari ini sekaligus orang yang tinggal di rumah ini."Loh? Kenapa? Kamu dipanggil dari tadi gak nyahut, lho?""Teh..." aku lemas, tidak sanggup berbicara dan hanya menunduk sambil menunjuk ke arah jendela."Kenapa?" dia ikut melihat ke arah jendela."Di jendela," jawabku."Di jendela? Ohh itu? Udah biasa, itu" aku terkejut dengan pernyataan teh Rara. Berarti, dia memang bisa melihat apa yang kulihat? Dan artinya, wanita bergaun merah itu memang sudah biasa mengganggu warga desa? Atau aku salah paham?"Hah?" tanyaku tanda tidak memahami perkataannya."Hewan, kan? Udah biasa itu mah, monyet atau anjing hutan dateng. Babi juga sering muncul," jawab teh Rara. Apa? Hewan? Tapi yang kumaksud bukan-."Heup! Aku menutup mulutku karena terkejut. Wajah wanita itu berubah menjadi wajah hewan. Benar-benar hewan! Tetapi masalahnya adalah itu bukan hewan-hewan yang disebutkan oleh teh Rara! Bentuknya... bentuknya seperti mata gorila! Gorila yang sangat besar!Di salah satu sudut kaca jendela yang berembun, aku melihat mata yang sangat besar. Terlihat berwarna hitam seperti mata gorila dan sebesar telapak kaki laki-laki dewasa. Sangat mengerikan! Tatapan mata itu seperti mengancamku agar tidak melupakan perjanjianku dengannya. Jika aku tidak menunaikan janjiku padanya, dia akan melakukan hal yang lebih buruk dari pada ini. Tapi, perjanjian tentang apa dan kapan aku melakukannya?