Jakarta Concert Orchestra hadirkan Simfoni Untuk Bangsa 2026: Jejak Nada Dian HP di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Foto: Salsha Okta Fairuz/kumparanJakarta Concert Orchestra menghadirkan malam yang penuh nostalgia lewat Simfoni Untuk Bangsa 2026: Jejak Nada Dian HP di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Di bawah arahan konduktor Avip Priatna, konser ini menjadi penghormatan untuk Dian Hadipranowo atau Dian HP, komposer, arranger, sekaligus penata musik yang telah mewarnai perjalanan musik Indonesia selama puluhan tahun.Sejak komposisi pembuka DHP Overture dimainkan, suasana auditorium langsung terasa khidmat. Puluhan musisi orkestra membawa penonton menelusuri jejak karya Dian HP yang begitu luas, mulai dari lagu daerah, lagu anak, karya paduan suara, hingga soundtrack film dan teater musikal.Konser ini tidak hanya menyajikan musik, tetapi juga menghadirkan perjalanan panjang seorang komponis yang selama ini mungkin lebih sering dikenal lewat karya-karyanya daripada sosoknya. Nama Dian HP memang tidak selalu berada di depan panggung, tetapi sentuhannya hadir di berbagai medium: film, sinetron, televisi, hingga pertunjukan musikal.Jakarta Concert Orchestra hadirkan Simfoni Untuk Bangsa 2026: Jejak Nada Dian HP di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Foto: Salsha Okta Fairuz/kumparanSalah satu momen yang paling mencuri perhatian adalah ketika orkestra membawakan Aksi Kucing. Aransemen yang dimainkan terasa sangat teatrikal dan jenaka. Permainan ritme, dinamika, serta respons antarpemain membuat komposisi itu benar-benar menghadirkan karakter seekor kucing yang lincah, penasaran, dan penuh tingkah. Di antara rangkaian lagu yang dibawakan malam itu, Aksi Kucing menjadi salah satu penampilan yang paling terasa visual meski tanpa bantuan narasi atau dialog.Nuansa nostalgia semakin kuat saat lagu-lagu klasik Indonesia mulai dimainkan. Bubuy Bulan, Malin Kundang, Tak Tong-Tong, hingga Ayam Den Lapeh terdengar akrab di telinga banyak penonton. Aransemen orkestra memberi warna baru pada lagu-lagu yang telah lama hidup dalam ingatan kolektif masyarakat Indonesia, tanpa menghilangkan identitas aslinya.Jakarta Concert Orchestra hadirkan Simfoni Untuk Bangsa 2026: Jejak Nada Dian HP di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Foto: Salsha Okta Fairuz/kumparanBagian lain yang juga meninggalkan kesan adalah ketika karya-karya yang lekat dengan masa kecil dihadirkan ke atas panggung. Lagu-lagu seperti Di Stasiun/Kereta Apiku dan Aku Cinta Lagu Anak Indonesia dibawakan dengan iringan paduan suara anak, menghadirkan suasana yang hangat sekaligus mengingatkan pada era ketika lagu anak masih menjadi bagian penting dari keseharian.Konser kemudian bergerak menuju fase yang lebih emosional lewat karya-karya Dian HP di dunia film dan teater musikal. Ada Cinta dari film Love is Cinta, Senandung dari Balik Awan dari film Denias, Senandung di Atas Awan, hingga Tak Ingin Pisah dan Mengubah Nasib dari Gita Cinta The Musical memperlihatkan bagaimana Dian HP mampu berpindah dari satu dunia musikal ke dunia lainnya tanpa kehilangan karakter khasnya sebagai seorang komposer dan arranger.Jakarta Concert Orchestra hadirkan Simfoni Untuk Bangsa 2026: Jejak Nada Dian HP di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Foto: Salsha Okta Fairuz/kumparanDi bawah kepemimpinan Avip Priatna, Jakarta Concert Orchestra berhasil menjaga keseimbangan antara kemegahan orkestra dan kedekatan emosional lagu-lagu yang dimainkan. Paduan suara, section string, brass, hingga perkusi saling mengisi dengan rapi, membuat setiap karya terasa seperti memiliki ruangnya masing-masing.Jejak Nada Dian HP pada akhirnya bukan sekadar konser penghormatan, melainkan pengingat bahwa banyak lagu yang tumbuh bersama berbagai generasi Indonesia ternyata memiliki benang merah yang sama. Dari lagu daerah, lagu anak, hingga musik film dan teater, karya-karya Dian HP telah menjadi bagian dari lanskap musik Indonesia selama puluhan tahun.